Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Kondisi Bu Lian


__ADS_3

Matahari sudah nampak turun dan berwarna jingga kemerahan, ketika Dio dengan cepat melajukan mobilnya itu keluar dari rumahnya menuju ke rumah sakit.


Pak Frans dan Dio tidak saling bicara, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing, wajah Mereka terlihat begitu tegang, mereka sama-sama mencemaskan kondisi Bu Lian.


Bisa jadi Bu Lian itu drop karena dia kecapean, karena acara syukuran yang diadakan sejak pagi itu, begitu menguras tenaga dan pikiran Bu Lian.


Bu Lian sudah mempersiapkan acara itu bahkan beberapa hari sebelum hari-H dimulai.


Bu Lian semuanya yang mengatur, dari dekorasi, dari semua tamu undangan, bahkan menu makanan yang disajikan di acara syukuran itu.


Karena begitu lelah, di tambah lagi dengan pikirannya yang terus saja memikirkan Arjuna cucunya, Bu Lian sangat ingin memberikan yang terbaik untuk Arjuna.


Hingga pada puncaknya, setelah acara itu selesai, Bu Lian benar-benar tumbang, dia benar-benar drop.


Sekitar 30 menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit, Dio langsung menuju ke UGD dan Bu Lian langsung dibawa ke UGD itu untuk mendapatkan pertolongan pertama.


Seorang dokter dan beberapa perawat kini sedang menangani Bu Lian di dalam ruang UGD itu, sementara Dio dan Pak Frans menunggu dengan gelisah di depan ruang UGD, sambil sesekali mereka mondar-mandir dan wajahnya terlihat begitu khawatir.


Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruang UGD itu, sehabis memeriksa Bu Lian, dengan cepat Pak Frans dan Dio berjalan ke arah dokter itu, tidak sabar untuk menanyakan bagaimana kondisi Bu Lian.


"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Pak Frans tidak sabar, wajahnya kelihatan begitu tegang dan cemas, takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap istri tercintanya itu.


"Kondisi Bu Lian saat ini lumayan mengkhawatirkan, Dia terkena serangan jantung ringan, ditambah lagi tensinya yang melonjak tinggi, sekarang dia harus dipindahkan ke ruangan ICU untuk penanganan yang lebih intensif!" jelas dokter itu.


"Ya Tuhan Bunda! Kenapa bisa sampai seperti ini? Padahal sebelumnya Bunda baik-baik saja, Bahkan dia terlihat sangat sehat dan lincah!" ujar Dio.


"Kondisi ini bisa saja terjadi terhadap orang yang memang sudah punya riwayat penyakit sebelumnya, Itulah sebabnya setiap orang harus bisa menyadari kondisi fisiknya masing-masing, sehingga dia bisa mengontrol dirinya sendiri!" ucap dokter.


Pak Frans dan Dio hanya bisa pasrah termangu, rasanya tidak percaya mendengar kondisi Bu Lian yang seperti itu, bahkan sampai saat ini Bu Lian juga masih belum sadar.


Tak lama kemudian, beberapa perawat membawa Bu Lian keluar dari ruang UGD itu, menuju ke ruang ICU, di tangannya sudah terpasang infus dan beberapa selang di tubuhnya.


Pak Frans menarik nafas panjang sambil mengelus dadanya, begitu prihatin melihat kondisi istrinya itu, yang sebelumnya terlihat begitu sehat


Pak Frans dan Dio kemudian berjalan kearah ruang ICU, perasaan yang mereka alami saat ini sulit dilukiskan dengan kata-kata, beberapa perawat kemudian mulai memindahkan Bu Lian ke ranjang pasien yang ada di ruang ICU itu, dengan alat monitor dan beberapa alat medis yang lain.


Pak Frans dan Dio hanya bisa menatap Bu Lian dari kaca besar dari luar ruangan, tanpa bisa mendekatinya, sebelum keluar izin dari dokter.


"Ayah, sabar dulu, ini ujian dari Tuhan! Kita baru saja mendapatkan anugerah, anakku lahir dengan selamat dan kini diadakan acara syukuran, dan Chika juga menjadi juara di sekolahnya, tapi bukan berarti hidup kita baik-baik saja, kita harus mampu melewati ujian ini!" ucap Dio berusaha untuk menguatkan ayahnya itu.


"Iya Dio, Ayah mau bagaimana lagi, semuanya ini sudah kehendaknya, sekarang kita harus berdoa supaya Bunda bisa melewati masa-masa ini, dan dia bisa kuat bertahan melawan penyakitnya!" jawab Pak Frans dengan suara sedikit bergetar.


Akhirnya malam itu, Dio dan Pak Frans menunggu Bu Lian di rumah sakit, mereka saling mendukung dan menguatkan satu sama lain.


****

__ADS_1


Sementara itu di rumah, Dinda baru saja menerima telepon dari Dio, yang mengabari mengenai kondisi Bu Lian, dan mereka harus menginap di rumah sakit untuk menemani Bu Lian.


Hari sudah beranjak malam, langit terlihat begitu gelap dan pekat, bulan sudah tidak ada lagi yang bersinar karena tertutup awan yang mendung kelabu, cahaya bulan juga sudah tidak nampak lagi, angin mulai berhembus dengan nuansa dinginnya, menunjukkan kalau sebentar lagi akan turun hujan.


Sesekali kilat menyambar Kian kemari, memberikan suasana terang seketika, disusul oleh suara gemuruhnya guntur yang bersahut-sahutan.


Setelah menidurkan Arjuna, Dinda kemudian mulai menutup jendela balkon kamarnya itu, yang hordeng nya berkibar-kibar tertiup angin yang berhembus.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan Dinda juga akan bersiap untuk tidur menyusul Arjuna yang sudah terlebih dahulu terlelap.


Tok... Tok ... Tok


Pintu kamar Dinda diketuk dari luar, Dinda kemudian langsung berjalan kearah pintu dan langsung membukakannya.


Chika nampak berdiri di depan pintu sambil memeluk boneka kesayangannya.


"Lho Chika belum bobo? Ini sudah malam lho! Apalagi seharian ini Chika kan capek, Ada apa Chika?" tanya Dinda.


"Aku tidak bisa bobo Ma, aku boleh tidak Malam ini aku bobo di sini? Aku ingin sekali bobo dengan adik Juna, lagian kan Papa dan Opa sedang menginap di rumah sakit menemani Oma!" jawab Chika.


"Oh, Chika mau bobo di sini? Boleh kok, ayo masuk!" ajak Dinda.


Chika tersenyum senang, dia lalu masuk dan langsung berbaring di samping Arjuna yang sedang tidur lelap.


"Chika, Mama juga tidak tahu Oma sakit apa, tapi kita doakan saja supaya Oma cepat sembuh, biar bisa cepat cepat pulang rumah, tidak lama-lama di rumah sakit!" jawab Dinda.


Chika hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu dia memeluk boneka kesayangannya dan mulai memejamkan matanya.


Dinda kemudian membelai rambut Chika dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, mantan muridnya itu kini sudah berubah menjadi anak yang manis, baik, dan cerdas.


Dinda teringat beberapa waktu yang lalu, saat dirinya baru saja mengenal sosok Chika, seorang anak yang arogan, penuh kekecewaan hidup, dan penuh dengan masalah.


Kini semuanya seolah sirna begitu saja, ternyata ada satu hal yang bisa membuat seseorang itu berubah. Hal itu adalah cinta dan kasih sayang yang tulus dari dalam hati yang terdalam.


"Oweeek ... Oweeek!"


Suara tangisan Arjuna membuyarkan Lamunan Dinda, kemudian Dinda langsung mengangkat bayi mungilnya itu, dan segera memberi ASI.


"Adik Juna Haus ya? Minum susu yang banyak ya, Cepatlah besar sayang, biar bisa bermain dengan kakak Chika, sekarang minumlah yang banyak Nak, setelah itu bobo kembali ya, jangan rewel, malam ini tidak ada Papa bersama dengan kita, jadi Juna juga harus pintar ya ya, setelah minum susu langsung bobo oke!" ucap Dinda sambil menatap mata bayi mungilnya yang bening itu, yang kini juga tengah menatap ke arahnya.


****


Pagi itu Dio terbangun dari tidurnya, saat dirasakan hawa dingin yang menyeruak di sekujur tubuhnya, yang tengah berbaring di bangku koridor yang ada di depan ruang ICU.


Pak Frans nampak sedang duduk di sisi pembaringan Bu Lian yang masih terbaring lemah di ranjangnya, dengan peralatan medis itu.

__ADS_1


Pak Frans terlihat menelungkupkan kepalanya di ranjang Bu Lian, karena mungkin ayahnya Dio itu sudah lelah dan mengantuk, Dio melihatnya dari jendela kaca yang ada di depan ruangan itu.


Karena kasihan melihat ayahnya, Dio berinisiatif pergi ke kantin rumah sakit, yang ada di bawah, untuk membelikan makanan untuk sarapan pagi mereka.


Baru saja Dio memesan makanan di kantin rumah sakit itu, tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dari belakang titik spontan dia menoleh ke belakang Kang dan dia sedikit terkejut melihat Siapa orang yang menepuk bahunya itu.


"Dokter Dicky!?" pekik Dio saat melihat Siapa orang itu.


"Apa kabar Pak Dio?" tanya Dokter Dicky.


"Baik, hanya saja, Bundaku saat ini sedang di rawat di rumah sakit, dan kini ada di ruang ICU!" jawab Dio.


"Oh ya? Kalau kau butuh apapun, atau menginginkan pelayanan apapun, jangan sungkan menghubungiku, dan aku mendoakanmu, supaya Bundamu cepat pulih seperti sedia kala!" ucap Dokter Dicky.


"Terima kasih Dokter! Kau memang selalu membuat aku bersemangat, kau sendiri bagaimana kabar, anak-anakmu sudah besar-besar ya?" tanya dia balik.


"Ya begitulah, anakku sudah mulai beranjak besar, oh ya Aku mengucapkan selamat ya atas syukuran anakmu kemarin itu, aku mohon maaf sebesar-besarnya karena aku tidak bisa datang, kemarin itu kebetulan aku sedang ada ada perkumpulan para dokter di Malaysia, tapi aku ada hadiah untuk anakmu!" ucap dokter Dicky.


"Hadiah?"


"Ya, hadiah, tapi aku tidak membawa Hadiah itu sekarang, tapi nanti seseorang akan datang ke rumah, untuk mengantarkan hadiah itu!" jawab dokter Dicky sambil tersenyum.


"Terima kasih Dokter!" ucap Dio.


"Oke, kalau begitu aku duluan, aku sedang ada janji dengan seseorang, Pokoknya kau Nikmati saja fasilitas di rumah sakit ini, Jangan memikirkan apapun selain kesembuhan dari Bundamu!" kata dokter Dicky sambil menepuk bahu Dio, kemudian dia segera berlalu dari tempat itu.


Dio kemudian melangkah berjalan ke ruang ICU, dimana Bundanya dirawat, sambil membawa makanan untuk sarapan pagi dirinya dan ayahnya.


Pak Frans masih nampak duduk terpekur, sambil memandangi wajah istrinya itu di dalam ruang ICU.


Dio kemudian dengan perlahan mengetuk kaca itu untuk memanggil ayahnya keluar dari ruangan itu, dan memberinya sarapan pagi, supaya ayahnya itu ada tenaga untuk menjaga sang Bunda.


Pak Frans menoleh kearah Dio, kemudian dia menganggukkan kepalanya dan kemudian keluar dari ruang ICU itu, wajahnya nampak kusut, dia lalu duduk di bangku koridor itu, sambil menghela nafas panjang.


"Ini ada makanan untuk ayah sarapan, ayah makan dulu, paling tidak Ayah harus memperhatikan diri ayah sendiri, sebelum Ayah memperhatikan dan menjaga Bunda!" ucap Dio sambil menyodorkan satu kotak makanan ke arah Pak Frans.


Pak Frans lalu mengambil kotak makanan itu, kemudian membukanya dan memakannya perlahan demi perlahan, dia memaksa dirinya untuk makan, meskipun dia merasa tidak lapar, dan tidak berselera untuk makan.


Dio juga mengambil kotak makanannya, kemudian dia juga mulai memakan makanannya itu bersama dengan Pak Frans.


Meskipun dia juga tidak merasa lapar, dan tidak berselera makan, namun dia menyadari bahwa kesehatan dirinya perlu dijaga, dia tidak mau dirinya menjadi sakit dan tidak bisa melakukan apapun, sementara banyak hal yang ingin dia lakukan.


Bersambung....


****

__ADS_1


__ADS_2