
Dio terdiam menunggu jawaban dari kedua orangtuanya itu, yang kini juga terlihat ikut terdiam mendengar rencana Dio yang akan melamar Dinda.
"Kau serius Dio?" tanya Bu Lian.
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku Bun!" sahut Dio.
"Dio, apa kau sudah mengenal keluarga wanita mu itu?" tanya Pak Frans.
"Aku sudah pernah mengenal Ibunya, dan dia tidak punya Ayah!" sahut Dio.
"Dio, kau tidak akan memilih calon istri sembarangan kan? Ingat Dio, kau butuh seorang wanita yang tepat, bukan hanya menyayangimu tapi juga menyayangi Chika!" ujar Pak Frans.
"Iya Ayah, Dinda menyayangi Chika, dan aku rasa aku tidak salah pilih!" kata Dio.
Bu Lian diam saja sedari tadi, namun wajahnya menunjukan rasa ketidaksukaan.
"Kalau Bunda tidak merestuimu, apakah kau akan tetap melangkah maju Dio??" tanya Bu Lian.
Dio tertegun mendengar ucapan Bundanya itu.
"Aku sangat menghormati Ayah dan Bunda, tapi, tanpa restu kalian apakah artinya hidupku??" sahut Dio.
"Oke, kalau begitu Bunda tidak akan merestuimu!" ujar Bu Lian.
"Bunda, apa Bunda lupa, saat dulu aku pernah menyetujui Perjodohan kalian? Aku dan istriku tidak bahagia Bun! Dan aku tidak mau kembali jatuh ke lubang yang sama!" ucap Dio.
Bu Lian diam saja, kemudian wanita itu berdiri dan melangkah pergi menuju ke kamarnya.
"Dio, siapapun pilihanmu, Ayah tidak masalah, tapi setiap orang tua pada dasarnya ingin yang terbaik buat anaknya!" kata Pak Frans yang kemudian ikut berdiri dan menyusul istrinya ke kamarnya.
Di meja makan itu hanya tinggal Dio yang masih termangu bersama dengan Chika yang sedari tadi hanya diam saja, mendengarkan pembicaraan orang dewasa.
"Papa kenapa sedih? Di marahin Oma ya?" tanya Chika.
"Tidak Chika, sudah malam, Chika tidur yuk!" sahut Dio.
"Aku mau temenin Papa saja, aku tau Papa lagi sedih, Oma tidak suka ya sama Bu Dinda? Besok aku akan bujuk Oma Pa, supaya mengijinkan Papa sama Bu Dinda!" ucap Chika.
__ADS_1
"Bujuk Oma?"
"Iya, aku akan baik-baikin Oma, pijitin Oma, asal Oma ijinkan Papa sama Bu Dinda, aku tidak mau Papa sama yang lain! Apalagi tante Keyla!" ungkap Chika.
"Memangnya kenapa?"
"Waktu kita jalan-jalan aku selalu di cuekin, aku minta gendong saja dia tidak mau, huh sebel!" sungut Chika.
"Sudahlah Chika, kita bobo yuk, sini Papa gendong!" Dio segera mengangkat Chika dalam gendongannya.
Kemudian mereka berjalan ke arah kamar Chika, Dio akan menemani Chika sampai anaknya itu tertidur, setelah itu baru dia kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Mbak Yuyun, aku titip Chika ya, kalau dia menanyakan ku, bilang saja aku sedang keluar cari angin!" Kata Dio yang terlihat kita siap untuk pergi keluar.
"Pak Dio mau kemana? Ini sudah malam lho Pak!" tanya Mbak Yuyun bingung.
"Keluar sebentar Mbak!" sahut Dio yang langsung pergi begitu saja meninggalkan rumahnya itu, dengan menaiki motor besarnya.
Dio terus mengendarai motor besarnya itu melintasi gelapnya malam, sejenak dia ingin melepaskan kepenatan pikirannya.
"Hai Dio! Kemana saja kau?? Lama menghilang!" kata Malik, teman Dio sesama di klub.
"Biasalah! lagi pusing nih! Ayo lah minum sedikit!" Dio merangkul Malik dan masuk ke dalam klub itu.
Terdengar suara musik dan hingar bingar orang-orang yang menikmati suasana di klub itu.
Dio yang sudah lama tidak datang ke klub itu, kini kembali datang untuk sedikit menenangkan pikirannya.
****
Waktu sudah menunjukan pukul dua dini hari, namun Dinda belum dapat memejamkan matanya.
Malam ini Asti tidak menginap di sini, karena ada prospek di bogor. Dinda agak sedikit takut berada di apartemen mewah ini, belum pernah dia tinggal di tempat seperti ini sebelumnya.
Ting ... Tong
Suara bel dari arah pintu apartemen itu mengagetkan Dinda.
__ADS_1
Dengan ragu-ragu Dinda melangkah mendekati pintu, dan perlahan membukanya.
Bruuukk!!
Dio yang ada di depan pintu langsung terjatuh di lantai. Dinda sangat terkejut, Dio datang dalam keadaan mabuk dan tanpa mengabarinya dahulu.
Aroma minuman keras kembali menyengat penciuman Dinda.
"Pak Dio!!"
Dengan susah payah Dinda berhasil memindahkan Dio dan mengangkatnya ke sofa.
Dio terlihat mabuk, matanya merah, dan mulutnya terdengar meracau tidak jelas.
"Apa yang terjadi padamu Pak Dio? Kenapa kau kumat lagi sih? Aku pikir kau sudah tidak suka mabuk-mabukan lagi!" ujar Dinda sambil membuka sepatu dan kaus kaki Dio.
Setelah itu Dinda mulai menyelimuti tubuh Dio, mengompres dahinya yang sedikit demam.
"Dinda ... Dinda ... jangan tinggalkan aku Din!" ucap Dio lirih, tangannya memegang tangan Dinda yang hendak beranjak.
"Iya Pak Dio, aku di sini, tidak akan meninggalkanmu!" bisik Dinda.
Dio memejamkan matanya sambil tangannya memegangi tangan Dinda, seolah sangat takut kehilangan wanita itu.
"Peluk aku!" lirih Dio.
Dinda mengangkat kepala Dio ke dalam pangkuannya.
"Ya, tidurlah! Tenangkan pikiranmu pak Dio, kau pasti sedang ada masalah!" ucap Dinda sambil membelai wajah Dio, menelusuri setiap lakuk wajah tampan itu.
Ada darah yang berdesir menahan rasa, saat Dinda dengan lekat menatap ke wajah itu, wajah laki-laki kesepian yang sangat membutuhkan sosok wanita yang mendampinginya.
Tiba-tiba Dio membuka matanya, lalu dia bangkit dan langsung memeluk Dinda dengan erat, Dinda terkejut mendapat perlakuan Dio yang tiba-tiba itu.
Bersambung....
****
__ADS_1