Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Curhatan Hati Keyla


__ADS_3

Dio segera beranjak dari ruang makan untuk menjawab panggilan telepon dari Pak Dirja Ayah Keyla.


Dalam hati Dio bertanya-tanya, ada apa gerangan Pak Dirja Tiba-tiba saja meneleponnya, padahal tadi Keyla baru datang menemuinya.


"Halo Om, ada apa?" tanya Dio.


"Dio, apakah tadi Keyla datang ke tempatmu?" tanya Pak Dirja.


"Iya Om!" sahut Dio.


"Memang benar-benar tuh anak, sebelum dia datang, Om sudah larang dia untuk datang, karena Pak Frans menelepon katanya kau akan melamar calon istrimu itu, Keyla benar-benar membuat malu, sampai sekarang bahkan dia belum juga pulang ke rumah!" ungkap Pak Dirja.


"Oh, tidak apa-apa, saya maklum Om!"


"Dio, bagaimana ya? Om bingung, ponsel Keyla tidak bisa di hubungi, Om takut terjadi apa-apa pada Keyla, cuma dia anak Om satu-satunya!" lanjut Pak Dirja.


"Saya juga tidak tau Om, coba Om hubungi saja teman-teman Keyla, siapa tau ada yang tau di mana keberadaan keyla!" ujar Dio.


"Baiklah Dio, maafkan Key dan Om ya, walaupun kau akan menikahi wanita lain, Om harap hubungan kita tetap terjalin dengan baik!" ucap Pak Dirja.


"Pasti Om!"


"Terimakasih Dio!"


"Sama-sama Om!"


Dio segera kembali ke meja makan Setelah dia selesai menerima telepon dari Pak Dirja.


"Ada apa Mas?" tanya Dinda.


"Kata Ayahnya Keyla, sejak tadi Keyla belum pulang ke rumah, Ayahnya khawatir, dia pikir Keyla masih di sini!" jawab Dio.


"Duh, kasihan sekali Mbak Keyla, kalau aku di posisinya, aku pasti juga sedih mungkin!" ujar Keyla.


"Jangan terlalu gampang kasihan sama orang Din, tar kamu nyesel lho!" cetus Asti.


"Oya Bu, mengenai undangan pernikahan kami nanti, rencana saya akan membuat undangan online, yang akan di sebar melalui media sosial, sekarang kan sudah jaman digital!" ujar Dio.


"Benar Nak, tapi saudara-saudara kami di Bandung kan perlu undangan beneran, atau nanti Ibu cetak saja ya di percetakan!" kata Bu Lilis.


"Kalau begitu biar aku cetak besok Bu, Ibu tidak perlu melakukan apapun, pokoknya tinggal terima beres saja!" lanjut Dio.


Mereka terus mengobrol sampai tak terasa hari sudah jauh malam, mata Chika sudah terlihat merah karena menahan kantuk.

__ADS_1


Akhirnya Dio pamit pulang kerumahnya, dan Dinda mengantarkan Dio sampai ke lobby bawah.


"Sudah ya, Bu Dinda antar sampai sini saja!" kata Dinda sambil melepaskan tuntunan tangan Chika, saat sudah sampai di lobby.


"Iya, habis ini kau langsung masuk, dan jangan keluar lagi, bahaya!" sahut Dio.


"Bu Dinda kenapa tidak ikut pulang ke rumah?" tanya Chika.


"Belum boleh sayang, nanti ya sebentar lagi!" sahut Dinda.


"Chika pasti sudah tidak sabar ya, punya Mama baru!" goda Dio.


"Iyess!" sahut Chika.


"Tapi kalau Bu Dinda sudah jadi Mama Chika, jangan ganggu Papa sama Bu Dinda ya kalau lagi di kamar!" kata Dio.


"Memangnya ngapain di kamar? Kok tidak boleh ganggu??" tanya Chika.


"Karena mau membuat adonan adik buat Chika!" bisik Dio di telinga Chika.


Spontan Dinda langsung mencubit pinggang Dio, sehingga pria itu meringis kesakitan.


"Jangan bicara yang aneh-aneh sama anak kecil!" sengit Dinda.


****


Sementara itu di dalam sebuah klub malam, di meja yang terletak di paling sudut ruangan, yang terdengar hingar-bingar oleh suara musik, duduklah Keyla, dengan tatapan kosong sambil meneguk beberapa botol minuman keras.


Wanita itu terlihat begitu rapuh, seolah tidak ada lagi semangat hidup di dalam dirinya, Apalagi setelah dia mendapatkan penolakan dari Dio.


Harga dirinya jatuh sudah, dia bahkan sudah tidak lagi percaya akan dirinya sendiri, di menyalahkan dirinya sendiri, sehingga membuatnya begitu putus asa.


Beberapa orang laki-laki tampak mendekati Keyla, namun dia tidak menggubrisnya sama sekali.


Setelah menenggak beberapa botol minuman keras, Keyla mulai merasa pusing, kemudian dia berjalan sempoyongan, berniat akan pulang ke rumahnya, sementara hari sudah jauh malam.


kebetulan di klub malam itu juga ada Ken, ken membulatkan matanya saat melihat Keyla yang berjalan sempoyongan menuju ke pintu keluar.


Ken kemudian mengikutinya dari belakang, dia heran melihat kondisi yang seperti itu, biasanya Keyla sangat tidak suka pergi ke club malam, namun malam ini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Keyla mabuk dan terlihat sangat kasihan.


Ken terus mengikutinya sampai ke parkiran, namun baru saja Keyla hendak membuka pintu mobilnya, tiba-tiba saja dia ambruk jatuh ke tanah.


Tanpa menunggu, Ken segera berlari menghampiri Keyla.

__ADS_1


"Mbak Key! Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau sampai seperti ini??" tanya Ken.


"Kenapa kau menolongku Ken? Biarkan aku mati saja, tidak ada yang perduli juga padaku!" gumam Keyla, tercium aroma minuman keras dari dalam mulutnya.


"Siapa bilang! Ayahmu perduli kok padamu, dia pasti sangat mengkhawatirkan Mbak Key, ayo aku antar pulang Mbak!" tawar Ken.


"Jangan!"


"Kenapa??"


"Aku tidak mau membuat Ayah sedih melihat ku begini, sudah sana kau pergi saja! biarkan aku sendiri!" cetus Keyla.


"Mana bisa begitu? Kita kan teman sudah lama Mbak, kalau kau tak mau pulang, lalu kau mau kemana??" tanya Ken.


Keyla tidak menjawab lagi, matanya kelihatan sangat merah, kelihatannya dia mabuk berat, tiba-tiba saja dia tertidur begitu saja.


Ken kemudian membuka pintu mobil Keyla dan mengangkat Keyla dalam mobilnya itu, lalu membaringkannya di jok Tengah.


Setelah itu dia mengambil kunci mobil yang ada di tangan Keyla dan langsung mengendarai mobil itu menuju ke ke rumah Ken.


Rumah Ken terlihat sangat sepi, dia memang terbiasa hidup dalam kesendirian, kedua orang tuanya berada di luar negeri dan hanya sesekali pulang ke Indonesia.


Itu lah yang menyebabkan Ken terlihat kurang kasih sayang orang tuanya, walaupun hartanya banyak melimpah, namun dia kurang mendapatkan perhatian, apalagi kasih sayang, orang tuanya sibuk dengan bisnis mereka.


Ken kemudian mengangkat tubuh Keyla, masuk ke dalam sebuah kamar tamu, lalu membaringkannya di sana.


"Kasihan banget kamu Mbak, selalu deh, kalau begini pasti habis di tolak cowok!" gumam Ken sambil menyelimuti tubuh Keyla.


Baru saja Ken akan beranjak pergi, tiba-tiba Keyla terbangun dan langsung memeluk Ken.


"Jangan tinggalkan aku, aku butuh seseorang yang bisa mendengarkan aku, sebentar saja!" bisik Keyla.


Ken hanya bisa terpaku dan tertegun mendengar ucapan Keyla, yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri.


Bersambung....


****


Hai guys..


Di sini Author nya jarang promo ya, jika berkenan berikan jempol dan komentar, juga vote ya ...


Trimakasih 😀😁🥰

__ADS_1


__ADS_2