
Sudah tiga hari ini Bu Lian dirawat di rumah sakit, namun dia belum menunjukkan perkembangan yang berarti.
Hari ini Dio dan Pak Frans dikejutkan oleh Bu Lian yang tiba-tiba sadar, tangannya dan mulutnya mulai terlihat bergerak meskipun lemah.
"Bunda! Bunda sudah sadar??" tanya Dio sambil memegangi tangan Bu Lian.
"Dio, Bunda ingin bertemu dengan Dinda, ajak istrimu itu kesini, Bunda ingin bicara dengan Dinda!" ucap Bu Lian lirih, dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
"Dinda? bunda ingin bertemu dengan Dinda?" tanya Dio.
Bu Lian tidak menjawab karena dia sangat kesulitan untuk bicara, dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Dio, sekarang kau pulang saja ke rumah, jemput Dinda dan ajak kesini, Mungkin ada yang ingin Bunda sampaikan untuk Dinda!" bisik pak Frans.
Dio menganggukan kepalanya tanda mengerti, setelah itu dia kemudian keluar dari ruangan ICU dan langsung menuju ke parkiran mobilnya, hendak pulang ke rumah setelah beberapa hari ini dia bersama dengan ayahnya menjaga Bu Lian di rumah sakit.
Tak lama kemudian Dio sudah tiba dirumahnya, wajahnya nampak lelah, saat itu Chika sedang sekolah, Dio langsung masuk kedalam rumahnya itu, dan menghampiri Dinda yang pada saat itu sedang duduk di ruang keluarga sambil nonton TV, Arjuna ada di pangkuannya, sedang menyusu di dada ibunya itu.
"Mas Dio sudah pulang? Apa kamu lapar Sekarang? Kebetulan banyak makanan di meja makan! ayo makan dulu mas!" ajak Dinda yang langsung berdiri sambil menggendong Juna dan menggandeng tangan suaminya itu menuju ke ruang makan.
"Dinda, Ada yang ingin aku sampaikan padamu!" kata Dio sambil duduk dan mulai menyantap makanan yang sudah disiapkan Dinda untuknya.
"Ada apa mas? Bagaimana keadaan Bunda? Aku belum sempat menjenguk Bunda, karena kamu tahu sendiri di sini Juna tidak ada yang ngurus, kasihan kalau bayi sekecil itu harus diajak rumah sakit!" sahut Dinda.
"Begini Dinda, setelah beberapa hari, tadi bunda tiba-tiba sadar, tapi saat Bunda sadar tiba-tiba Bunda menanyakanmu dan Bunda sangat ingin sekali bertemu denganmu!" ucap Dio sambil menyantap makanannya itu.
Dinda terdiam mendengar ucapan Dio, dia tidak mengerti mengapa tiba-tiba Bu Lian sangat ingin bertemu dengannya.
"Tapi Mas, Bagaiamana dengan Juna?" tanya Dinda.
"Begini, sebelum ke rumah sakit, kita titipkan Juna pada Ibu, nanti kita mampir dulu ke rumah Ayah Dirja!" usul Dio.
__ADS_1
Dinda menganggukan kepalanya, setelah selesai makan, mereka kemudian bersiap berangkat.
Dio mulai mengendarai mobilnya menuju ke rumah Pak Dirja untuk menitipkan Juna sebentar pada Bu Lilis, karena Dinda akan kerumah sakit menemui Bu Lian.
"Maaf Bu, aku titip Juna sebentar, karena aku harus ke rumah sakit sekarang, Bunda Lian sangat ingin bertemu denganku!" kata Dinda pada saat mereka sudah sampai di rumah Pak Dirja.
"Iya Din, kamu tenang saja, temuilah mertuamu itu, mungkin ada yang ingin dia sampaikan padamu!" jawab Bu Lilis sambil mengambil Juna ke dalam gendongannya.
Setelah menitipkan Juna, Dio dan Dinda lalu kembali ke rumah sakit.
Pada saat mereka telah sampai di rumah sakit, tanpa menunggu waktu lama, Dio dan Dinda kemudian langsung menuju ke ruang ICU, di mana Bu Lian dirawat.
Pak Frans masih nampak duduk menemani Bu Lian di ranjangnya itu. Dinda dan Dio langsung beringsut mendekati Bu Lian pada saat itu terlihat membuka matanya.
"Bunda, lihat siapa yang datang, itu Dio dan Dinda, Bukankah Bunda sangat ingin bicara dengan Dinda? Bicara lah Bunda!" kata Pak Frans sambil mengelus dahi istrinya itu.
Dinda kemudian beringsut mendekati Bu Lian, lalu menggenggam tangannya dengan hangat.
"Bunda, ini aku Dinda, Bunda apa kabar? Aku selalu berharap Kalau bunda akan segera pulih seperti sedia kala!" ucap Dinda.
"Dinda, Bunda minta maaf ya, kalau selama ini bunda Banyak mengatur Dinda, Mulai sekarang Bunda tidak akan lagi mengatur ngatur hidup Dinda, juga Juna, Bunda percaya Dinda adalah ibu yang baik untuk Juna dan Chika, juga istri yang baik untuk Dio anak bunda!" ucap Bu Lian dengan suara bergetar.
"Iya Bunda, tidak apa-apa kok, aku juga banyak belajar dari Bunda, karena Bunda lebih berpengalaman dari aku!" sahut Dinda.
Ada yang mengalir di sudut mata Bu Lian, cepat-cepat Pak Frans menghapusnya dengan tissue yang ada di meja dekat ranjang Bu Lian, Bu Lian nampak menangis.
"Sudahlah bunda, bunda jangan terlalu banyak pikiran, pokoknya bunda harus segera sehat seperti sedia kala, bisa bermain dengan cucu-cucu Bunda, dengan Chika dan Juna, mereka sangat merindukan bunda!" Kata Dio.
Bu Lian hanya menganggukkan kepalanya sedikit, tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Setelah itu Bu Lian nampak tertidur memejamkan matanya, kemudian Dinda dan Dio pun keluar dari ruangan itu ditemani oleh Pak Frans.
__ADS_1
"Dio, antar istrimu kembali, kasihan Juna Kalau lama-lama ditinggal!" kata Pak Frans.
"Iya Ayah!" jawab Dio.
Kemudian Dio pun menggandeng tangan Dinda pergi meninggalkan ruang ICU itu, kembali ke parkiran mobil, karena mereka akan menjemput Juna yang saat ini sedang dititipkan dengan Bu Lilis di rumah Pak Dirja.
"Mas Dio, kalau aku punya perasaan aneh ya, entah kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak mas!" kata Dinda pada saat mereka baru saja naik ke dalam mobil mereka.
"Sudah lah Dinda, Jangan berpikiran yang aneh-aneh, lebih baik sekarang kita ke rumah Ayah Dirja, dan cepat cepat mengambil Juna, kasihan kalau dia haus dan ingin menyusu, tadi kan persediaan susunya cuma 2 botol saja di rumah Ayah Dirja!" ucap Dio sambil terus melajukan mobilnya keluar dari rumah sakit itu.
"Iya Mas, Mungkin perasaanku saja yang terlalu berlebihan!" sahut Dinda.
Drrrt .... Drrrt... Drrt
Tiba-tiba ponsel Dio bergetar, ada panggilan telepon dari ayahnya, Pak Frans. Dio kemudian menepikan mobilnya itu di pinggir jalan, lalu mulai mengusap layar ponsel yaitu.
"Halo Ayah! Ada apa Ayah?"
"Dio, baru saja bunda Lian menghembuskan nafas terakhirnya, Bunda sudah tidak ada Dio, Bunda sudah pergi!" ucap Pak Frans sambil menangis.
Bagaikan petir di siang bolong, Dio mendengar berita itu, tubuhnya dan tulang-tulangnya terasa lemas seketika, ponselnya yang sejak tadi digenggamnya pun jatuh, dan Dinda terperangah melihat perubahan Dio yang tiba-tiba wajahnya begitu pucat.
"Ada apa mas Dio?" tanya Dinda.
"Dinda, Bunda sudah tidak ada, kata Ayah, Bunda sudah pergi untuk selama-lamanya meninggalkan kita!" jawab Dio dengan suara bergetar.
Bersambung...
*****
Besok episode terakhir guys ..
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya selalu ...
Trimakasih ... 😇😍🤩🤗