
Dinda mulai membereskan kamar kosnya dulu yang kini terlihat berantakan dan sangat kotor akibat bekas banjir.
Sebenarnya Dio sangat ingin sekali menemani Dinda untuk membereskan pekerjaannya itu, namun Dinda melarangnya, Dinda tidak ingin Dio dan Chika terlalu dalam masuk ke dalam Kehidupan pribadinya.
Sejujurnya Dinda masih trauma dengan kisahnya masa lalunya.
Dulu Ken juga sangat memperlakukannya dengan baik, sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk menikah, dan merajut masa depan bersama, namun hanya karena satu kelemahan dalam diri Dinda membuat Ken mundur dan memilih Untuk membatalkan pernikahan itu.
Sesungguhnya rasa sakit itu masih ada dan membekas di dalam hati Dinda, untuk membuka kembali lembaran yang baru, Dinda Butuh Waktu.
"Din! Bu Nur tanyain tuh, kamu masih mau lanjut sewa kamar kos ini atau mau pindah?" tanya Asti yang tiba-tiba muncul di kamar Dinda itu.
"Aku tidak tahu As! Pak Dio sudah memberikan aku apartemen untuk ditempati, tapi aku takut!" sahut Dinda.
"Whatt?? Apartemen?! Gila kau Din, si duda ganteng itu kasih kamu tinggal di apartemen??" tanya Asti terkesiap.
"Jangan negatif thinking! Apartemen itu miliknya yang yang sudah lama kosong, dia menyuruhku tinggal di sana karena dia melihat tempat kost ini banjir, dia memang berlebihan!" sahut Dinda.
"Waduh! Itu mah lampu hijau namanya! Dia kelihatan serius sama kamu Din! kamu beruntung loh, anak-anak kos saja pada membicarakan dia saat beberapa kali dia datang kemari!" ujar Asti yang langsung duduk ditepi ranjang Dinda.
"Ah, aku bingung As!"
"Bingung kenapa? Ketimpa duren jatuh kok bingung!" cetus Asti.
"Beberapa kali dia memang mengatakan kalau dia ingin menjalin hubungan denganku ke jenjang yang lebih serius, tapi aku masih takut!" ungkap Dinda yang kini duduk disebelah Asti.
"Takut kenapa?? Duren lebih menantang lho!" goda Asti.
"Kau tahu kan, kalau belum lama ini aku baru gagal nikah! Aku masih trauma As! aku takut ..."
"Kalau pernikahanmu dengan dia gagal lagi??" potong Asti cepat.
Dinda menganggukan kepalanya.
"Dinda ... Dinda ... jangan kau samakan semua laki-laki itu seperti Ken! Menurutku Pak Dio itu baik dan dewasa lho! Seksi juga!" bisik Asti.
"Hush! Kamu nih!" sungut Dinda.
"Pokoknya kau harus jadi sama Pak Dio Din, karena aku ada misi khusus buat dia!"
"Misi khusus??"
"Ya, aku mau prospek dia, jadi nasabah asuransi! Aku mau dia jadi nasabah aku dengan premi yang tinggi, jadi aku bisa masuk jadi top agen deh!" seloroh Asti.
"Hmm, dasar kamu As!"
Bu Nur kemudian datang dan langsung masuk ke kamar kos Dinda yang terbuka lebar itu.
__ADS_1
"Din, kamu masih tinggal di sini kan?? Biar nanti baju-bajunya di laundry saja!" tanya Bu Nur.
"Iya Bu, maunya sih aku tinggal di sini, tapi..."
"Sebentar lagi Dinda mau jadi istri duda kaya Bu!" celetuk Asti.
Dinda mencubit pinggang Asti sehingga sahabatnya itu meringis kesakitan.
"Anu Din, sebenarnya ... Pak Dio itu sudah membayar uang sewa kos ini selama setahun!" ujar Bu Nur.
"Apa?? Beneran Bu? Kok Pak Dio tidak bilang apa-apa padaku!" tanya Dinda.
"Dia yang minta supaya aku merahasiakannya Din, tapi kan aku tidak enak kalau kau pindah, sementara sewa kamarnya sudah di bayar untuk setahun!" jawab Bu Nur.
"Gilee, beruntung banget kau Din!" seru Asti.
"Dasar singa! selalu melakukan apapun tanpa persetujuanku!" sungut Dinda.
****
Hingga malam datang menjelang, Dinda masih terus berkutat di kamar kosnya itu, dia membereskan buku-buku dan barang-barang yang sempat terkena banjir.
Drrrt... Drrrt ... Drrrt
Ponsel Dinda bergetar, dia mengambil ponselnya yang sejak tadi ada di atas meja kamar kosnya itu.
"Halo pak!"
"Sayang, kau masih di tempat kos mu kan? Aku sudah ada di teras depan!" sahut Dio.
"Lah, kok bapak tidak bilang kalau mau datang??"
"Ngapain bilang sama calon istri sendiri?!"
"Saya belum selesai Pak, rencana malam ini saya malah mau tidur di sini!" ujar Dinda.
"No! Kamu ke depan sekarang!" titah Dio.
"Hmm, juteknya kumat!" batin Dinda.
Kemudian Dinda langsung bergegas ke teras depan tempat kosnya itu.
Dio nampak duduk di kursi teras seorang diri.
Dinda lalu berjalan mendekatinya dan duduk di sebelahnya.
"Kemarin aku kan sudah bilang, jangan capek-capek mengurusi barang-barangmu itu, aku akan memberikannya yang baru!" kata Dio.
__ADS_1
"Tapi Pak ..."
"Sekarang ikut aku, aku akan mengantarmu pulang ke apartemen!" ujar Dio.
"Pak Dio apaan sih? Belum jadi suami sudah mengatur saya seenaknya!" sungut Dinda.
"Kau ini keras kepala sekali, ayo Din, kita pulang ke apartemen sekarang!" kata Dio lagi.
"Kalau saya tidak mau bagaimana Pak? Lagi pula bukankah Bapak sudah membayar kamar kos saya ini untuk setahun? Kan sayang kalau tidak di pergunakan!" bantah Dinda.
Dio terdiam, lalu menatap Dinda dengan tajam dan dalam.
"Lupakan uang itu, apa aku salah? Jika ingin memberikan yang terbaik untukmu??" tanya Dio.
"Tapi Pak, jangan berlebihan juga kali! Aku kan jadi risih! Lagi pula, aku masih belum siap untuk ..."
"Untuk menikah denganku maksudnya??"
Dinda menganggukan kepalanya.
"Aku tidak suka Pak Dio mengatur hidupku!" lanjut Dinda.
Dio menarik nafas panjang, ada rasa kecewa yang tersirat dari wajahnya.
"Dinda... kenapa saat aku mulai serius membuka hati, kau malah seolah mengulur dan tidak serius padaku, apakah aku tidak cukup pantas untukmu??" tanya Dio.
"Bukan begitu Pak, aku hanya butuh waktu sedikit bernapas, aku... aku ...masih takut dan trauma!" ucap Dinda.
"Bagaimana lagi aku harus meyakinkan kamu Din, bulan depan Chika ulang tahun, dan aku tidak ingin kembali mengecewakan dia!" ungkap Dio.
"Maafkan aku Pak ..."
"Aku sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik yang aku bisa, menyisihkan waktuku untukmu dan Chika, punya impian untuk merajut mimpi masa depan, apa itu belum cukup untuk meyakinkanmu?!"
Dinda terdiam, ada perasaan bersalah yang tiba-tiba muncul dalam dirinya.
"Bahkan tidak pernah ada ucapan kata cinta dari mulutmu Din, apa jangan-jangan, kau memang tidak pernah menaruh perasaan apapun padaku??" lanjut Dio.
Dinda terdiam, lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan sepatah kata, rasanya sangat sulit untuk mengungkapkan perasaan dalam hatinya lewat kata-kata.
"Oke, mungkin aku salah, selama ini terlalu banyak mengatur hidupmu, Baiklah, aku tidak akan memaksa lagi, kau boleh menginap di sini!" ucap Dio.
Dia kemudian langsung beranjak dari tempatnya dan melangkah menuju ke mobilnya yang terparkir.
"Pak Dio!"
Dinda berusaha menyusulnya, tapi Dio langsung mengendarai mobilnya itu dan pergi meninggalkan rumah kos itu.
__ADS_1