Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Persiapan Persalinan


__ADS_3

5 bulan kemudian


Hari ini akan di langsungkan acara 7 bulanan kehamilan Dinda di rumah Dio, Bu Lilis, Bu Lian dan Mbak Yuyun nampak sibuk mempersiapakan keperluan, di bantu oleh seorang asisten rumah tangga yang baru yang bernama Mbak Sri.


Dio mengundang beberapa kerabat, saudara dan rekan-rekan bisnisnya.


Pak Dirja juga Sejak pagi sudah berada di rumah Dio, dia menemani Bu Lilis yang memang sibuk membantu Dinda untuk mempersiapkan segala sesuatunya sehingga acara tujuh bulanan itu berjalan dengan lancar.


Bu Lian dan Pak Frans juga nampak begitu senang, mereka mengundang banyak kolega-kolega mereka untuk menghadiri acara tujuh bulanan cucu mereka.


Terlebih lagi Bu Lian, sudah sejak jauh-jauh hari dia mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari catering, dekorasi dan banyak lagi hal yang lainnya yang sudah dia siapkan.


Hari ini Dinda juga nampak terlihat begitu cantik, dengan busananya, yang semuanya dipadukan dengan bunga melati yang dirangkai dengan begitu indah.


Apalagi wajah Dio, yang nampak selalu tersenyum dan berbinar mamancarkan kebahagiaannya.


Kini rumah Dio menjadi ramai, karena sejak pagi-pagi, beberapa saudara dan kerabat dekat sudah mulai berdatangan.


"Ayah, Mbak Keyla dan Ken datang tidak ya? "tanya Dinda. pada Pak Dirja yang sedang terlihat berbincang dengan Pak Frans dan Dio di ruang keluarga.


"Keyla sedang menunggu harinya bersalin, lagipula saat ini dia tidak bisa kemanapun, suaminya melarang dia untuk pergi walaupun hanya sebentar!" jawab Pak Dirja.


"Iya sih, apalagi sudah harinya, sebentar lagi Mbak Keyla pasti akan melahirkan!" sahut Dinda.


"Makanya nanti setelah acara ini selesai, ayah dan ibu harus cepat-cepat kembali ke rumah, kasihan Keyla tidak ada yang menemaninya di saat-saat seperti ini!" kata Pak Dirja.


"Iya Ayah, aku juga maklum kok, ayah dan ibu tidak apa-apa pulang cepat, Mbak Keyla lebih membutuhkan ayah dan ibu saat ini daripada aku!" sahut Dinda.

__ADS_1


Tiba-tiba Dio nampak menghampiri mereka dan kemudian membisikkan sesuatu pada Dinda lalu menuntunnya naik ke atas menuju ke kamarnya.


"Mas Dio ada apa sih? sebentar lagi acaranya sudah mau dimulai lho, kita malah masuk ke kamar!" tanya Dinda bingung.


Dio kemudian duduk, sambil mengelus perut Dinda dan menciumnya dengan lembut.


"Dinda sayang, terima kasih ya kau sudah jaga dia untuk aku, kau sudah menghadirkan dia dalam hidupku, kini makin sempurnalah kebahagiaan aku!" ucap Dio sambil terus memeluk dan menciumi perut Dinda yang kini terlihat buncit itu.


"Ya ampun Mas! hanya ingin mengatakan hal itu, kamu sampai mengajakku ke kamar segala?" kata Dinda sambil mengacak rambut Dio yang posisinya kini ada di perutnya itu.


"Bukan hanya itu Sayang, Aku juga ingin memberikan hadiah padamu, selama tujuh bulan ini kamu sudah berjerih lelah menjaga dan merawat anakku!" ucap Dio.


"Hadiah??"


Dio kemudian mulai mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, sebuah kotak dan di dalamnya nampak sebuah kunci mobil, Dinda sedikit melotot melihat benda yang dikeluarkan dia itu yang kini ditunjukkan dihadapannya.


"Belakangan ini usahaku semakin maju, dan ini adalah berkat kamu, hadiah ini tidak seberapa dibandingkan dengan dirimu, tapi paling tidak, sekarang kamu bisa pergi kemanapun dengan ini, mengantarkan Chika sekolah, kalau aku tidak sempat untuk mengantar jemputnya!" ucap Dio.


Ada rasa haru dan bahagia yang membuncah di dalam hatinya. Dinda merasa Dio memperlakukannya seperti ratu di rumah ini.


****


"Aaarrrgghh!!"


Terdengar suara jeritan Keyla dari arah kamar mandi kamarnya. Ken yang sedang membaca koran di ruang keluarga, spontan melempar Korannya itu dan berlari kearah kamar, Begitu juga dengan Bi Titi yang terkejut dan mengikuti Ken dari belakang.


Sesampainya dikamar, Ken langsung membuka pintu kamar mandi dan terkejut saat melihat Kayla sedang terduduk di toilet dengan wajah pucat.

__ADS_1


"Sayang?? Ada apa??" tanya Ken panik sambil langsung memeluk istrinya itu.


"Ken, ada flek darah di pakaian dalamku!" sahut Keyla.


"Wah, kata Dokter kan, kalau ada flek darah, berarti sudah mau melahirkan, kita ke rumah sakit sekarang ya!" kata Ken yang langsung membopong Keyla keluar dari kamar mandi dan membaringkannya di tempat tidur.


Perut Keyla sudah terlihat sangat besar dan buncit. Ini sudah waktunya dia melahirkan, hanya tinggal menunggu harinya saja.


"Bi Titi! Tolong bantu mengantarkan barang-barang yang sudah disiapkan ini kedalam mobil, setelah ini aku akan ke rumah sakit, semua tas-tas yang sudah diisi ditaruh di dalam mobil ya!" titah Ken.


"Iya Mas Ken, saya perlu menelepon Pak Dirja tidak?" tanya Bi Titi.


"Tidak usah Bi, ini urgent, nanti saja biar aku yang menelepon mereka, sekarang cepat bantu aku membereskan semuanya, aku akan langsung berangkat ke rumah sakit sekarang juga!" sahut Ken.


Kemudian dengan cepat Ken mengganti pakaian Keyla dan mengangkat Keyla lalu langsung membawanya turun ke bawah, menuju ke mobilnya yang terparkir di garasi depan.


Kemudian dia mulai membantu Keyla untuk masuk ke dalam mobil itu, sementara Bi Titi nampak sibuk memasukkan beberapa barang-barang yang sudah disiapkan sebelumnya ke dalam mobil, untuk persiapan persalinan di rumah sakit.


Tanpa menunggu lama, Ken kemudian segera melajukan mobilnya itu menuju ke rumah sakit.


"Ken, kenapa kau harus buru-buru? tidak konsultasi dulu ke dokter? Ini kan baru tahapan awal!" tanya Keyla sambil mengelus perut buncit nya itu.


"Sudahlah sayang, pokoknya dokter harus memeriksa kamu baik-baik, Mana tahu kamu akan melahirkan sebentar lagi! Aku tidak mau ambil resiko, lebih cepat lebih baik!" sahit Ken yang terus melajukan mobilnya itu, tanpa melihat ke kanan atau ke kiri matanya fokus ke depan.


"Tapi aku belum mulas dan kontraksi Ken!"


"Sudah jangan cerewet, kalau perlu kamu tak usah melahirkan normal saja, aku baca di artikel, katanya melahirkan normal sakitnya ampun-ampun, mana tahan aku melihat kamu kesakitan Sayang!" ucap Ken yang kini mulai memasuki mobilnya di area rumah sakit.

__ADS_1


Bersambung ....


****


__ADS_2