Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Keyla Mulai Kontraksi


__ADS_3

Dio membuka bagasi mobilnya, lalu menurunkan dua karung beras dan beberapa kebutuhan dapur, yang baru saja Dinda beli di toko sembako milik Bu Dita.


"Hari ini aku dapat bonus banyak, beli dua karung beras gratis dua liter minyak goreng, beli lima kilo gula, gratis mie instan satu dus!" kata Dinda riang.


"Ya ya, asal kamu puas dan senang, aku juga senang!" sahut Dio.


"Kapan-kapan kita belanja lagi di tokonya Bu Dita ya Mas, murah-murah di sana!" ujar Dinda sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Mbak Yuyun dan Mbak Sri, membantu Dio membawa belanjaan ke dalam.


"Mbak Yuyun, ini tolong Panaskan soto, setelah itu taruh di meja makan!" titah Dio sambil menyodorkan bungkusan soto itu ke arah Mbak Yuyun.


"Baik Pak!" sahut Mbak Yuyun.


Hari sudah gelap saat Dio dan Dinda sampai di rumah, Pak Frans dan Bu Lian nampak sudah duduk menunggu di ruang makan bersama dengan Chika.


"Kalian pulang malam sekali, ingat Dio, Dinda kan sedang hamil, pamali keluar malam-malam!" kata Bu Lian memperingatkan.


"Maafkan aku Bunda, tadi aku mampir dan mengobrol dulu dengan temanku di tokonya, saat belanja sembako!" jawab Dinda.


"Kalian bersihkan diri dan berganti lah pakaian, kami menunggu di sini, kita makan malam sama-sama!" kata Pak Frans.


Dio menganggukan kepalanya, setelah itu dia langsung menuntun Dinda naik ke atas menuju ke kamar mereka.


"Mas, aku capek Mas, mau langsung istirahat saja!" kata Dinda setelah selesai mandi dengan air hangat dan berganti pakaian.


"Ya sudah, kamu tidak usah turun, biar nanti aku bawakan makanannya ke atas saja, kamu istirahat saja sayang!" ucap Dio.


Dinda kemudian merebahkan tubuhnya yang lelah itu di atas tempat tidurnya, Dio lalu menyelimuti tubuh Dinda dan mengecup keningnya, setelah itu dia keluar dari kamarnya dan langsung turun bergabung makan malam bersama dengan orang tuanya juga Chika.


"Lho, Dinda mana Dio?" tanya Bu Lian.


"Dinda istirahat Bun, dia kelihatannya kecapean!" jawab Dio.


"Tuh kan, apa Bunda bilang, jangan lagi keluar sampai malam! Nanti kalau kandungannya kenapa-napa bagaimana!" kata Bu Lian.

__ADS_1


"Iya Bun, maaf, aku janji akan menjaga Dinda dan calon anakku, ini yang terakhir Bun!" ucap Dio.


"Sudahlah, lebih baik kita makan sekarang, setelah itu kamu antarkan makanan untuk istrimu!" ujar Pak Frans.


Mereka kemudian makan bersama di ruang makan itu.


Setelah selesai, Dio langsung menyiapkan makanan untuk Dinda, soto ayam yang Dinda inginkan tadi, juga jus buah dan makanan yang di masak Bu Lian.


"Dio, Besok antarkan Bunda ke toko perlengkapan bayi, Bunda mau beli kebutuhan calon bayi kamu!" kata Bu Lian.


"lho, Memangnya sudah boleh Bun?" tanya Dio.


"Ya sudah boleh dong, kan Dinda sudah tujuh bulanan kemarin, sekarang sudah diperbolehkan tuh beli perlengkapan apapun, Bunda pingin deh beliin cucu Bunda baju-baju yang lucu-lucu Apalagi kan cucu Bunda laki-laki, jadi Bunda ingin sekali membelikan baju yang lucu-lucu, pasti akan kelihatan ganteng deh nanti!" jawab bu Lian bersemangat.


"Baiklah Bun, besok aku akan antarkan Bunda sekalian aku juga ingin membeli perlengkapan lain untuk bayiku! Sekarang aku mau ke atas dulu Bun, Dinda pasti sudah lapar!" ucap Dio.


"Ya sudah sana, dari tadi kamu kemana saja, Seharusnya kamu kasih Dinda makanan dulu baru kamu makan!" sahut bu Lian.


Dio hanya tertawa sambil menggaruk kepalanya, kemudian dia segera membawa nampan yang berisi aneka makanan itu ke atas, ke kamarnya.


****


Beberapa kali dia membolak-balikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, rasanya perutnya sangat tidak nyaman sekali, apalagi kini dia mulai merasa mulas meskipun durasinya jarang.


Ken juga ikut-ikutan tidak bisa tidur, melihat kegelisahan istrinya yang posisinya selalu serba salah, Ken sudah berusaha membuat Keyla senyaman mungkin dengan mengganjal bantal kiri dan kanan, bahkan Ken juga seringkali memijat punggung Keyla supaya dirasa lebih nyaman dan rileks.


"Ken, perutku ini mulas tapi kok jarang-jarang ya, tapi sekalinya mulas itu datang yang sakit sekali! Aku jadi tidak bisa tidur ini, bagaimana kalau aku kurang tidur? Apakah aku punya tenaga untuk melahirkan nanti?" tanya Keyla dengan raut wajah khawatir.


"Kata dokter pikiran itu harus tenang Sayang, jangan terlalu khawatir untuk apa yang belum terjadi, lebih baik sekarang kamu Pejamkan matamu, aku akan mengusap punggungmu supaya kamu bisa tidur, besok pagi kita kembali ke rumah sakit!" jawab Ken.


Keyla menganggukan kepalanya, menuruti ucapan suaminya itu.


Dia kemudian berbaring miring sementara Ken terus memijiti punggungnya dengan tangannya.


Sebenarnya tangan ken juga pegal karena sedari tadi dia terus memijiti Keyla, namun dia berusaha untuk menahan nya supaya Keyla tidak terus-terusan gelisah dan khawatir, Ken berusaha untuk membuat Keyla senyaman mungkin.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, Ken yang kelihatan lelah kemudian mulai memejamkan matanya, ketiduran.


"Aduuuh!"


Tiba-tiba terdengar suara teriakan Keyla, yang membuatkan hampir melompat dari tempat tidurnya karena kaget.


"Ada apa Sayang? apa perutmu mulai sakit lagi?" tanya Ken panik.


"Perutku sakit Ken! Sakitnya semakin menjadi-jadi! Sekarang durasinya semakin cepat! Aku hitung setiap 10 menit sekali rasa sakit itu datang!" jawab keyla.


"Kalau begitu, kita ke rumah sakit sekarang, siapa tahu kamu akan melahirkan!" kata Ken yang langsung berdiri dan menyambar jaketnya, kemudian dia membantu Keyla untuk berdiri dari tempat tidurnya.


"Aduh Ken! perutku sakit sekali! sakitnya ampun-ampun Ken, Aduh! aku tidak kuat Ken, sekarang malah tambah sakit ini!" seru Keyla sambil memegangi perutnya yang sudah terlihat sangat buncit itu.


Tanpa banyak bertanya lagi, dengan Sigap Ken langsung mengangkat Keyla dalam gendongannya, kemudian membawanya keluar dari kamarnya menuruni tangga, lalu membaringkannya di sofa ruang keluarga.


Setelah itu dia mengetuk-ngetuk pintu kamar Pak Dirja dan Bu Lilis, berniat untuk memberitahukan mengenai kondisi Keyla saat ini.


Pak Dirja dan Bu Lilis yang sedang tidur dengan nyenyak nyenyak nya, sangat terkejut dan mereka langsung membuka pintu kamar mereka, mereka sedikit terperangah melihat Keyla yang meringis kesakitan, sambil memegangi perutnya, sementara Ken kini sudah berdiri di depan pintu kamar mereka.


"Ada apa Ken? Apakah Keyla sudah waktunya melahirkan?" tanya Bu Lilis.


"Iya Ayah, Ibu, aku mau ke rumah sakit sekarang, mau mengantarkan Keyla, aku pamit ya, nanti Ayah dan Ibu menyusul saja, kasihan dia sudah mulai kesakitan!" jawab Ken dengan wajahnya yang kelihatan cemas.


Tanpa menunggu jawaban dari ayah dan ibu mertuanya itu, Ken segera kembali mengangkat Keyla dan membawanya ke depan, menuju ke mobilnya, dan dengan cepat Ken langsung mengendarai mobilnya itu menuju ke rumah sakit.


Bersambung ...


****


Halo guys,


Sebagai pengganti cerita ini yang akan tamat di akhir bulan,


Author sudah menyiapkan kisah yang lain yang yang terinspirasi dari kisah nyata.

__ADS_1


Tidak seperti novel-novel yang biasanya dengan kehaluan yang tinggi, novel ini berbeda dengan yang lain, lebih menonjolkan realita yang terjadi.


Yuk dukung author terus ...😍🥰😇🤗


__ADS_2