
Pak Dirja menatap lekat pada kedua putrinya yang kini nampak sedang berseteru di depan teras rumahnya.
Dia juga tidak pernah menyangka sebelumnya, kalau Dinda akan datang ke rumahnya.
"Dinda, kenapa kamu hanya di luar saja? Ayo masuk Nak!" ajak Pak Dirja.
"Untuk apa Ayah menyuruh anak pelakor itu masuk ke rumah kita? Nanti kita bisa kena sial Ayah!" cegah Keyla.
Plaaakk!!
Tiba-tiba Pak Dirja menampar pipi Keyla, hingga dia meringis kesakitan.
"Jaga ucapanmu Keyla, asal kau tau, Dinda itu tidak salah, Ayah yang salah, Ibunya juga tidak salah, Ayah yang telah memaksanya untuk berhubungan dengan Ayah!!" sengit Pak Dirja.
Keyla memegangi pipinya sambil menangis.
"Dulu Mamamu selalu menginjak-injak harga diri Ayah, hanya karena dia lebih berhasil dan mapan dari pada Ayah, dan kamu, bahkan masa kecilmu selalu di asuh oleh Ibu Lilis, Ibunya Dinda, bukan Mama kandungmu!" lanjut Pak Dirja.
Keyla diam saja sambil tetap menangis, hatinya sungguh sangat perih, dia sadar, sejak dulu Ayahnya dan Mamanya tidak pernah akur, mereka seringkali bertengkar, dan Keyla menyaksikan sendiri bagaimana Mamanya memperlakukan Ayahnya.
Tapi tetap saja, dia tidak ikhlas menerima kenyataan ini, hatinya benar-benar sakit san kini dia semakin membenci Dinda.
Tanpa menunggu lagi, Keyla segera berlari ke kamarnya, menumpahkan semua perasaannya di sana.
"Kalau begitu aku pamit pulang Ayah!" ucap Dinda ketika Keyla sudah tidak ada lagi di tempat itu.
"Kenapa buru-buru? Ini rumahmu juga Nak!" kata Pak Dirja.
"Tidak Ayah, Mbak Keyla yang saat ini paling membutuhkan Ayah, temani dia Ayah, Ayah jangan khawatirkan aku, aku sudah ada Mas Dio!" ucap Dinda.
"Yah, Baiklah, Ayah dengar besok kamu dan suamimu akan berangkat bulan madu ke Turki, jaga dirimu baik-baik, dan semoga kamu bahagia, Dio sudah membayar apa yang selama ini tidak pernah Ayah berikan padamu!" ungkap Pak Dirja.
"Ayah juga, jaga diri Ayah baik-baik, terutama kesehatan Ayah, aku pamit Ayah!" Dinda maju dan mencium tangan Pak Dirja, setelah itu dia melangkah meninggalkan rumah Pak Dirja menuju mobil Dio yang masih terparkir menunggunya.
Pak Dirja hanya bisa menatap kepergian Dinda sampai Dinda hilang di balik gerbang.
Ada penyesalan yang sangat dalam, di atas diri Pak Dirja.
"Ayo Mas, kita pulang sekarang!" kata Dinda pada saat masuk ke dalam mobil.
Dio lalu segera melajukan mobilnya itu meninggalkan rumah Pak Dirja.
"Sudah selesai urusannya?" tanya Dio.
__ADS_1
"Sudah Mas!"
"Baiklah, kita istirahat di rumah ya, siapkan diri untuk perjalanan besok, kamu jangan terlalu lelah dan banyak pikiran!" ucap Dio.
"Iya Mas!"
Drrt ... Drrrt... Drrrt
Tiba-tiba ponsel Dinda bergetar, Dinda langsung mengambil ponsel dari dalam tasnya itu.
"Ibu telepon Mas!" kata Dinda saat melihat layar ponselnya itu.
"Ya sudah, kamu angkat saja!"
Dinda lalu mengusap layar ponselnya itu.
"Halo, Ibu ... apa kabar Bu?" tanya Dinda.
"Din, Ibu pulang ke Bandung ya, kunci apartemen Ibu titip ke resepsionis di lobby bawah!" kata Bu Lilis.
"Apa? Tapi kenapa Bu? Apa Ibu kesepian?" tanya Dinda cemas.
"Bukan Nak, Ibu hanya rindu kampung halaman saja, lagi pula sudah lama Ibu tidak melihat sawah kita, kebun kita, tinggal di apartemen terlalu nyaman dan mewah buat Ibu!" ungkap Bu Lilis.
"Dinda, kamu dengar ya, Ibu sudah mengambil keputusan, Ibu menolak lamaran Ayahmu, Ibu punya alasan sendiri kenapa Ibu mengambil keputusan ini, dan Ibu mohon, jangan beritahu kita alamat kita yang di bandung pada Ayahmu!" jawab Bu Lilis.
"Tapi Ibu baik-baik saja kan?"
"Iya Nak, Ibu baik-baik saja, Ibu hanya belum siap dan masih perlu menata hati, kamu baik-baik di sana ya, dan selamat berbulan madu!" ucap Bu Lilis yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
Dinda menghela napas panjang, sambil menaruh kembali ponselnya di dalam tasnya.
"Ada apa sayang? Apa yang terjadi pada Ibu?" tanya Dio yang masih mengemudikan mobilnya itu.
"Ibu mau pulang kampung Mas, katanya kunci apartemen di titip di resepsionis lobby!" jawab Dinda.
"Ooh, jadi Ibu menolak ajakan Ayah Dirja untuk menikah?"
"Iya Mas, Ibu banyak pertimbangan, mungkin ini adalah keputusan yang terbaik!" ucap Dinda.
"Pasti Ayah Dirja sangat Kecewa, apalagi dia sangat mengharapkan saat ini Ibu jadi pendampingnya, sebagai mantan duda, aku merasakan apa yang Ayah Dirja rasakan!" ungkap Dio.
"Kenapa dari dulu Mas Dio tidak cari pendamping saja?" tanya Dinda.
__ADS_1
"Dulu aku malah tidak mau menikah lagi, sebelum ketemu sama kamu!" sahut Dio.
Dio terus melajukan mobilnya itu, hingga tak terasa mereka sudah sampai di rumah.
Pada saat Dio masuk ke dalam rumahnya, dia sedikit tertegun saat melihat ada motor yang terparkir di halaman rumahnya.
"Siapa yang datang Bang Jarwo??" tanya Dio.
"Itu Pak, temannya Ibu Dinda!" jawab Bang Jarwo.
Dinda dan Dio kemudian masuk ke dalam rumahnya itu.
Seorang wanita sudah duduk menunggu di ruang tamu.
"Asti!!" pekik Dinda saat melihat siapa tamunya itu.
Dia langsung memeluk sahabatnya itu.
"Aduh, maaf ya Din, gara-gara aku dapat reward jalan-jalan ke Hongkong, aku jadi tidak bisa datang ke acara pernikahanmu, selamat ya Din, akhirnya kami menikah juga!" ucap Asti.
"Trimakasih As, aku senang, akhirnya kamu bisa dapat reward juga!" sahut Dinda.
"Itu semua berkat Pak Dio yang mengambil banyak premi asuransi ku, aku langsung jadi top Agen terbaik dan langsung dapat reward deh!" ujar Asti senang.
"Hmm, pasti banyak dapat bonus nih, aku senang mendengarnya!" kata Dinda.
"Oya, sekarang aku tidak tinggal di rumah kos Bu Nur lagi, aku sekarang sudah sewa apartemen, yah walaupun kecil, tapi cukuplah untuk ukuran jomblo seperti aku!" ungkap Asti.
Dio yang merasa di cuekin karena Dinda mengobrol dengan sahabatnya, langsung ngeluyur masuk dan berjalan ke kamarnya.
"Aku ikut senang kalau kamu bisa berhasil di bisnis asuransimu As, sering-seringlah main ke sini, lagi pula aku tidak ada teman!" kata Dinda.
"Tidak ada teman kan ada suami, aku jadi iri deh, kapan aku menikah, pacar saja aku tak punya!" Keluh Asti.
Dinda tertawa melihat ekspresi Asti yang nampak frustasi karena dirinya masih jomblo.
"Sepetinya aku ada calon yang pas buatmu!" ujar Dinda tiba-tiba.
"Siapa Din, ayo kenalin, pokonya aku mau dia sebelas dua belas sama Pak Dio, kalau bisa yang ganteng dan kaya, tapi apa dia mau ya sama aku yang buluk ini!" ungkap Asti.
Dinda lagi-lagi tertawa mendengar celotehan Asti.
Bersambung ...
__ADS_1
*****