Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Memperbaiki Hubungan


__ADS_3

Setelah berjalan ke depan, Mbak Yuyun terlihat kembali berjalan ke arah ruang makan.


"Siapa yang datang Yun?" tanya Pak Frans.


"Anu Tuan, teman Tuan yang datang, Pak pengacara Dirja!" kata Mbak Yuyun.


"Oh, suruhlah masuk ke sini, sekalian makan siang sama-sama!" ujar Pak Frans.


"Baik Tuan!"


Mbak Yuyun segera kembali ke depan untuk memanggil Pak Dirja.


Ada yang berdegup kencang di dada Dinda, dia tau Pak Dirja adalah Ayah biologisnya, namun di dalam hati Dinda, dia belum bisa sepenuhnya menerima keberadaan Pak Dirja, apalagi dia belum pernah mengenalnya sejak lahir.


"Mas, aku ke kamar ya!" ucap Dinda pelan.


"Kenapa? Aku ingin menghindari Ayahmu?" tanya Dio.


"Entahlah Mas, pokoknya aku ingin ke kamar saja!" sahut Dinda.


Makanannya nampak masih utuh di piringnya. Mendadak dia jadi tak nafsu makan.


"Tetaplah di sini sayang, walau bagaimana, dia itu adalah Ayahmu, mertuaku!" kata Dio.


Mau tidak mau, Dinda menuruti keinginan suaminya itu.


Tak lama kemudian, Pak Dirja masuk ke ruangan itu, dengan Mbak Yuyun yang berjalan di belakangnya.


"Hei Dirja, bagaimana kesehatanmu? Ayo sini duduklah, kau pasti belum makan siang kan, Yuyun, siapkan piring untuk Pak Dirja!" kata Pak Frans.


Dengan cepat Yuyun mengambilkan piring makan dan melayani Pak Dirja yang kini duduk di sebelah Pak Frans.


Dinda semakin merasa canggung dengan kehadiran Pak Dirja, terlebih saat Pak Dirja yang menatap ke arahnya.


"Oya Dirja, aku dengar kau dan Ibunya Dinda itu pernah ada hubungan, berarti kau ini adalah besan kami, hanya saja kau tidak hadir di pernikahan putrimu karena sakit!" kata Pak Frans.


"Iya, maksud kedatanganku ke sini, aku hanya ingin mengobrol sebentar dengan Dinda!" sahut Pak Dirja.


"Wah, silahkan saja, kalian bisa mengobrol sepuasnya nanti setelah selesai makan siang!" sahut Bu Lian.


"Trimakasih!" ucap Pak Dirja yang mulai menyantap makanannya.

__ADS_1


Sejak tadi Dinda hanya diam saja, sampai mereka semua telah selesai makan siang.


Pak Frans dan Bu Lian nampak pergi ke luar dengan mengajak Chika, memberikan kesempatan Pak Dirja untuk mengobrol dengan Dinda.


Barangkali Pak Dirja ingin memperbaiki hubungan dengan putrinya, setelah sejak Dinda lahir mereka tidak pernah bertemu.


Pak Dirja sudah duduk menunggu Dinda di ruang tamu, setelah dia selesai makan siang.


"Mas, temani aku!" kata Dinda sambil menggenggam erat tangan suaminya itu, dia tidak mau mengobrol hanya berdua saja dengan Pak Dirja.


"Oke!"


Dio menemani Dinda mengobrol dengan Ayahnya di ruang tamu rumahnya itu.


"Dinda, Ayah ingin, sesekali kau menginaplah di rumah Ayah, Ayah sangat merindukanmu Nak!" ucap Pak Dirja.


Dinda diam saja, hanya melirik ke arah suaminya, seolah meminta pendapat.


"Dinda mungkin masih canggung Ayah, maklum saja, dia baru bertemu dan mengenal Ayahnya!" kata Dio, mewakili isi hati Dinda.


"Yah, kamu benar, sekarang katakan padaku, bagaimana aku harus menebus semuanya, Dinda, ayo katakan pada Ayah, apa yang harus Ayah lakukan, agar kau bisa dengan bangganya mengakui Ayah sebagai Ayahmu??" tanya Pak Dirja.


"Maaf Ayah, aku hanya ... belum terbiasa bersama dengan Ayah!" ucap Dinda.


"Nak, sekali Ayah minta maaf, telah menjadi Ayah yang tidak bertanggung jawab padamu, membiarkan Ibumu seorang diri menanggung semuanya, Ayah sungguh merasa sangat berdosa padamu juga Ibumu!" ungkap Pak Dirja.


"Sudahlah Ayah, sudah berapa kali Ayah minta maaf, aku juga sudah memaafkan Ayah!" sahut Dinda.


"Ayah sangat ingin sekali menebus semuanya itu, terutama pada Ibumu!" lanjut Pak Dirja.


"Apa maksud Ayah?" tanya Dinda.


"Ayah ... Ayah bermaksud menikahi Ibumu, menjadikannya ratu di rumah Ayah, memberikannya kebahagiaan di sisa umurnya, di masa tua kami!" jawab Pak Dirja.


Dinda terkesiap mendengar ucapan dari Ayahnya itu, Dio juga terlihat terkejut.


"Ayah serius ingin menikahi Ibu Lilis?" tanya Dio nyaris tak percaya.


"Iya Nak, makanya Ayah meminta ijin dan restu kalian, aku seorang duda, Ibumu juga hidup sendiri, apa salahnya kalau kami di persatuan dalam ikatan pernikahan? Supaya kami bisa saling mengisi kekosongan!" ungkap Pak Dirja.


Dinda dan Dio hanya saling berpandangan.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Keyla Ayah?" tanya Dio.


Tiba-tiba wajah Pak Dirja berubah mendung.


"Keyla tidak setuju Ayah menikah dengan Ibu Lilis!" jawab Pak Dirja lirih.


"Aku tau perasaan Mbak Keyla, dalam hal ini, Ayah dan Ibu salah karena melakukan hubungan terlarang, kalau aku jadi dia, aku juga akan melakukan hal yang sama!" kata Dinda.


"Lalu Ayah harus bagaimana?" tanya Pak Dirja yang kini nampak frustasi.


"Ayah tunggu saja sampai Keyla mengijinkan Ayah menikah lagi!" jawab Dio.


"Baiklah, Ayah akan lebih bersabar lagi, Dinda, bolehkah Ayah memelukmu sebentar saja? Ayah rindu Nak!" pinta Pak Dirja.


Dinda menoleh ke arah Dio, Dio menganggukan kepalanya.


Setelah itu Dinda maju mendekati Pak Dirja, mereka mulai berpelukan sambil menangis, suasana haru menyelimuti ruangan itu.


****


Sementara itu di tempat kediaman nya, Keyla nampak bersiap-siap akan pergi ke luar.


"Mbak Keyla mau kemana?" tanya Bi Titi.


"Suka-suka aku mau pergi kemana! Bukan urusan Mbak Titi!" cetus Keyla.


"Tapi Pak Dirja pesan Mbak Keyla jangan kemana-mana!" sahut Mbak Titi.


"Bodo amat! Ayah juga sudah tak perduli lagi padaku!" ujar Keyla yang langsung menyambar tasnya dan kunci mobilnya.


Setelah itu dia langsung mengendarai mobilnya itu keluar dari rumahnya.


Mbak Titi yang tidak mau di salahkan, kemudian langsung buru-buru menelepon Pak Dirja, dari telepon rumah di meja telepon yang ada di ruangan itu.


"Halo!"


"Maaf Pak Dirja, Mbak Keyla pergi keluar Pak, saat saya tanya dia tidak menjawab mau pergi kemana!" kata Bi Titi.


"Ya Tuhan, semoga dia tidak melakukan yang tidak-tidak!" gumam Pak Dirja cemas dari seberang telepon.


Bersambung ....

__ADS_1


****


__ADS_2