
Dio memarkirkan mobilnya di pelataran parkir sekolah, setelah itu dia langsung berjalan ke arah lobby sekolah untuk menunggu Chika.
Teeeet .... Teeeet
Bertepatan dengan suara bel pulang sekolah berbunyi, murid-murid mulai berhamburan keluar dari kelasnya.
Namun sudah beberapa menit menunggu, Chika belum juga muncul, biasanya anak itu paling duluan berlari pulang saat bel berbunyi.
Suasana di lobby sudah agak sepi, karena sebagian murid sudah pulang ke rumahnya masing-masing.
Baru saja Dio hendak beranjak naik ke atas, Bu Dita nampak turun dari arah tangga.
"Ehm, selamat siang Pak Dio, mohon maaf, hari ini Chika ada tambahan untuk nyanyi di acara hari kemerdekaan, sekolah kami ikut lomba, kebetulan Chika terpilih untuk mewakili sekolah!" kata Bu Dita.
"Oya? Kira-kira berapa lama ya Bu? Kenapa tidak ada pemberitahuan?" tanya Dio.
"Iya mohon maaf Pak, karena anak-anak yang terpilih memang harus latihan, karena waktu yang mendesak, sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanannya!" ucap Bu Dita.
"Jadi saya harus menunggu berapa lama lagi?" tanya Dio.
"Kurang lebih sekitar setengah jam Pak, mohon bersabar menunggu ya!" jawab Bu Dita.
"Baiklah, saya akan menunggu di lobby saja!" ujar Dio yang kembali melangkah dan duduk di bangku lobby.
Bu Dita lalu ikut duduk di sebelah Dio, sehingga Dio merasa sedikit risih.
"Ehm, Pak Dio, jikalau ingin meminum sesuatu, bisa pesan di kantin, saya pesankan ya Pak!" tawar Bu Dita.
"Tidak usah Bu, trimakasih!" Tolak Dio.
"Tidak apa-apa Pak, lumayan lama lho menunggu Chika latihan, mau ya Pak!" kata Bu Dita sedikit memaksa.
"Maaf Bu, bukankah Ibu Dita guru kesenian ya, seharusnya mendampingi murid latihan nyanyi, kenapa malah mengurusi saya di sini?" tanya Dio.
"Oh, di atas sudah ada guru khusus vokal Pak, sejak saya menjadi wali kelas, saya sudah tidak sepenuhnya memegang mata pelajaran kesenian!" jawab Bu Dita.
Tiba-tiba dari arah tangga muncul Bu Ribka yang terlihat bersiap akan pulang.
"Lho, Bu Dita ada di sini to, tadi Pak Roni mencari Ibu lho!" ujar Bu Ribka.
"Oya? Kalau begitu saya ke atas sekarang deh!" sahut Bu Dita yang langsung bergegas naik ke atas.
"Pak Dio, maaf ya, Bu Dita memang seperti itu, sebagai seorang guru, sebenarnya saya malu juga lho atas sikap Bu Dita terhadap Pak Dio!" ucap Bu Ribka.
"Iya Bu, saya juga sangat risih, kalau bisa, wali kelas Chika di ganti saja, kalau begini terus kan jadinya tidak nyaman!" sahut Dio.
__ADS_1
"Nanti saya akan coba sampaikan keluhan Bapak ke Pak Roni selaku kepala sekolah, karena hanya beliau yang berwenang memutuskan sesuatu!" kata Bu Ribka.
"Trimakasih Bu!" ucap Dio.
"Baiklah Pak, kalau begitu saya mohon pamit mau pulang!"
"Silahkan Bu!"
Bu Ribka langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu keluar.
Sambil menunggu Chika, Dio kemudian mulai merogoh ponselnya, dia hendak bermain game online.
Namun dia membaca notifikasi yang ada di ponselnya itu, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Dinda, karena Dio tidak mengaktifkan suara di ponselnya, makanya dia tidak tau.
Dengan cepat Dio segera menelpon balik Dinda.
"Halo Mas!"
"Sayang, ada apa? Aku masih menunggu Chika, dia ada latihan vokal buat acara 17an!" kata Dio.
"Mas, nanti langsung pulang saja ya!" kata Dinda.
"Iya sayang, ini masih menunggu Chika, mungkin sekitar setengah jam lagi dia baru selesai!" jawab Dio.
"Hmm, istriku ini aneh sekali, tidak biasanya bersikap seperti ini, ada apa sih sayang?" tanya Dio bingung.
"Mas, aku punya kejutan untukmu, pokoknya kamu cepat pulang ya Mas!"
"Kejutan? Kejutan apa?"
"Ada deh!"
"Tapi kan aku mau mampir ke toko buah dulu, katanya mau durian?"
"Tidak jadi Mas! Pokoknya Mas Dio saja yang aku mau!" sahut Dinda.
"Hmm, aneh, buat orang penasaran saja!" gumam Dio.
"Oke deh Mas, aku tunggu ya, I Love you!" ucap Dinda sebelum menutup panggilan teleponnya.
Dio hanya geleng-geleng kepala mendengar Dinda yang berbeda dari biasanya itu.
"Papa!"
Tiba-tiba Chika sudah berlari-lari ke arah Dio.
__ADS_1
"Lho, Chika sudah selesai?" tanya Dio.
"Sudah Pa, yuk pulang yuk, aku capek!" sahut Chika.
"Oke deh, tadi Mama juga sudah telepon, kita pulang sekarang ya!" kata Dio.
Chika menganggukan kepalanya, lalu Dio segera menggandeng tangan Chika keluar dari lobby dan menuju ke parkiran.
Mereka lalu segera meninggalkan sekolah menuju ke rumahnya kembali.
"Chika, kok tadi cuma Chika yang keluar dari kelas sendirian?" tanya Dio.
"Aku bosan Pa, masa nyanyi saja di ulang-ulang, capek tau!" cetus Chika.
"Hahaha Chika ... Chika, lalu bagaimana cara kamu ijin pulang duluan?" tanya Dio.
"Aku pura-pura ke toilet, padahal turun ke bawah, biarkan saja mereka semua bingung mencari aku!" sahut Chika cekikikan.
"Ah, dasar kamu, cerdik juga anak Papa!" sahut Dio sambil mencubit gemas pipi Chika.
Tak lama kemudian mereka sudah tiba di rumah, seperti biasa, Mbak Yuyun langsung dengan sigap membawakan tas sekolah Chika, lalu membantu Chika berganti seragam dan membersihkan tubuhnya.
Bu Lilis terlihat sedang menata meja makan yang sudah tersaji aneka makanan untuk makan siang.
"Selamat siang Bu, Dinda di mana ya?" tanya Dio.
"Mungkin di kamarnya Nak Dio, sejak tadi dia bahkan belum turun ke bawah!" jawab Bu Lilis.
Tanpa bertanya lagi, Dio segera melangkah menuju ke kamarnya.
Setelah sampai di kamarnya, Dio langsung membuka pintu kamarnya itu tanpa mengetuk nya terlebih dahulu.
"Dinda! Sayang! Kamu di mana?" panggil Dio yang menjumpai kamar itu kosong.
"Aku di sini Mas!" Terdengar suara Dinda dari arah tempat tidur di bawah selimut.
Perlahan Dinda menyibakan selimut yang ada di tempat tidurnya itu.
Mata Dio melotot saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya itu.
"Oh My God!" desisnya perlahan.
Bersambung ...
*****
__ADS_1