
Seminggu setelah kejadian Chika di culik, tidak terdengar lagi kabar apapun mengenai otak penjahat yang menjadi dalang dari kejahatan itu.
Selain saksi kunci sudah meninggal, polisi juga kesulitan mengetahui identitas si pelaku, karena permainan ini benar-benar rapat dan sangat tersusun rapi, juga terancana.
Pembongkaran Pintu Rahasia kemarin itu sudah selesai dikerjakan oleh beberapa tukang bangunan, dan kini tembok itu sudah benar-benar tertutup rapat, tidak ada lagi pintu keluar yang menembus ke belakang.
Jadi satu-satunya akses keluar masuk rumah itu hanyalah gerbang depan, yang dijaga oleh Bang Jarwo.
"Mas, kemarin itu Asti menawarkan kan suster untuk membantu menjaga Chika, lagi pula sekarang kan cuma Mbak Yuyun satu-satunya yang membantu di rumah ini, Bagaimana menurutmu?" tanya Dinda.
"Kan sudah sejak awal aku menawarkan padamu, untuk menambah suster untuk menjagamu juga Chika Tapi waktu itu kamu menolaknya bukan?" sahut Dio.
"Waktu itu kan aku pikir rumah ini akan aman-aman saja, lagi pula saat itu aku memang tidak membutuhkannya, tapi kalau sekarang, aku pikir tidak ada salahnya, supaya bukan hanya Mbak Yuyun yang membantu pekerjaan di rumah ini!" kata Dinda.
"Kalau memang Asti punya rekomendasi suster yang bagus, kamu terima saja Din, toh itu juga untuk membantu pekerjaan Mbak Yuyun, juga rumah ini Jadi lebih ramai, tidak seperti sebelumnya!" sahut Dio.
"Iya Mas, nanti aku tanya Asti lagi!" kata Dinda.
"Ya sudah, Oya, hari ini aku ijin mau ke kantor sebentar ya, ada yang harus aku tidak jauh dan periksa di sana!" ucap Dio.
"Iya Mas, hati-hati ya Mas pokoknya sering-seringlah menghubungi aku atau rumah!" jawab Dinda.
"Siap Nyonya!" sahut Dio sambil mengecup kening Dinda.
Setelah itu dia langsung berjalan ke arah depan rumahnya, dia sudah bersiap akan pergi ke kantornya hari ini, karena ada beberapa hal yang harus diperiksa.
Dinda mengantarnya sampai di garasi depan rumahnya itu.
"Mas Dio hati-hati ya, pokoknya kalau jalan jangan ngebut, dan harus sudah sampai di rumah sebelum malam!" ucap Dinda.
Entah mengapa belakangan ini Dinda jadi agak protektif terhadap Dio, sejak kejadian penculikan Chika, Dinda merasa ada sesuatu yang bisa saja mengancam keselamatan suaminya itu.
Meskipun sampai saat ini masih belum terungkap tentang teka-teki dalang dibalik semua yang terjadi, namun Dinda selalu waspada dan hati-hati, apalagi saat ini dia tidak bisa lagi membedakan mana musuh mana teman.
Setelah Dio pergi, Dinda segera kembali masuk ke dalam rumahnya, lalu dia segera menelepon Asti melalui ponselnya.
"Halo Din!"
__ADS_1
"Halo Asti, aku udah bicarakan dengan Mas Dio, mengenai suster yang kau tawarkan itu, sepertinya kami menerima Suster itu untuk bekerja di sini deh, untuk membantu Chika, karena Mbak Yuyun kan sudah banyak pekerjaan di rumah ini!" kata Dinda.
"Beneran Din? Kalau begitu nanti aku akan hubungi Suster itu, biar dia sendiri yang datang langsung kesana ya, Jadi kau bisa melihatnya langsung dan menilai Bagaimana orangnya!" kata Asti.
"Oke deh As, terima kasih ya kalau bukan karena rekomendasi darimu aku juga tidak sembarangan menerima orang bekerja di rumah ini, kamu tahu sendiri kan, Atas kejadian yang menimpa keluarga kami saat itu?" tanya Dinda.
"Iya Din aku paham, ya sudah deh kalau begitu aku mau menghubungi orangnya dulu nih!" sahut Asti yang kemudian memutuskan panggilan teleponnya itu.
*****
Ting ... Tong
Suara bel dari arah pintu depan rumah berbunyi, Mbak Yuyun yang saat itu sedang membereskan ruang keluarga yang sedikit berantakan, langsung beranjak dan berjalan cepat menuju ke pintu depan untuk membukakan pintu.
Seorang wanita muda berperawakan kurus dan menjinjing sebuah tas, sudah berdiri di depan pintu rumah itu.
"Selamat Sore, benar ini kediaman Pak Ferdio?" tanya wanita muda Itu.
"Iya benar, dari mana ya?" tanya Mbak Yuyun.
"Siapa Mbak?" Dinda tiba-tiba sudah berjalan ke arah depan.
"Ini Bu, dia tanya soal suster, mau jadi suster gitu atau apa ya!" sahut Mbak Yuyun polos.
"Oh, ini pasti rekomendasi dari Asti, iya kan??" tanya Dinda to the point.
"Iya Bu!" sahutnya.
"Ya sudah, masuk yuk, kita ngobrol di dalam!" ajak Dinda.
Wanita itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, kemudian dia mengikuti Dinda masuk kedalam rumahnya dan duduk di ruang tamu.
Sementara Mbak Yuyun kembali berjalan ke belakang.
"Siapa namamu?" tanya Dinda.
"Anna Bu!"
__ADS_1
"Suster Anna? Pernah punya pengalaman kerja di mana?" tanya Dinda lagi.
"Dulu Saya pernah bekerja di Rumah Sakit Bu, sebagai perawat, setelah itu saya pernah membantu merawat di salah satu panti jompo yang ada di Jakarta!" jawab suster Anna.
Dinda nampak menganggukan kepalanya tanda mengerti, di lihat dari tingkah lakunya suster Anna ini terlihat baik dan polos.
Sepanjang pembicaraan dia selalu saja menunduk wajahnya, tidak berani mengangkat kepalanya walau hanya sekedar menatap wajah Dinda.
"Baiklah, mulai saat ini kau sudah boleh bekerja disini, nanti kamar mu ada di sebelah kamar Mbak Yuyun, asisten rumah tangga di rumah Ini, kamar itu sudah lama kosong, tapi setiap hari selalu dibersihkan oleh Mbak Yuyun!" kata Dinda.
"Trimakasih Bu!" ucap Suster Anna.
"Saya akan menjelaskan padamu, tugas-tugas apa saja yang akan menjadi tugasmu di rumah ini!"
"Baik Bu!"
"Semua pekerjaan di rumah ini, dari mulai mencuci, menjemur, menyetrika, dan memasak adalah tugas Mbak Yuyun, tugasmu hanyalah mengurus Chika dan membantu pekerjaan Mbak Yuyun, kamu Siapkan semua perlengkapan sekolah Chika, membantunya membereskan buku-buku, juga pakaiannya, juga menyiapkan menu makanannya setiap hari, juga bekal sekolahnya!" jelas Dinda.
"Iya Bu!"
"Jadi kamu hanya mengerjakan tugas yang aku jelaskan di atas tadi, di luar itu, kamu jangan mengerjakan kan apa yang bukan menjadi tugasmu, apa kau paham?" tanya Dinda.
"Paham Bu!" jawab Suster Anna.
"Oh ya satu lagi, Chika anakku ini sangat aktif, Jadi kamu juga harus mengimbanginya, layanilah setiap kali dia ingin mengajakmu bermain, dan jangan marah atau tersinggung Jika dia berbuat sesuatu yang berlebihan, Kamu hanya cukup memberitahu aku saja, biar aku yang akan menegurnya langsung!" lanjut Dinda.
"Baik Bu!"
"Untuk yang berkaitan dengan suamiku, seperti menyiapkan pakaiannya, membersihkan kamar pribadi, menyiapkan makanan, ataupun apa saja yang berkaitan dengan suamiku, tidak ada seorangpun yang boleh mengerjakan itu, termasuk Mbak Yuyun, jadi aku bilang seperti ini di awal, supaya kamu paham dan tidak salah dalam bekerja, semuanya boleh kamu lakukan di rumah ini, kecuali yang berkaitan dengan suamiku!" ungkap Dinda.
"Baik Bu!"
"Bagus, Sekarang ikut aku, aku akan tunjukkan kamarmu, setelah itu kamu boleh beres-beres barangmu, dan boleh langsung mulai bekerja!" kata Dinda yang langsung beranjak dari tempat itu diikuti oleh suster Anna.
Bersambung...
****
__ADS_1