Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Lagu Untuk Dinda


__ADS_3

Chika sedikit tertegun melihat mata Dinda yang basah yang menatap ke arahnya, wajah Dinda begitu sendu.


"Mama kenapa?" tanya Chika.


"Maafin Mama ya Chika!"


"Kenapa Mama minta maaf? Mama kan tidak salah, kalau tidak salah ya jangan minta maaf dong!" jawab Chika.


"Harusnya Mama jadi Mama Chika tuh selalu bisa buat Chika dan Papa senang dan bahagia, eh Mama malah sakit-sakitan!" ucap Dinda.


Chika maju dan langsung memeluk Dinda.


"Kenapa Mama bilang begitu? Mama juga kan tidak ingin sakit!" kata Chika .


"Maafkan Mama ya Chika, kalau Mama belum bisa memberikan Chika adik bayi!" bisik Dinda.


"Aku tidak mau adik bayi lagi Ma, yang penting Mama sembuh, itu saja!" kata Chika.


Mereka sesaat saling berpelukan.


"Mama, aku ingin menemani Mama di sini, boleh ya, supaya Mama tidak kesepian!" lanjut Chika.


"Tentu saja boleh sayang, Papa mana?" tanya Dinda.


"Papa ada di bawah, lagi periksa berkas yang di kasih sama Tante Brenda!" sahut Chika.


"Tante Brenda??"


"Iya, Tante Brenda sekertarisnya Papa, orangnya nyebelin, makanya sering aku kerjain, eh dia tidak kapok-kapok dong, masih saja kerja jadi sekretaris Papa!" ungkap Chika.


"Chika tidak boleh begitu, tidak boleh ngerjain orang tua, Chika harus belajar menghormati orang lain!" tukas Dinda.


Mereka kemudian berdua duduk di sisi tempat tidur.


"Sejak Mama tidak lagi mengajar di sekolah, sekolah jadi sepi Ma!" ungkap Chika.


"Oya?"


"Iya, aku kangen Mama mengajar lagi seperti dulu!" kata Chika.


"Mama juga kangen sayang, kangen sama murid-murid yang lain, kangen sama suasana sekolah, Mama ingin segera sembuh, supaya bisa kembali mengajar di sekolah!" ucap Dinda.


Tiba-tiba Dio muncul sambil membawa sebuah gitar di tangannya.


"Papa? Sudah selesai kerjaannya?" tanya Chika.


"Sudah dong, sekarang Papa mau nyanyi!" jawab Dio yang langsung duduk di kursi yang ada di dekat situ.


"Yeeaayy!! Mama, Papa kan suaranya bagus lho!" kata Chika senang.


"Oya?"


"Iya dong, cuma sudah lama Papa tidak nyanyi, eh sekarang mau nyanyi lagi dong!" sahut Chika.


"Hari ini, Papa mau nyanyi khusus buat Mama, supaya Mama terhibur dan semangat, dan tidak sedih lagi!" ucap Dio.


"Ayo Pa! Mainkan!" seru Chika bersemangat.


Dio kemudian mulai mengangkat gitarnya.


🎶 Dengarlah bintang hatiku, aku akan menjagamu, dalam hidup dan matiku, hanya kau lah yang ku tuju.


Dan teringat janjiku padamu, suatu hari pasti akan ku tepati.


Aku akan menjagamu, semampu dan sebisaku, walau ku tau raga mu tak utuh.


Ku trima kekuranganmu, dan ku tak akan mengeluh, karena bagiku engkaulah nyawaku 🎶

__ADS_1


Tanpa terasa air mata Dinda mengalir membasahi pipinya.


Dia begitu rerharu pada suaminya yang terlihat begitu tulus mencintainya.


"Hei, kenapa sang ratu menangis? Tersentuh dengan lagunya atau apa nih?" tanya Dio yang langsung menaruh gitar nya dan maju menghapus air mata Dinda dengan tangannya.


"Mama jadi Baper Pa!" celetuk Chika.


"Eh, apa mau di nyanyikan lagu yang lain?" tanya Dio.


"Cukup Mas, ini sudah cukup!" jawab Dinda.


"Baru tau ya kalau Papa suaranya bagus, kalau tuh suara Om Ariel noah!" kata Chika.


"Iya, suara Papa Dio sangat merdu, Mama tidak tahan mendengarnya!" ucap Dinda.


"Tuh kan bener Pa, Mama baper!" ujar Chika.


"Chika, sekarang Chika turun ke bawah, temani Mbak Yuyun sana, Papa mau mengobrol berdua dengan Mama!" kata Dio.


"Yah, gini nih, kalau Papa sama Mama lagi mau berdua, anak di usir keluar!" cetus Chika yang segera berjalan keluar dari kamar itu.


Setelah Chika pergi, Dio kembali memeluk Dinda dengan erat.


"Maafkan aku!" bisik Dio.


"Kenapa Mas Dio minta maaf?" tanya Dinda.


"Soal suster yang aku bilang itu, kalau kamu tidak mau ada suster, aku tidak akan memaksa, maksudku baik sayang, aku hanya ingin kau mendapatkan perawatan yang terbaik, itu saja!" ucap Dio.


"Iya Mas, aku mengerti, aku yang minta maaf, sudah salah paham dengan maksud baik mas Dio, mudah tersinggung dan sensitif!" kata Dinda.


Dinda kemudian merebahkan kepalanya di dada Dio, merasakan debaran jantung suaminya itu.


"Mas ..."


"Aku ingin membahagiakan Mas Dio!" ucap Dinda.


"Membahagiakan aku? Aku sudah bahagia kok sayang!" jawab Dio.


"Maksudnya, aku ingin... ingin..."


"Ingin apa?"


"Ingin memuaskan Mas Dio, melayani Mas Dio!" ucap Dinda menunduk.


"Oh, kalau itu, aku sih iyes ... tapi berjanjilah kamu tidak akan kelelahan, jangan pakai tenaga dalam ya!" goda Dio.


"Ah Mas Dio, suruh siapa lama keluarnya, kan tanganku pegal Mas!" sahut Dinda malu.


"Tapi aku mana bisa cepat keluar, Oke oke ... lakukan yang kamu bisa saja ya, selebihnya itu yang akan menjadi bagianku!" kata Dio sambil membuka bajunya.


Dada bidang yang di tumbuhi bulu-bulu halus itu kini sudah terpampang di hadapan Dinda.


Dengan lembut Dinda mengecupi dada suaminya itu, ada perasaan yang bergetar di sana.


****


Sementara itu, Keyla masih terlihat duduk di sofa ruang tamu sambil membuka ponselnya, dia sedang membaca sebuah artikel mengenai seputar kehamilan.


Kini perut Keyla sudah terlihat sedikit membuncit.


Ken datang sambil membawakan segelas susu hangat.


"Ini Mbak, di minum dulu susu hamil nya, supaya anak kita sehat dan pintar!" kata Ken sambil menyodorkan segelas susu hangat itu ke arah Keyla.


"Kok panas susunya? Aku kan suka yang dingin!" cetus Keyla.

__ADS_1


"Mbak, yang hangat itu lebih sehat, di minum dulu deh, di jamin tidak menyesal!" sahut Ken.


Mau tidak mau keyla meneguk segelas susu itu hingga habis tak tersisa.


"Mbak, aku pengen deh, elus-elus perut Mbak Keyla, boleh ya!" ujar Ken.


"Jangan macam-macam! Sana duduk jauh-jauh!" sergah Keyla saat Ken akan mendekat.


"Mbak, bayi itu butuh sentuhan tangan Ayahnya tau!" cetus Ken.


"Sok tau!"


"Secara psikologis, sejak dalam kandungan Bayi bisa merasakan kehadiran orang tuanya, dan itu akan membuat bayi kita bahagia dan normal!" jelas Ken.


"Hmm, dasar modus!" sungut Keyla.


"Coba Mbak Keyla cari saja di Internet, kasihan bayi kita Mbak, kalau Mamanya jutek terus, orang hamil itu harus bahagia!" lanjut Ken.


"Dasar bawel, ya sudah, kamu boleh elus-elus sebentar, awas kalau lama!" ujar Keyla.


Ken tersenyum laku duduk mendekati Keyla, dia mulai mengelus-elus lembut perut Keyla sambil menciumi perut itu.


"Jangan pake cium-cium juga kali, geli tau!" cetus Keyla.


"Ya elah Mbak, Bayi kita senang kali di cium Ayahnya, kecuali di cium tetangga!" cetus Ken.


"Ken ..."


"Ya?"


"Ngomong-ngomong Ayah kemana ya? Kok sudah malam belum pulang!" tanya Keyla.


"Paling juga ke rumah Dinda Mbak, kan Dinda anaknya juga!" sahut Ken yang masih terus mengelus perut keyla tanpa di sadari.


"Masa sampai malam begini Ken, aku khawatir, kalau asma Ayah kambuh, atau jantungnya kumat!" sahut Keyla.


"Ya sudah, Mbak Keyla telepon saja, gitu saja kok repot!" kata Ken yang kini sudah berbaring di pangkuan Keyla tanpa sadar.


"Telepon? Okelah aku telepon, Oh My God! Ken! Dasar modus! Apa yang kamu lakukan?!" seru Keyla tersadar sambil mendorong tubuh Ken hingga nyaris terjungkal jatuh dari sofa.


"Aduh Mbak! Bisa pelan-pelan tidak sih?? Sakit tau!" sungut Ken.


"Kamu tuh modus! Mencuri curi kesempatan dalam kesempitan! katanya mau elus-elus sebentar? Sekarang malah keenakan tiduran di perutku!" sengit Keyla.


"Ya ampun Mbak, cuma gitu doang, wajar kali, di luar sana suami istri bahkan lebih romantis dari ini!" sahut Ken.


"Itu kan mereka, bukan kita!"


"Apa bedanya?"


"Ya beda lah, mereka kan saling mencintai, sedangkan kita?? hanya karena suatu kecelakaan!" tegas Keyla.


Ken terdiam mendengar ucapan Keyla.


"Begitu ya Mbak? Tapi bisa kan seolah-olah kita saling mencintai di depan bayi kita?" tanya Ken.


Sekarang gantian Keyla yang terdiam mendengar pertanyaan Ken.


"Saling mencintai??"


"Iya Mbak, mau sampai kapan kita seperti ini terus? Walau sulit aku sudah berusaha menjadi suami yang baik, calon Ayah yang baik, aku capek Mbak, Capek! Apalagi setiap hari harus menghadapi sikap Mbak Keyla yang arogan dan kekanak-kanakan! Aku capek!" seru Ken yang langsung berdiri dan berlalu meninggalkan Keyla yang masih tertegun melihat perubahan sikap Ken yang tiba-tiba itu.


"Ken!" panggil Keyla.


Namun Ken terus berjalan tanpa menoleh lagi.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2