Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Selamat Tinggal Bu Lian


__ADS_3

Pak Frans masih terpekur di depan makam Bu Lian yang masih merah dan dipenuhi oleh taburan bunga.


Orang-orang sudah pergi meninggalkan tempat itu, kini tinggal menyisakan gerimis yang membasahi bumi, juga membasahi Pusara Bu Lian itu.


Pak Frans nampak terpukul, selama ini Bu Lian lah yang selalu mendampingi hidupnya, kemanapun Pak Frans pergi, pasti Bu Lian akan ikut menyertainya.


Kini belahan jiwanya telah pergi, menyisakan kesedihan yang mendalam dan airmata yang tak berhenti mengalir di pipi Pak Frans, dia begitu merasa sangat Kehilangan.


"Ayah, sudah sejak tadi Ayah terus menerus berada di makan bunda, bunda akan merasa sedih jika melihat ayah seperti ini!" ucap Dio sambil memayungi ayahnya itu, dengan payung yang dipegangnya sedari tadi.


"Kalau kamu mau pulang, kamu pulang saja Dio! Biar kan ayah di sini menemani Bunda mu!" sahut Pak Frans tanpa menoleh ke arah Dio, matanya lurus memandangi nisan dan taburan bunga-bunga itu.


"Mana mungkin aku akan meninggalkan Ayah sendirian di sini?" sahut Dio.


Akhirnya setelah beberapa lama, Pak Frans bangkit dari posisinya, kemudian dia berjalan gontai meninggalkan makam itu, Dio menyusulnya dari belakang.


****


1 Tahun Kemudian


"Yeeeayy! Juna sudah bisa berjalan cepat, ayo sini Nak, peluk Papa!" seru Dio sambil merentangkan kedua tangannya.


Arjuna yang kini telah berusia 1 tahun lebih, nampak berjalan dengan sedikit cepat walaupun agak sempoyongan kearah Dio dan setelah dekat Juna Langsung Melompat dalam pelukan Dio.


Setelah itu Dio menggendong Juna, dan membawanya masuk ke dalam rumah, setelah tadi mereka bermain-main di taman samping rumahnya itu.


Di ruang keluarga sudah berkumpul Pak Frans, Dinda dan Chika, besok mereka akan Berencana untuk pergi ke Singapura dan mereka akan menetap di sana, karena perusahaan keluarga Dio pusatnya ada di Singapura.


Sejak meninggalnya Bu Lian, Pak Frans belum kembali ke Singapura, karena di negara itu begitu banyak kenangan antara dia dengan istrinya itu.


Namun Pak Frans tidak bisa begitu saja menelantarkan perusahaannya, Itulah sebabnya Dio sebagai anak satu-satunya, menopang ayahnya, supaya perusahaannya itu tetap berjalan, Itulah sebabnya mereka memutuskan bahwa mereka akan pindah dan menetap ke Singapura.


Chika juga sudah mengajukan pindah sekolah, dan kini Chika sudah didaftarkan secara online bersekolah di Singapura, sehingga ketika mereka sampai di Singapura nanti, Chika sudah bisa langsung masuk ke sekolah barunya.


Ting ... Tong


Terdengar suara bel dari arah pintu depan, dengan cepat Mbak Yuyun berjalan ke arah pintu depan.


Tak lama kemudian datanglah Pak Dirja dan Bu Lilis beserta dengan Kayla dan Ken dan Putri mereka yang saat ini sedang aktif-aktifnya, Kirana.

__ADS_1


Chika terlihat senang, karena Kirana datang, mereka lalu bermain di kolam bola yang ada di dekat ruang keluarga itu.


Mbak Sri yang menemani anak-anak bermain, sementara orang tuanya mengobrol di ruang keluarga.


"Kalian jadi berangkat besok? Ibu jadi merasa kehilangan kalian, pasti sepi kalau kalian tidak ada!" ucap Bu Lilis dengan wajah sendu.


"Ibu tenang saja sekarang kan zaman canggih, bisa telepon video, lagi pula sebulan sekali kami akan pulang ke rumah ini kok!" kata Dinda.


"Iya Bu, sebulan sekali kami akan pulang mengunjungi kalian, kami juga mau anak-anak dekat dengan keluarganya di sini!" Timpal Dio.


Bu Lilis hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, kendati hatinya pun sebenarnya begitu berat melepaskan mereka untuk pergi dan menetap di Singapura besok.


Dinda kemudian bangun dan berjalan ke arah kolam bola untuk melihat kondisi Arjuna yang sedang bermain-main bersama dengan Kirana dan juga Chika kakaknya, di temani oleh Mbak Sri.


Keyla juga menyusul di belakangnya hendak melihat Kirana bermain.


Mereka kemudian duduk berdampingan di bangku yang ada di dekat kolam bola itu, melihat anak-anak mereka bermain dengan begitu riang dan gembira.


"Dinda, aku sama sekali tidak pernah bermimpi sebelumnya, kalau aku punya saudara kamu dan saat ini kita sama-sama sudah menjadi Ibu!" ucap Keyla.


"Iya Mbak, aku juga sebelumnya tidak pernah menyangka kalau kita bersaudara, dan memiliki keluarga besar, tapi yang penting semuanya bahagia, Ayah Dirja bahagia bersama dengan ibu dan kelihatannya mereka semakin awet muda saja!" sahut Dinda.


Dinda tersenyum, Keyla yang ada dihadapannya adalah Keyla yang dewasa, yang sudah berubah dari sebelumnya, Keyla yang memiliki pandangan yang positif, sehingga keluarganya juga ikut terbawa orang positif.


Mereka pun kemudian saling berpelukan, Meskipun mereka berbeda Ibu namun mereka memiliki satu Ayah yang sama, dan mereka kini benar-benar menjadi saudara yang sebenarnya.


****


Pagi itu, Pak Frans, Dinda dan Dio, beserta dengan anak-anak mereka Chika dan Arjuna, berangkat ke bandara menuju ke Singapura.


Pak Dirja dan Bu Lilis yang mengantarkan mereka sampai di bandara.


"Kalian tidak usah khawatir, aku sesekali akan mengontrol rumah kalian!" kata Pak Dirja.


"Trimakasih Ayah!" ucap Dio.


Sesampainya mereka di bandara, Mereka pun saling berpelukan, ada rasa haru yang menyeruak di antara hati mereka, ini seperti perpisahan yang sangat menyedihkan.


Beberapa kali Bu Lilis mengusap air matanya, dia harus merelakan Dinda Putri kesayangannya, kini berada jauh dengannya.

__ADS_1


"Ibu jangan sedih, sekarang sudah ada Ayah yang selalu menemani Ibu, sehingga Ibu tidak kesepian lagi seperti dulu!" ucap Dinda sambil mengusap air mata ibu kandungnya itu.


"Dinda, Berjanjilah pada ibu kalian akan selalu bahagia dan baik-baik saja, doa ibu selalu menyertai kalian anak-anak dan cucu-cucu ibu!" kata Bu Lilis sambil memeluk Dinda dengan erat.


Dinda menganggukkan kepalanya, kemudian setelah itu mereka benar-benar berpisah,


Pak Frans, Dio dan Dinda juga anak-anak mereka melangkah dan mulai naik ke dalam pesawat.


Sementara Pak Dirja masih merangkul bahu istrinya itu yang sesekali masih mengusap air matanya yang terus saja mengalir, melihat kepergian sang buah hati tercinta.


"Sayang, mereka pergi untuk kembali, kita akan tunggu kedatangan mereka nanti!" ucap Pak Dirja sambil merangkul bahu istrinya, dan membimbingnya berjalan keluar dari bandara menuju ke parkiran.


Sementara keluarga Dio kini berada dalam pesawat, sesekali terdengar suara canda tawa dari Chika yang mengajak bercanda Arjuna adiknya.


Dinda tersenyum melihat keluarga kecilnya yang begitu harmonis dan bahagia, kemudian dia menoleh ke arah suaminya itu yang kini benar-benar berubah, tidak lagi seperti dahulu, singa yang arogan.


"Trimakasih!" ucap Dio tiba-tiba.


"Trimakasih untuk apa?"


"Cintamu mengubah seluruh hidupku!" bisik Dio sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Iiih, Papa genit!!" seru Chika tiba-tiba.


...*** Tamat ***...


****


Halo guys,


Novel Hujan, sampaikan rinduku sudah tamat ya ...


Silakan membaca karya yang berjudul "Dia Sang Idola"



Jangan lupa selalu dukung author ...


Terima kasih atas kesetiaannya, sudah membaca karya author yang masih banyak belajar ini ...

__ADS_1


😍🥰🤩🙏


__ADS_2