Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Sepenggal Masa Silam


__ADS_3

Dio melangkah kan kakinya menuju ke arah kolam ikan yang ada di taman rumah sakit itu.


Ada seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga tahun sedang bermain di pinggir kolam itu, karena khawatir Dio langsung mendekati anak itu dan mengangkatnya menjauhi kolam.


"Hei! Jangan bermain di sini, berbahaya, di mana Ibumu?" tanya Dio sambil mengusap anak itu.


Anak itu hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak menjawab apapun, sepertinya dia kesulitan bicara.


"Dio! Dio!! Diooo!"


Terdengar suara seorang wanita yang memanggil nama Dio.


Anak yang ada di tangan Dio langsung berlari ke arah suara itu, seorang wanita langsung menangkap anak itu dan menggendongnya.


"Kamu nakal sekali Dio! Kan Mama sudah bilang, jangan main jauh-jauh, nanti kalau kamu di culik bagaimana??" kata wanita itu.


Anak yang ada dalam gendongan itu kemdian menunjuk ke arah Dio.


Sejenak Dio tertegun saat melihat siapa wanita yang kini ada di hadapannya itu.


"Jessi??" tanya Dio yang nampak mengenal wanita itu.


"Eh, Dio? Apa kabar? Lama sekali kita tidak berjumpa, ternyata kamu ada di rumah sakit ini juga!" kata wanita yang di panggil Jessi itu.


"Aku, baik, ini anakmu? Namanya sama denganku, aku pikir tadi ada yang memanggilku!" kata Dio.


"Iya, ini anakku, saat ini dia sedang menjalani terapi bicara, karena dia sangat terlambat bicara, sudah tiga tahun namun belum ada kata yang bisa dia ucapkan!" jelas Jessi.


"Oh, aku turut prihatin, semoga dia lekas pulih!" ucap Dio.


"Kamu sendiri, kenapa ada di rumah sakit?" tanya Jessi.


"Istriku sakit!" sahut Dio singkat.


"Istri? Terakhir yang aku dengar, istrimu sudah meninggal!"


"Ya, Ranti memang sudah meninggal, aku menikah lagi!" kata Dio.


"Istrimu sakit apa?"


"Ada kista di rahimnya, sekarang dia sedang di operasi!" sahut Dio.


"Semoga operasinya berjalan lancar, aku belum lama pulang dari Kanada, setelah suamiku meninggal, ku pikir, di sana aku tidak punya siapapun, makanya aku dan anakku memutuskan untuk tinggal di Jakarta lagi!" jelas Jessi.


"Oooh, aku turut berdukacita!" ucap Dio.


"Terimakasih!"


"Kalau begitu, aku pamit, keluargaku sudah menunggu di depan ruang operasi!" kata Dio.

__ADS_1


"Dio, boleh kapan-kapan aku menjenguk istrimu??" tanya Jessi.


"Tentu saja, silahkan!"


Dio kemudian berjalan kembali ke depan ruang operasi, tiba-tiba terlintas di benaknya tentang sepenggal masa lalu nya yang terlupakan.


Jessica adalah teman Dio di masa SMU, karena kepintaran dan kecantikan Jessica membuat Dio pernah ada hati padanya, namun tidak pernah Dio mengungkapkan itu, karena Jessica dulu merupakan primadona di sekolah.


Hingga pada saat mereka lulus sekolah, Jessica kuliah di Kanada dan mereka sama sekali tidak pernah berkontak.


Dan selama itu, Dio tidak pernah memiliki perasaan apapun pada wanita, boleh di kata, Jessica adalah cinta pertama Dio.


Sampai pada akhirnya, pada saat Dio baru lulus kuliah, orang tua Dio menjodohkan Dio dengan Ranti, seorang Dokter muda yang cantik. Sebagai seorang anak yang penurut, Dio menyetujui saja perjodohan itu.


Hingga anak mereka lahir, entah mengapa Dio memberi nama putrinya itu Jessica, dengan nama panggilan Chika.


Dan hari ini, Dio juga heran, mengapa Jessica memberikan nama anaknya Dio, nama yang sama dengannya.


Dio berpikir mungkin ini hanya kebetulan saja.


"Dio, kamu dari mana saja? Dari tadi Chika menanyakan mu!" tanya Bu Lian membuyarkan lamunan Dio.


"Oh, maaf Bunda, tadi aku hanya jalan-jalan sebentar di taman rumah sakit!" jawab Dio.


Dio langsung mengambil Chika dari pangkuan Bu Lian.


"Chika, sabar ya, kan terserah Dokter, bisa cepat bisa lama, Chika sabar saja!" jawab Dio.


"Dio, Ayah pamit pulang ya, tadi Keyla menelepon, mengingatkan Ayah untuk minum obat!" kata Pak Dirja yang terlihat berdiri dari duduknya.


"Baik Ayah, terimakasih sidah menemani selama ini!" ucap Dio.


Setelah berpamitan dengan Pak Frans dan Bu Lian, Pak Dirja kemudian melangkah meninggalkan tempat itu.


"Yuyun! Kamu pulang ya, ajak Chika, kasihan dia kecapekan kalau terus di sini!" kata Bu Lian.


"Baik Nyonya!"


"Aku tidak mau pulang! Aku mau tunggu Mama!" seru Chika sambil mengeratkan pelukannya pada Dio.


"Chika, dengar Oma, Mama tidak apa-apa, Chika kan butuh istirahat, besok sekolah kan!" kata Bu Lian.


"Pokoknya tidak mau!" cetus Chika.


"Aduuh, ampun deh ini anak, keras kepala sekali!" sungut Bu Lian.


"Sudahlah Bunda, nanti aku akan membujuknya supaya Chika mau pulang, mungkin dia ingin melihat Mamanya sampai selesai di operasi!" kata Dio.


Tak lama pintu ruang operasi di buka, seorang Dokter dan seorang perawat keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Tanpa menunggu Dio langsung menghampiri Dokter itu sambil menggendong Chika.


"Bagaimana Dokter? Bagaimana kondisi istri saya?" tanya Dio tak sabar.


"Operasinya berhasil, namun Bu Dinda masih dalam pengaruh obat bius, setelah ini dia akan kembali di pindahkan ke ruangan perawatan!" jelas sang Dokter.


"Ah, syukurlah, terimakasih Dokter!" ucap Dio sambil menyalami tangan Dokter.


Tak lama kemudian, dua orang perawat nampak mendorong ranjang Dinda untuk di pindahkan ke ruang perawatan.


Dio dan yang lainnya lalu mengikuti sampai tiba di ruang perawatan.


Dinda masih nampak memejamkan matanya, mulutnya nampak bergetar, seperti orang yang kedinginan.


Dengan cepat Dio langsung mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Dinda, kemudian menyelimuti dan memeluknya.


"Maaf Pak Dio, jangan di peluk terlalu keras ya, jahitannya masih basah!" kata seorang suster saat melihat Dio yang langsung memeluk Dinda itu.


"Oh, maaf!" Dio langsung menguraikan pelukannya.


"Nah Chika, Mama kan sudah selesai operasi, sekarang Chika pulang ya, besok kita jenguk Mama lagi!" kata Bu Lian.


Chika akhirnya menganggukan kepalanya.


"Ayah, Bunda, kalian baru tiba dari Singapura, pasti sangat lelah dan butuh istirahat, sebaiknya kalian pulang saja, aku yang akan menjaga Dinda!" kata Dio.


"Baiklah Dio, yang penting kita semua sudah tau, istrimu baik-baik saja, hanya menunggu proses pemulihannya saja, kalau begitu Ayah dan Bunda pamit ya!" ucap Pak Frans.


"Iya Ayah, aku titip Chika ya!"


"Kamu jangan khawatir, tapi ingat, kalau butuh apa-apa kau harus menghubungi kami!" sahut Pak Frans.


"Iya Ayah!"


"Dio, selain menjaga Dinda, kamu juga harus memperhatikan kesehatanmu sendiri!" timpal Bu Lian.


"Baik Bunda!"


Mereka kemudian segera keluar dari ruangan itu dan pulang meninggalkan Dio yang masih duduk di samping Dinda.


Dio kemudian menggenggam jemari tangan Dinda hangat.


"Sayang, setelah ini, katakan padaku, apa yang kamu inginkan, kamu mau makan apa, mau beli apa? Atau ingin jalan-jalan kemana, aku akan memberikannya padamu!" bisik Dio di telinga Dinda.


Perlahan jemari tangan Dinda mulai bergerak-gerak.


Bersambung ...


*****

__ADS_1


__ADS_2