Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Persiapan Lamaran


__ADS_3

Hampir satu minggu Dio dirawat di rumah sakit, dan hari ini dia sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya oleh dokter.


Wajah Dio terlihat sangat gembira, pasalnya dia sudah tidak sabar untuk meminang Dinda menjadi istrinya.


Siang itu Dinda membantu Dio membereskan pakaian dan barang-barangnya, karena hari ini dia akan pulang ke rumah, sebentar lagi Pak Frans datang untuk menjemput mereka.


Ceklek!


Seorang perawat masuk sambil membawa kursi roda.


"Selamat siang Pak Dio, Mari saya bantu untuk naik ke atas kursi roda! ayah anda sudah menunggu di lobby depan!" kata perawat itu.


Dinda terlihat sedang membawa barang-barang milik Dio.


"Suster, kau tolong bawakan barang-barangku, biar calon istriku saja yang membantuku naik atas kursi roda!" sahut Dio.


"Oh, begitu ya Pak, Baiklah, Mari Bu, saya bawakan barang-barangnya, biar calonnya saja yang membantu Pak Dio, mungkin Pak Dio tidak mau di sentuh dengan yang lain!" ujar Suster itu.


Suster itu kemudian langsung mengambil barang-barang yang sejak tadi dipegang oleh Dinda, kemudian tanpa bertanya lagi Dia segera keluar dari ruangan itu, menuju ke lobby tempat Pak Frans yang sudah menunggunya.


Sementara Dinda perlahan mulai memapah Dio untuk bisa turun dari ranjangnya dan duduk di kursi roda, Setelah selesai Dinda kemudian mendorong kursi roda itu menuju ke lobby.


"Harusnya tadi Mas Dio jangan bilang seperti itu pada suster, Aku kan jadi tidak enak!" ujar Dinda.


"Tidak enak kenapa? Memangnya kau rela calon suamimu dipegang-pegang oleh wanita lain?" tanya Dio.


"Ya bukannya begitu Mas, Tapi dia itu kan perawat, suster, ya wajar saja kalau dia membantu pasien!" sahut Dinda.


"Sudah jangan cerewet, kau turuti saja perkataanku, pokoknya aku tidak akan membuatmu susah kok, begitu saja kok repot!" cetus Dio.


Setelah sampai di lobby, Pak Frans buru-buru mengambil mobilnya di parkiran, dan berhenti tepat di depan lobby.


Sementara dinda membantu dio untuk naik ke dalam mobil, setelah itu mereka langsung meluncur ke rumah Dio.


Tidak berapa lama mereka sudah sampai di rumah Dio.

__ADS_1


Dari arah dalam rumah, Chika nampak berlari-lari menuju ke tempat mobil yang baru saja parkir di garasi itu.


"Bu Dinda! Kok Bu Dinda tidak ngajar-ngajar sih di sekolah? Teman-teman pada kangen tau!" tanya Chika yang langsung bergelayut di tangan Dinda.


"Aduh, maafin Bu Dinda ya, soalnya Papa Dio tidak mau ditinggal, jadi Bu Dinda terpaksa deh, panjang cutinya!" jawab Dinda.


"Kau tenang saja Chika, sebentar lagi kau akan sering bermain dengan ibu guru mu ini, bukan hanya di sekolah, bahkan di rumah juga!" ujar Dio.


"Wah asik! aku bisa pamer deh sama teman-teman, Ayo dong Pa, cepat ajak Bu Dinda ada jadi Mama aku!" kata Chika.


"Iya sayang, kau tenang saja, segala sesuatu kan butuh proses! Pokoknya, Chika ulang tahun, sudah punya Mama!" ucap Dio.


Wajah Chika nampak senang.


Mereka lalu mulai berjalan masuk kedalam rumah itu.


Aroma masakan sudah tercium dari arah ruang makan, Mbak Yuyun nampak sedang menyiapkan hidangan makan siang di meja makan besar itu.


Setelah makan siang siap, mereka kemudian mulai duduk mengelilingi meja makan, yang sudah penuh dengan hidangan makanan yang terlihat sangat nikmat dan menggugah selera. Pak Frans sudah terlebih dahulu duduk disana.


"Terima Kasih Ayah, secepat mungkin aku akan datang ke orang tua Dinda untuk meminangnya! lebih cepat lebih baik! " Kata Dio.


"Tapi bagaimana mungkin kau bisa datang ke rumah ibuku? Sementara untuk berjalan saja kau masih susah mas!" tanya Dinda.


"Kau jangan khawatir Sayang, mulai besok aku akan memanggil si Ujang menjadi supir pribadi ku, selama ini dia hanya santai-santai di kantor!" ujar Dio.


"Nah, kalau itu Ayah setuju! Si Ujang itu tiap bulan dapat gaji, tapi hanya sesekali menjadi sopir!" Timpal Pak Frans sambil menyantap makanannya.


"Kalau begitu itu setelah selesai ini, aku pamit pulang ya, aku tidak enak sudah beberapa hari tidak mempersiapkan bahan untuk mengajar!" ucap Dinda tiba-tiba.


"Kalau kau sudah jadi istriku, aku akan melarangmu untuk mengajar di sekolah! Lebih baik kau di rumah saja menjadi ibu dan guru untuk Chika, dan anak-anak kita kelak!" Kata Dio.


"Bu Dinda jangan pulang! Bu Dinda menginap saja di sini, kan sebentar lagi bu Dinda akan jadi Mama aku!" celetuk Chika.


Dinda semakin salah tingkah, dia tidak tahu lagi harus berkata apa, sebenarnya dia ingin sekali pulang, selain tubuhnya lelah, Dinda juga ingin mengobrol banyak dengan teman-teman sesama guru, terkait soal cutinya yang lumayan panjang itu, dan menanyakan perkembangan anak-anak didiknya.

__ADS_1


Tapi sepertinya dia akan terus menahan Dinda di rumah ini, lagi pula Chika juga mendukungnya, apapun yang Chika mau, Dio pasti akan menurutinya.


****


Akhirnya malam itu, Dinda terpaksa kembali menginap di rumah Dio.


Apalagi kini Pak Frans sudah terbang ke Singapura, tidak ada yang merawat Dio.


Apalagi Dio tidak mau disentuh atau dirawat oleh orang lain selain dirinya.


Dinda menghempaskan tubuhnya di tempat tidur besar itu, yang ada di ruang tamu, Chika sudah tidur sedari tadi, Mbak Yuyun juga Kelihatannya sudah tidur, karena sudah tidak ada lagi suara-suara di dapur.


Perlahan Dinda mengambil ponselnya yang satu hari ini belum sempat dia mengeceknya, ada panggilan tak terjawab dari Bu Lilis ibunya, Dinda kemudian langsung menelepon balik ibunya yang sudah meneleponnya itu.


"Halo ibu, apa kabar? Maaf aku belum sempat mengangkat telepon Ibu tadi, Mas Dio sedang sakit, beberapa hari lalu dia kecelakaan, tapi sekarang Kondisinya sudah membaik, hanya Kakinya masih sakit kalau diajak jalan!" jelas Dinda.


"Wah, Ibu baru tahu kalau Nak Dio sakit, Semoga dia lekas pulih Din, Oh ya, lalu bagaimana rencanamu?" tanya Bu Lilis.


"Sebentar lagi Mas Dio akan melamar aku Bu, dan aku juga sudah memutuskan untuk menerima lamaran Mas Dio, mungkin dalam waktu dekat Mas Dio akan datang ke Bandung!" jawab Dinda.


"Wah syukurlah, mudah-mudahan kali ini kau benar-benar menemukan kebahagiaanmu nak, kalau Nak Dio masih sakit, biar Ibu saja yang datang ke tempatmu, jadi dia tidak usah jauh-jauh datang ke Bandung!" usul Bu Lilis.


"Baiklah Bu, nanti akan aku sampaikan pada Mas Dio, Kasihan juga sih jalan saja dia susah!" sahut Dinda.


"Ya sudah kalau begitu, sudah malam Din, kamu belum mengantuk?" tanya Bu Lilis.


"Belum Bu, Oya, sebelum nanti aku menikah, bolehkah aku minta satu permintaan pada ibu?" tanya Dinda balik.


"Katakan saja Din, apa yang kau inginkan?"


"Bu, aku sangat ingin bertemu dengan Ayah kandung ku!" ucap Dinda.


Bu Lilis langsung terdiam ketika mendengar permintaan Dinda.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2