Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Pengakuan Chika


__ADS_3

Dio dan Dinda tertegun mendengar perkataan Chika yang mengatakan kalau Ujang dibuang ke jurang.


Mereka sama sekali tidak menyangka dan Sempat berpikir bahwa Ujang adalah otak dibalik semua kejahatan yang terjadi pada keluarga Dio.


Tapi anehnya Kenapa hari ini Chika mengatakan kalau Ujang dibuang ke jurang? ini benar-benar membingungkan dan sulit untuk dipahami.


"Chika, nanti setelah sampai di rumah, Chika ceritakan pada Papa dan Mama soal kejadian saat Chika pulang sekolah waktu itu ya? Kenapa Chika sampai diculik orang!" kata Dinda.


Chika menganggukkan kepalanya, kemudian mereka segera naik kedalam mobil dan Dio langsung melajukan mobilnya itu keluar dari rumah sakit, dan langsung menuju ke rumahnya.


Dengan pikiran yang terus berkecamuk di otaknya, Dio benar-benar pusing, banyak hal yang harus dipecahkan, Di tambah lagi dengan pekerjaannya yang sedikit terbengkalai akhir-akhir ini.


Sekitar 30 menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di rumah kediaman mereka.


Semua nampak baik-baik saja, bang Jarwo membukakan gerbang sementara Mbak Yuyun tergopoh-gopoh menyambut Chika dan membawakan barang-barang dari rumah sakit, sementara Bu Lilis terlihat sibuk menata meja makan.


Tanpa menunggu lama, mereka kemudian langsung menuju ke ruang makan, dan duduk mengelilingi meja makan besar itu.


"Ayo Chika, makannya yang banyak! supaya jika kuat dan sehat lagi!" kata Bu Lilis.


Dinda mengambilkan piring makan untuk Chika dan Dio, kemudian setelah itu dia mulai menuangkan makanan ke atas piring mereka.


Chika kelihatan sangat lahap makan, mungkin karena dia pernah merasakan bagaimana rasanya kelaparan dan kehausan.


Setelah mereka selesai menikmati santap siang mereka, Dio dan Dinda kemudian mengajak Chika duduk di ruang keluarga, untuk menanyakan Perihal apa yang Chika alami.


"Nah Chika, sekarang Chika boleh ceritakan apa yang mau Chika ceritakan, Chika jangan takut, Chika sudah ada di rumah sekarang, Chika sudah aman, dan sudah ada Papa dan Mama yang menjaga jika!" ucap Dio.


"Waktu aku pulang sekolah sama Bang Ujang, tiba-tiba di tengah jalan, ada orang orang bertopeng yang cegat kita, terus mereka masuk ke mobil dan Bang Ujang langsung diikat, dan mulutnya ditutup pakai kain, terus mereka yang gantiin bawa mobil, tapi tidak menuju ke rumah, tapi menuju ke suatu tempat yang banyak semak-semaknya!" ungkap Chika.


"Oya? Apa Chika kenal siapa orang-orang itu?" tanya Dio.


"Aku tidak kenal! Mereka semua pakai topeng!" sahut Chika.

__ADS_1


"Lalu, apa yang mereka lakukan setelah itu?" tanya Dinda penasaran.


"Pas mobil lewat jembatan, mereka lalu berhenti dan buang Bang ujang dari atas jembatan besar, di bawahnya ada kali besar, kayak jurang, serem deh, mereka buanganya kepala Bang Ujang di tutup kayak topeng gitu! Aku teriak tapi aku malah di ikat juga dan mulutku di tutup pakai kain, untung aku tidak di buang ke jurang itu!" jawab Chika.


Untuk beberapa saat lamanya, mereka terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.


"Beberapa orang di antara mereka sudah di tangkap polisi Nak, semoga secepatnya kasus ini akan terungkap!" ucap Dio.


"Mereka jahat Pa! Mereka tidak memberikan aku makanan dan minuman!" lanjut Chika.


"Mereka sebentar lagi akan mendekam di penjara! Mereka harus membayar perbuatan mereka terhadapmu Chika!" gumam Dio.


"Mas, kira-kira siapa dalang di balik semuanya ini?" tanya Dinda.


"Tidak tau, besok aku harus ke kantor polisi, setidaknya ada dari komplikasi mereka yang tertangkap!" sahut Dio.


"Tapi katanya, mereka belum mau buka mulut!" kata Dinda.


"Akan ku buat mulutnya terbuka!" geram Dio.


"Ya, aku antar, tapi, bagaimana dengan Chika??" tanya Dio.


"Aku akan titipkan pada Ibu!" sahut Dinda.


"Din, sebaiknya aku saja yang pergi ke rumah sakit, kau di rumah saja bersama dengan Ibu dan Chika!" kata Dio.


Dinda nampak berpikir sejenak.


"Baiklah Mas, aku juga khawatir mengenai Chika, aku akan di rumah menjaganya, tolong temani Ayah sekarang, dia pasti membutuhkanmu!" ucap Keyla.


Dio menganggukan kepalanya, setelah itu dia kembali berangkat ke rumah sakit.


****

__ADS_1


Sementara itu, Di rumah sakit, Pak Dirja membawa beberapa makanan untuk Keyla, karena Keyla masih belum beranjak dari sisi Ken.


Pak Dirja kemudian masuk ke ruangan itu.


"Key, ini makanlah dulu, biar Ayah yang menunggui Ken!" kata Pak Dirja.


"Tapi ..."


"Paling tidak ini semi bayimu, dia butuh nutrisi!" lanjut Pak Dirja.


Keyla tidak bisa membantah lagi, Dia kemudian segera mengambil makanan yang ada di tangan Pak Dirja, kemudian beranjak keluar dari ruangan itu, dan duduk di depan ruangan untuk memakan makanannya.


Meskipun mulutnya terasa hambar, namun Keyla memaksakan diri untuk menyantap makanannya itu hingga habis.


Paling tidak dia harus memperhatikan bayi yang ada di dalam kandungannya itu.


Keyla harus memperhatikan dan memastikan kalau bayinya baik-baik saja demi Ken suaminya.


Seorang Dokter masuk ke ruang ICU, Keyla dengan cepat menghabiskan makanannya, setelah itu dia segera menyusul dokter itu masuk ke ruang UGD.


Sang Dokter nampak memeriksa kondisi Ken, setelah itu Dia mencatat sesuatu di sebuah berkas yang dipegangnya sejak tadi.


"Bagaiamana keadaan mantu saya Dokter?" tanya Pak Dirja.


"Walaupun dia masih belum sadar, namun kondisi tubuhnya mulai stabil, hanya saja benturan keras di kepalanya menyebabkan dia belum sadar juga, menurut hasil ct scan, ada sedikit cedera di otaknya!" jelas Dokter.


"Ya Tuhan, dia masih bisa hidup normal kan Dok?" tanya Keyla khawatir.


"Mudah-mudahan tidak ada efek samping yang lain, malam ini Ken sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan!" jawab Dokter.


"Trimakasih Dokter!" ucap Pak Dirja dan keyla bersamaan.


Kemudian Dokter segera berlalu keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Bersambung....


****


__ADS_2