Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Perut Keram


__ADS_3

Setelah beberapa waktu lamanya Ratih di rumah sakit, karena luka yang ada di kepalanya akibat dipukul oleh Dio.


Kini dia mendekam di penjara, bersama dengan Suster Anna dan juga Asti, melalui Ratih, Dio mendapatkan alamat saudaranya dari mendiang istrinya di Papua.


Siang ini mereka sudah sampai di Papua, Dio langsung mencari hotel yang ada di sekitar bandara, untuk tempat mereka tinggal sementara, sebelum mereka pergi lagi ke alamat saudara mendiang istrinya itu.


Setelah mereka sudah menemukan hotel yang terdekat dan terbaik, Mereka kemudian beristirahat di hotel itu untuk melepaskan rasa lelah mereka dalam perjalanan.


Chika yang memang sudah terlihat lelah kelihatan sudah tertidur, sementara Dinda juga membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur di hotel itu, seharian ini dia menahan rasa mual sehingga wajahnya kelihatan pucat.


"Maafkan aku Dinda, kamu sedang hamil muda begini, seharusnya tidak melakukan perjalanan jauh!" ucap Dio sambil memijiti kaki Dinda.


"Tidak Mas, aku memang mau ikut, lagi pula aku hanya mual sedikit, paling sebentar lagi juga hilang mualnya!" sahut Dinda.


"Kalau tidak begini saja sayang, biar aku dan Chika yang akan mencari alamat itu, paling kita tidak akan lama, hanya berkunjung sebentar, kamu istirahat saja dulu di hotel nanti setelah aku dan Chika selesai, aku langsung balik ke hotel!" usul Dio.


"Tapi Mas, masa aku sendirian di hotel, aku kan bosan!"


"Kenapa kau harus bosan sayang? Di sini ada televisi, kamu bisa menonton sepuasmu, kalau kau bosan, kamu bisa menjelajah internet mencari tahu seluk beluk kehamilan dan tumbuh kembang janin, banyak hal yang bisa kamu pelajari, lagi pula aku tidak ingin kau bertambah lelah karena perjalanan yang akan ditempuh nanti cukup melelahkan kan!" ujar Dio.


Akhirnya dia menganggukkan kepalanya Sebenarnya dia sangat ingin sekali ikut Dio pergi ke rumah saudara mantan mendiang istrinya itu, tapi mungkin lebih baik dia patuh pada anjuran Dio, demi keselamatan dia juga bayinya, berada di dalam hotel dan beristirahat banyak itu jauh lebih aman daripada dia ikut menempuh perjalanan bersama Dio dan Chika.


"Lalu, kapan Mas Dio dan Chika akan menempuh perjalanan ke rumah keluarga dari mendiang istrimu itu?" tanya Dinda.

__ADS_1


"Besok pagi-pagi, malam ini aku ingin mengajakmu dan Chika makan di restoran enak yang ada di dekat sini, sekarang lebih baik kita iatirahat, ayo pejamkan matamu!" ucap Dio.


Dinda kemudian mulai memejamkan matanya, walaupun sebenarnya dia tidak mengantuk dan sangat sulit untuk memejamkan matanya itu.


Entah mengapa di daerah ini dia merasa begitu asing, seumur hidup dia baru sekali pergi ke Papua, dan sebenarnya dalam hatinya Dinda tidak ingin besok Dio dan Chika pergi sementara Dinda tetap tinggal di dalam hotel, tapi sebagai seorang istri, Dinda hanya bisa patuh dan menuruti anjuran suaminya itu.


****


Sore itu itu di rumahnya Keyla nampak bersiap-siap menata makanan yang baru matang dimasak, diatas meja makan untuk makan malam nanti.


Karena terlalu semangat membantu Bi Titi memasak, Keyla kelihatan lelah dan tiba-tiba perutnya terasa keram.


"Aduh!" jerit Keyla sambil memegangi perutnya yang kini sudah kelihatan membukit itu.


"Ada apa Mbak Keyla??" tanya Bi Titi cemas.


"Perutku sakit bi, tiba-tiba rasanya seperti ketarik gitu, seperti orang yang sedang keram!" kata kelak dengan wajah yang meringis menahan nyeri di perutnya.


"Waduuh, kalau begitu saya panggilkan Bu Lilis ya, Mungkin dia tahu apa yang menyebabkan perut mbak Keyla jadi sakit begini!" ujar bi Titi.


Tanpa menunggu persetujuan dari Keyla, Bi Titi langsung bergegas Pergi menuju ke arah depan, Bu Lilis nampak sedang menyiram tanaman yang ada di taman rumah Pak Dirja itu.


"Bu Lilis!" Panggil Bi Titi.

__ADS_1


Bu Lilis yang sedang menyiram tanaman langsung mematikan kerannya dan meletakkannya lalu berjalan ke arah Bi Titi yang memanggilnya.


"Ada apa sih, Kok teriak-teriak begitu memanggilnya?!" tanya Bu Lilis.


"Itu loh bu, Mbak Keyla perutnya sakit! Katanya sih keram, Ibu bisa lihat tidak, saya takut Bu mukanya kelihatan pucat deh!" jawab Bi Titi.


Tanpa bertanya lagi, bu Lilis dengan cepat kemudian melangkah masuk kedalam rumah itu untuk melihat kondisi Keyla.


Keyla masih terlihat duduk bersandar di kursi ruang makan itu, sambil mengelus-elus perut nya.


"Ada apa Keyla? perutmu kenapa?" tanya Bu Lilis khawatir.


"Tidak tahu ini Bu! Tadi tiba-tiba waktu aku berdiri, sedang menata meja makan, perutku seperti ketarik, rasanya seperti keram dan sekarang malah jadi keras begini seperti tegang!" jawab Keyla sambil terus memegangi perutnya.


Bu Lilis kemudian langsung memegangi perut Keyla yang sudah kelihatan membesar itu.


Dengan lembut dan perlahan, dia mengusap-usap perut itu.


"Oh, Kalau orang sedang hamil memang biasa seperti ini, kadang-kadang suka tegang, dia mengeras tapi kemudian berubah lagi, Kamu jangan khawatir, lebih baik sekarang di ajak baringan saja supaya lebih rileks!" kata Bu Lilis.


"Iya Bu! Aku baringan di sofa saja!"


Kemudian Keyla dibantu oleh Bu Lilis dan dan Bi Titi berjalan ke arah sofa, dan kemudian Keyla berbaring di atas sofa yang empuk itu, sambil menunggu Ken, suaminya itu pulang.

__ADS_1


Bersambung....


*****


__ADS_2