Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Perawatan Dinda


__ADS_3

Dinda kini telah di pindahkan ke ruang perawatan pasca melahirkan secara caesar.


Selama Dinda di rumah sakit, Dio selalu mendampinginya dan tidak sedikitpun beranjak dari Dinda.


Apalagi Dinda melahirkan secara caesar, untuk bergerak saja setelah melahirkan terasa sulit, perutnya masih terasa nyeri.


Karena Dinda melahirkan secara caesar, dan ruang geraknya terbatas, maka bayinya Dinda dirawat oleh suster di dalam sebuah ruang perawatan khusus bayi.


Dan Dinda tidak bisa setiap saat memberikan bayinya itu Asi, karena kondisi Dinda yang memang belum benar-benar pulih itu.


Jadi jika ada orang yang mau menjenguk dan menengok bayinya Dinda, mereka harus menunggu jadwal ruangan itu dibuka, sehingga dari kaca mereka bisa melihat bayi Dinda.


"Kenapa Dede bayinya Mama susah untuk aku ajak main? Waktu itu Dedek Kirana saja aku bisa lihat dari dekat, dan aku bisa puas puas ajak dia bicara!" tanya Chika yang pada saat itu sedang datang ke rumah sakit, untuk melihat adik bayi yang dinantikannya selama ini.


"Karena dedeknya Chika yang sekarang, Mamanya butuh perawatan khusus, jadi untuk sementara dedeknya diurus sama suster!" jawab Dio.


Akhirnya Chika harus menunggu jadwal ruangan khusus bayi itu dibuka tirainya, sehingga dia bisa melihat adik bayinya.


Bu Lian dan Bu Lilis menemani Chika untuk melihat bayi yang ada di box kaca, bersama dengan bayi-bayi lainnya.


Chika sangat antusias sekali, melihat adik bayinya itu, namun dia tidak bisa menyentuhnya apalagi berbicara padanya karena terhalang Kaca.


Akhirnya sore itu, setelah meminta izin pada perawat, bayi Dinda diperbolehkan kan ada di dalam ruangan perawatan Dinda jadi rawat gabung, karena Dinda juga sangat ingin mencoba untuk menyusui bayinya, meskipun keadaannya masih belum pulih pasca operasi.


Chika, Bu Lian dan semua orang yang ada di ruangan itu nampak begitu gembira sekali, pada saat melihat bayi yang dinanti-nantikan itu kini berada di ruangan yang sama dengan Dinda.


"Dio, siapa nama bayi tampan ini?" tanya Pak Dirja.

__ADS_1


"Namanya, Juna, Arjuna Dacosta!" jawab Dio.


"Wah, namanya bagus sekali, mentang-mentang tampan!" kata Bu Lian.


"Aku sudah lama mempersiapkan nama itu, Arjuna itu adalah sosok laki-laki yang tampan, dan aku berharap anakku yang akan dilahirkan nanti tampan, dan ternyata memang terbukti bayi ini sangat tampan!" ucap Dio.


"Semoga Juna bukan hanya tampan, tapi berakhlak mulia, pintar dan baik hati!" ujar Bu Lilis.


"Amiin!"


Bayi mungil Arjuna itu kemudian menangis tandanya haus, Seorang perawat kemudian mengangkatnya dan memberikannya pada Dinda untuk diberinya Asi, dan setelah itu bayi itu pun mulai menyusu, kelihatan Dinda kesulitan untuk mulai menyusui bayinya itu.


Sementara Pak Dirja dan Pak Frans duduk di sofa itu sambil ngobrol bersama dengan Dio.


"Ayo Bu Dinda, untuk anak pertama menyusui memang hal yang susah apalagi mulut bayi terasa belum pas pada saat dia menyusu, tapi kalau latihan sering-sering, pasti lama-lama bisa dan terbiasa, mulut bayi juga bisa merangsang ASI supaya lebih deras keluar!" kata salah seorang suster yang membantu Dinda menyusui bayi mungilnya itu.


Dinda menganggukkan kepalanya kemudian dia mencoba lagi untuk menyusui bayi mungilnya itu, sang bayi terlihat sangat tidak sabar untuk menyusu apalagi air susu Dinda masih setetes demi setetes, tidak terlalu banyak yang keluar.


****


Kini hanya tinggal di saja yang masih setia menemani Dinda di ruangan itu bersama dengan bayi mungil mereka, Arjuna.


Dio tak henti-henti memandang bayi mungilnya itu, yang kulitnya nampak kemerahan dengan rambutnya yang tebal dan alis matanya yang sudah nampak tebal itu, sejak lahir saja bayi itu sudah kelihatan sangat tampan.


"Mas Dio, Mas Dio istirahat saja, Mas kan capek nungguin aku, bahkan belum pulang ke rumah sejak aku pertama kali masuk rumah sakit, sekarang Juna sedang tidur, Mas Dio tidur saja dulu ya!" kata Dinda.


"Tidak sayang, aku sama sekali tidak mengantuk, apalagi saat aku melihat anak kita ini, aku benar-benar sangat bahagia, dia begitu tampan, akhirnya aku punya Putra juga, dan aku benar-benar sangat bahagia, belum pernah sebahagia ini sebelumnya!" ucap Dio.

__ADS_1


Dinda tersenyum bahagia mendengar ucapan suaminya itu, dia bahagia karena telah berhasil memberikan Dio seorang Putra yang diidam-idamkan yang selama ini.


Setelah mereka melewati beberapa badai, dari mulai Dinda divonis terkena kista, hingga akhirnya masalah keluarga muncul, dan sekarang Setelah semuanya berlalu, ada hadiah yang tak ternilai harganya, yang saat ini ada di hadapan mereka, dan hadiah ini terlihat begitu nyata.


Ceklek!


Seorang perawat masuk ke dalam ruangan itu, kemudian dia berjalan ke arah Dinda dan Dio yang masih terlihat mengobrol.


"Maaf Bu Dinda, Pak Dio, ada seseorang yang ingin menjenguk Bu Dinda, tapi kan jam besuk sudah habis, lagipula ini sudah malam, tapi orang itu memaksa ingin bertemu dengan Bu Dinda, kira-kira Bagaimana ya, Apakah Bu Dinda mengijinkan?" tanya Suster itu.


"Siap Sus?" tanya Dinda.


"Saya tidak tahu Bu, sekarang orangnya masih ada di luar, makanya saya tanyakan dulu, apakah Bu Dinda bersedia menerima tamu di jam-jam seperti ini?" sahut Suster itu.


"Bagaimana Mas Dio? Apakah kita suruh masuk saja orang itu, Mana tahu itu saudara kita atau teman kita!" tanya Dinda sambil menoleh ke arah suaminya itu.


"Seharusnya sih orang berkunjung itu di jam besuk, tapi kenapa dia berkunjung di jam-jam segini?" gumam Dio.


"Jadi bagaimana Bu Dinda, Pak Dio? Apakah saya suruh orang itu pulang lagi dan kembali besok?" tanya Suster itu.


"Sus, orang itu suruh masuk deh kesini, mana tahu niatnya untuk menjenguk, dan dia baru sempat malam ini!" kata Dinda.


Suster itu mengangguk, kemudian dia kembali keluar dari ruangan itu, untuk memanggilkan orang yang akan menjenguk Dinda dan bayinya.


Sekitar 5 menit kemudian, Suster itu kembali masuk bersama dengan seorang wanita yang datang hendak menjenguk Dinda dan bayinya.


Dinda dan Dio terperangah, ketika melihat siapa wanita yang ingin menjenguk Dinda dan bayinya itu.

__ADS_1


Bersambung....


****


__ADS_2