
Hari ini Dio di bantu Chika mendekor kamar bayi yang ada di sebelah kamar Dio.
Tadinya kamar itu adalah kamar Chika, Namun karena Chika sering terburu-buru kalau berangkat sekolah, akhirnya kamar Chika pindah ke lantai satu di bawah.
Dan sementara kamar yang di atas sekarang di dekorasi menjadi kamar bayi yang akan lahir nanti, sebentar lagi.
"Papa, kenapa sih semua warna yang ada di kamar ini berubah jadi biru, itu ada awan yang biru, terus tempat tidur bayi nya juga biru, dan semua gorden dan stiker temboknya juga warna biru!" tanya Chika.
"Karena adik Chika yang akan lahir nanti kan laki-laki, jadi nuansanya warna biru dong, kalau pakai warna pink nanti jadi kayak cewek dong!" jawab Dio sambil terus memasang wallpaper di tembok itu, hingga kini nuansa kamar itu begitu teduh dan indah.
"Papa, nanti kalau Adik bayinya sudah lahir, aku bobo di sini ya temenin adik bayi, nanti kalau adik bayi bangun, aku bangunin Mama deh buat kasih susu!" kata Chika yang kini sedang merangkai mainan untuk dipasang di tempat tidur bayi itu.
"Boleh kok, sesekali Kakak Chika boleh menemani disini, tapi jangan tiap hari ya, nanti kakak Chika bisa terlambat sekolah deh, kan adik bayi sudah ada yang menjaga, sudah ada papa mama yang selalu menjaganya!" sahut Dio.
"Oke deh! aku jadi tidak sabar menunggu adik bayi cepat lahir, nanti aku pasti akan menjadi orang yang paling senang kalau dedek bayi lahir, aku akan bilang pada semua teman-temanku kalau aku punya adik yang lucu dan menggemaskan!" celoteh Chika sambil terus asyik mencoba merangkai mainan-mainan bayi itu.
Ceklek!
Tiba-tiba Dinda masuk ke dalam kamar itu sambil membawakan minuman dingin untuk Dio dan Chika, kemudian dia duduk di karpet kamar itu, Dinda tersenyum melihat kamar yang sudah didekorasi sedemikian rupa, kini menjadi kamar bayi laki-laki yang sangat indah dan dan bagus, dengan nuansa awan dan langit, juga karakter-karakter lucu yang menghiasi kamar itu.
"Bagaimana Mama Dinda? sudah bagus atau belum nih kamar si Dedek?" tanya Dio.
__ADS_1
"Wah bagus sekali, nanti kalau Dedek lahir pasti dia senang sekali melihat kamarnya sebagus ini, siapa dulu dong yang dekorasi, Papa Dio dan kakak Chika!" sahut Dinda.
"Iya dong, semuanya ini kan aku yang pasang-pasang, dibantu papa, nanti kalau Dedek lahir, Mama bilang ya kalau semuanya ini kakak Chika yang buat!" Celoteh Chika dengan bangganya
Dinda tersenyum sambil membelai lembut rambut Chika yang sedikit berantakan terkena angin dari arah jendela kamar itu.
"Dedek bayi pasti akan sangat bangga sekali dengan kakak Chika, yang selalu sayang dan perhatian padanya, nanti Mama akan katakan pada Dedek bayi, Kalau Kakak Chika yang merancang semuanya ini buat dia, dan dia harus berterima kasih sama kakak Chika!" ucap Dinda.
Chika tersenyum senang, kemudian dia kembali dengan bersemangat menyusun mainan-mainan bayi itu ke dalam sebuah lemari mini, yang ada di kamar itu.
Sementara Dio dan Dinda memandangnya Sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya melihat kepolosan tingkah Chika.
"Makan siang sudah siap lho dibawah, kita turun yuk, Ayah dan Bunda sudah menunggu di bawah!" kata Dinda.
****
Sementara itu di tempat kediamannya, Keyla masih berusaha menyusui bayinya itu, meskipun kadang bayi itu menangis karena tidak sabar untuk menyusu, air susu keyla tidak banyak, sehingga membuat bayi Kirana tidak sabar dan seringkali menangis.
"Pap, sana pergi ke minimarket gih, tolong belikan susu formula untuk Kirana, aku benar-benar lelah dan tidak sanggup kalau harus menyusuinya setiap jam!" kata Keyla pada Ken yang nampak sedang mengelus-elus bayi Kirana yang baru menyusu itu.
"Apa? Beli susu formula? kan dokter sudah menyarankan, kalau anak kita debih baik diberi ASI saja, itu kan lebih sehat, apalagi kau sama sekali tidak bermasalah mengenai air susu!" sahut Ken.
__ADS_1
"Tapi aku capek, tidur malamku jadi terganggu dan aku sangat kurang tidur, apalagi lagi dia yang selalu ingin menyusu membuat tubuhku seperti remuk redam!" ungkap keyla.
"Kamu Jangan takut sayang, aku kan selalu menemani kamu, sini mana yang capek biar aku pijitin, kamu tenang saja, biar begini aku juga pandai memijit istriku sendiri!" ucap Ken yang kemudian langsung memijiti punggung Keyla dari belakang.
"Terima kasih ya Pap, lama-lama aku semakin nyaman berada bersama denganmu!" ucap Keyla.
"Sebenarnya dari dulu juga kamu nyaman Sayang, cuma kamu baru mengakuinya sekarang, aku tahu kok kalau kamu itu gengsi orangnya!" sahut Ken.
"Sembarangan!"
"Lho, masih tidak mau mengakuinya juga!"
"Sudah Pap! Kamu ini selalu membuat orang keki!" sungut Keyla.
"Ya ya, aku diam!"
Keyla kemudian mulai membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya itu, setelah rasa letih yang menderanya, Bayi Kirana juga sudah nampak mengantuk.
Keyla kemudian membaringkan bayinya itu di sebelahnya, sementara Ken kini mulai memijiti kaki Keyla, sehingga membuat istrinya itu merasa nyaman berada bersama dengan Ayah dari putrinya itu.
Bersambung ...
__ADS_1
****