
Dinda sedikit tertegun, tidak berani menebak atau menduga apapun, benarkah Keyla hamil? Kalau benar, siapa Ayah bayi yang di kandung keyla itu.
Dinda mendadak tergugu tanpa mampu mengucap kata apapun, dia sangat takut, sedikit ucapannya bisa menyinggung hati Keyla.
"Kenapa kamu masih di sini? Keluarlah dari kamarku!" hardik Keyla sekali lagi.
Dinda tersentak dari lamunannya, kalau dia saat ini keluar begitu saja dari kamar kakaknya ini, pasti akan banyak pikiran yang berkecamuk.
"Mbak ..."
"Apa lagi??"
"A-apa Mbak Keyla hamil?" tanya Dinda memberanikan diri.
Keyla langsung menoleh kebelakang ke arah Dinda, secepat kilat Keyla bangkit dan mengambil alat tes kehamilan yang ada di tempat tidurnya itu.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Keyla melotot.
"Alat tes kehamilan dengan dua garis merah!" jawab Dinda.
Keyla menghempaskan tubuhnya dan duduk di tempat tidurnya itu.
"Jangan bilang pada Ayah!" ujar Keyla.
"Jadi benar? Kenapa bisa sampai begitu Mbak? Mbak Keyla melakukannya pada siapa?" tanya Dinda.
Keyla menarik nafas panjang, setelah itu dia menangis. Tidak dapat lagi dia membendung perasaannya itu.
Perlahan Dinda mendekati Keyla dan duduk di sampingnya, mengusap bahunya berusaha untuk menenangkannya.
"Berjanjilah kamu tidak bilang pada Ayah, aku tidak ingin menghancurkan hatinya!" isak Keyla.
"Iya Mbak, aku janji tidak akan bilang pada Ayah, tapi siapa yang sudah membuat Mbak Keyla hamil?" tanya Dinda.
"Ken!" sahut Keyla singkat, dia kembali menangis.
"Apa? Ken? Kok bisa Mbak?! Kurang ajar Ken! Dasar laki-laki brengsek!!" maki Dinda emosi.
"Dinda, sekarang kamu keluarlah dari kamarku, aku mohon, aku butuh sendiri saat ini!" ucap Keyla, kini nada suaranya sudah mulai melembut.
"Baiklah Mbak, tapi ... apa yang akan Mbak Keyla lakukan selanjutnya? Tidak mungkin kan bayi itu lahir tanpa seorang Ayah?" tanya Dinda.
"Aku tidak tau Din, pikiranku sedang kusut, pokoknya aku minta padamu, jangan kamu katakan pada Ayah mengenai ini, biarlah ini jadi rahasia kita berdua saja!" jawab Keyla.
"Baik Mbak, nanti kita sama-sama pikirkan jalan keluarnya!" kata Dinda.
Tiba-tiba Keyla memeluk Dinda, ini adalah pelukan pertama sejak mereka saling mengenal.
Dinda mengelus lembut punggung kakaknya itu, mencoba menyelami dan merasakan apa yang kini Keyla rasakan.
__ADS_1
Ada hati yang menghangat diantara mereka berdua, yang memiliki hubungan sedarah, dan kini baru mereka rasakan.
"Aku pamit pulang Mbak, kalau kamu butuh apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungiku!" kata Dinda.
"Terimakasih!" ucap Keyla.
Dinda tersenyum, ini adalah ucapan trimakasih Keyla yang pertama dan terdengar begitu tulus.
Kemudian Dinda segera keluar dari kamar Keyla, dan kembali duduk bergabung dengan Pak Dirja dan Dio di ruang keluarga itu.
"Mama lama sekali! Aku kan ingin pulang!" cetus Chika cemberut.
"Maaf sayang, Mama baru selesai, kita pulang sekarang ya!" ucap Dinda yang langsung memangku dan mengelus rambut Chika.
"Ayah, kami pamit pulang ya, Mbak Keyla tidak apa-apa, dia hanya butuh makanan sehat dan vitamin saja!" kata Dinda.
"Benarkah? Ayah sudah takut kalau dia sakit serius, kalau begini kan Ayah jadi tenang!" ujar Pak Dirja.
"Pokoknya Ayah jangan khawatir, Mbak keyla akan baik-baik saja!" ucap Dinda yang kini langsung berdiri dan mulai menuntun Chika keluar dari rumah itu, Di ikuti oleh Dio.
Dio kemudian mulai masuk dan menyalakan mesin mobilnya, setelah berpamitan, mereka kemudian segera pulang kembali ke rumah.
Sepanjang perjalanan, Dinda terlihat diam saja, tidak banyak bicara, dia terus memikirkan keyla dan kondisinya saat ini.
Dinda sama sekali tidak menyangka, kalau Ken akan sebejat itu terhadap keyla, yang bahkan sudah seperti sahabatnya sendiri itu.
"Tidak apa-apa Mas, aku hanya lelah!" jawab Dinda.
"Oke, setelah ini kita pulang dan langsung istirahat ya!" ucap Dio. Dinda menganggukan kepalanya.
Setelah mereka sampai di rumah, Mbak Yuyun langsung membantu Chika membawakan tas sekolahnya, lalu membantunya mengganti pakaian di dalam kamarnya.
Mereka langsung berjalan masuk ke dalam, Pak Frans dan Bu Lian nampak duduk di ruang keluarga.
"Kalian dari mana saja? Lama sekali!" tanya Bu Lian.
"Maaf Bunda, tadi kami mampir sebentar ke rumah Ayah Dirja!" jawab Dio.
"Sekarang kalian makanlah, Bunda sudah sejak tadi menyiapkan makanan untuk kalian!" kata Bu Lian.
Dinda dan Dio langsung melangkah ke meja makan, untuk menyenangkan hati Bundanya yang sudah susah payah menyiapkan makanan.
"Bunda, ini kenapa menunya sayur tauge, kacang panjang dan bubur kacang hijau?" tanya Dio bingung.
"Makan saja yang banyak, itu bagus untuk kesuburan kalian berdua, supaya Bunda cepat punya cucu lagi!" jawab Bu Lian.
Akhirnya mau tidak mau Dio dan Dinda menyantap menu makanan yang ada di meja makan itu.
Setelah mereka selesai makan, Dinda dan Dio langsung menuju ke kamar mereka untuk beristirahat.
__ADS_1
"Sayang, lagi capek tidak?" tanya dio yang sudah berbaring di tempat tidurnya.
"Lumayan, memangnya kenapa Mas?" tanya Dinda balik.
"Lagi pengen, yuk!" ajak Dio dengan senyum yang menyeringai nakal.
"Sekarang?"
"Ya iyalah, masa tahun depan!" sahut Dio.
Dinda nampak berpikir sejenak, kemudian dia menganggukan kepalanya.
"Tapi ganti posisi ya Mas, aku di atas sekarang!" kata Dinda.
"Oh yess! Istriku makin pintar saja!" Dio tersenyum senang.
Tanpa menunggu lama, Dinda langsung memainkan aksinya, dia membuka seluruh pakaian Dio hingga polos, dan mulai memainkan juniornya sehingga Dio nampak menahan nafasnya.
Setelah cukup pemanasan, Dinda kemudian mulai bermain-main di atas Dio, hingga Dio merem melek merasakan sensasi yang Dinda berikan.
"Kau mulai pintar, belajar di mana sih?" tanya Dio setengah berbisik.
"Mas Dio gurunya, aku hanya mengulang saja!" jawab Dinda.
"Ah, kalau begini terus, aku jadi betah di rumah, apalagi seharian tiga kali! Masing-masing dua ronde!" celoteh Dio.
Dinda mulai bergerak perlahan, saat dia sudah memasukkan milik Dio ke dalam miliknya, sengaja dia bergerak cepat agar Dio cepat keluar.
Sekitar dua puluh menit Dio sudah mencapai ******* dan Dio mulai terkapar.
Dengan tubuh polosnya Dio kemudian tertidur karena lelah dan puas.
Dinda menutupi tubuh suaminya itu dengan selimut, kemudian dia meraih ponselnya dan berjalan ke arah balkon, Dinda mulai menelepon seseorang.
"Halo!"
"Halo Ken, bisakah kita ketemu sore ini?" tanya Dinda yang ternyata menelepon Ken.
"Ketemu? tumben, biasanya kamu menghindari aku!"
"Kita ketemu di cafe depan rumah sakit sore ini ya, ada yang mau aku bicarakan padamu!" kata Dinda.
"Oke, kita ketemu sore ini!" jawab Ken.
Setelah itu Dinda menutup panggilan teleponnya.
Bersambung ..
****
__ADS_1