
Wajah Pak Dirja dan Bu Lilis nampak cemas dan khawatir.
Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa di dalam rumah ini, ditemukan racun yang mematikan.
Pak Dirja pernah mengalami kasus demikian karena dia adalah seorang pengacara, dulu kliennya juga pernah mengalami kasus meninggal karena diracun oleh racun sejenis itu.
Pak Dirja nampak menghela nafas panjang dia menyandarkan bahunya di depan tempat tidurnya itu.
"Mas, keselamatan anak-anak kita terancam! Bagaimana ini Mas?" tanya Bu Lilis dengan raut wajah yang begitu cemas.
"Kau jangan khawatir Lis, kau tahu suamimu ini adalah seorang pengacara handal, Aku akan terus ungkap kasus ini sampai tuntas!" jawab Pak Dirja.
"Apakah kita akan beritahukan penemuan ini pada Dio dan Dinda? walau bagaimanapun mereka adalah pemilik Rumah ini, jadi mereka berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah ini! Sepertinya ada musuh dalam selimut di rumah ini!" kata Bu Lilis.
"Lilis, kamu tahu Dio dan Dinda baru saja mengalami masalah besar, apalagi sekarang Dinda baru hamil, aku takut kalau mereka tahu, mereka akan menjadi cemas dan khawatir, dan itu akan mempengaruhi kondisi kehamilan Dinda!" ujar Pak Dirja.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Mas? Aku benar-benar takut! Aku takut Akan ada hal yang buruk menimpa keluarga ini!" tanya Bu Lilis.
"Begini saja sayang, aku akan amankan barang bukti ini, kita bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun di rumah ini, tapi aku akan bertindak, Aku akan terus memantau dan menyelidiki dengan detil, apa saja keanehan yang terjadi di rumah ini, dan aku yakin semuanya pasti akan terbongkar, hanya tinggal menunggu waktu!" jawab Pak Dirja.
Bu Lilis hanya menganggukan kepalanya, Kendati hatinya pun begitu khawatir dan cemas akan keselamatan anak dan menantunya itu.
Namun dia belajar percaya pada suaminya, kalau semuanya akan baik-baik saja, apalagi Pak Dirja suaminya itu adalah seorang pengacara yang handal meskipun sekarang dia telah pensiun.
"Sudahlah Lilis, kau jangan terlalu banyak pikiran, aku banyak memiliki rekan-rekan anggota polisi dan Intel yang hebat, dalam waktu dekat kasus ini pasti akan terungkap, kamu tenang saja!" ucap pak Dirja sambil mengelus-elus bahu istrinya itu.
"Iya Mas!"
__ADS_1
"Lis, hujan-hujan Mumpung ada waktu, sebelum makan siang, kita anu anu yuk Lis!" ajak Pak Dirja sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Anu anu apa sih Mas?" tanya Bu Lilis.
"Anu anu ... masa tidak ngerti, enak nih Lis, dingin dingin empuk!" sahut Pak Dirja yang tangannya mulai nakal menggerayangi tubuh Bu Lilis.
"Memangnya permen Mas, dingin dingin empuk!"
"Kamu lebih empuk dari pada permen sayang, ayolah ... supaya jangan stress terus memikirkan masalah, kita kan butuh pelampiasan!" bujuk Pak Dirja.
"Mas Dirja kali yang butuh pelampiasan!" sahut Bu Lilis.
"Ayolah Lis, sudah di ujung tanduk ini, aaah, aku jadi tidak sabar!"
Pak Dirja langsung melucuti pakaiannya sendiri dan langsung menerkam Bu Lilis, seperti macan yang kelaparan.
Apalah daya, Bu Lilis hanya bisa pasrah menerima setiap terkaman dari suaminya itu, hingga 10 menit kemudian, Pak Dirja sudah terkulai lemas di samping Bu Lilis dengan nafas terengah-engah.
****
Suasana sekolah sudah terlihat sepi, semua murid dan bahkan guru pun sudah pulang ke rumah, apalagi hari masih dengan cuaca hujan seperti ini.
Buru-buru Dio memarkirkan mobilnya dan setengah berlari dia masuk kedalam sekolah itu untuk menjemput Chika.
Chika nampak duduk di lobby ditemani oleh Pak Roni yang masih setia menunggunya disampingnya, karena Pak Roni sudah berjanji pada Dio akan menjaga Chika sampai Chika dijemput.
"Terima kasih Pak Roni, sudah menjaga anakku dengan baik, tadi di jalan macet begitu parah, banjir dimana-mana, ini saja aku lewat jalan pintas, kalau tidak, aku masih terjebak di jalan!" ucap Dio sambil menggandeng tangan Chika yang sejak tadi duduk itu.
__ADS_1
"Sama-sama Pak Dio, keselamatan murid adalah Prioritas kami, karena kejadian waktu itu yang menimpa Chika, saya juga para guru, juga keamanan yang di sekolah ini, terus memantau setiap anak didik kami, dan memastikan mereka akan pulang dengan selamat!" kata Pak Roni.
"Baiklah kalau begitu Pak Roni, saya mohon diri, kasihan Chika, pasti sudah lapar!" ucap Dio yang langsung beranjak pergi meninggalkan lobby itu sambil menuntun tangan Chika menuju ke tempat dimana mobilnya terparkir.
"Papa, kita mampir dulu yuk ke makam mama!" ajak Chika tiba-tiba, pada saat Dio baru saja keluar dari sekolah itu.
"Makam Mama??"
"Iya, kuburan Mama, kan papa janji waktu mau ajak aku ke kuburan Mama, aku kangen!" sahut Chika.
Dio terdiam, dia ingat pada saat beberapa kali Chika berhalusinasi melihat Mamanya di sekitar rumah, dan pada saat itu Dio juga berjanji, akan mengajak Chika untuk mengunjungi makam Mamanya.
"Baiklah Chika, kita akan mampir ke makam Mama sekarang, tapi kita jangan lama-lama ya! karena hari sudah mau sore, dan Chika pasti sudah lapar!" Kata Dio akhirnya.
Chika menganggukkan kepalanya, akhirnya Dio melajukan mobilnya menuju ke makam mendiang istrinya itu yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah Chika, kurang lebih selama 20 menit perjalanan mereka Akhirnya telah sampai di sebuah pemakaman umum.
Hujan masih menyisakan gerimis, dan tanah menjadi basah dan becek, dengan hati-hati Dio menuntun Chika berjalan, menyusuri tanah yang basah itu menuju ke makam mendiang istrinya, yang tidak terlalu jauh dari tempat dimana mobil Dio terparkir.
Makam itu basah oleh tetesan air hujan, yang masih saja berjatuhan dari langit.
Chika nampak duduk berjongkok di depan makam Mamanya itu, sambil mengelus-elus batu nisan yang basah oleh air hujan, sementara Dio memayungi Chika, supaya anaknya itu tidak terkena gerimis yang masih saja datang tanpa diundang.
"Mama, Bukankah Mama sudah ada di surga? Tapi kenapa Mama selalu datang dan mengajakku ikut mama? Apakah Mama kangen padaku? Aku juga kangen sama Mama, tapi aku kan sudah bahagia dengan mama Dinda, juga Papa, dan sebentar lagi aku akan punya adik!" ucap Chika sedikit bergumam.
Dio hanya berdiri diam saja sambil mendengarkan apa yang Chika ucapkan itu, dalam hati dia tersentuh juga dengan ucapan polos anaknya itu, Chika yang benar-benar tulus menerima dan mencintai Dinda seperti mama kandungnya sendiri.
Tanpa terasa ada yang meleleh di pelupuk mata Dio, tiba-tiba Dia teringat kisah masa lalunya yang begitu getir bersama dengan mendiang istrinya yang kini telah tidur tenang itu.
__ADS_1
Bersambung...
****