Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Rahasia Pak Dirja


__ADS_3

Pak Dirja sudah di bawa dan di pindahkan ke ruangan perawatan.


Keyla masih duduk terpekur sambil memandangi Ayah satu-satunya itu yang masih terbaring lemah tak berdaya.


Hanya mereka berdua di ruangan itu, Dio sudah pulang sejak tadi.


Pak Dirja terlihat mulai mengerjapkan matanya.


"Ayah ..."


Keyla menggenggam erat tangan Ayahnya itu.


Jelas terlihat ada kecemasan yang mendalam di wajah keyla, selama ini hanya Pak Dirja saja ayahnya yang selalu menemani dalam hidupnya, setelah mamanya pergi untuk selamanya.


"Ayah di mana Key?" tanya Pak Dirja.


"Ayah ada di rumah sakit, Ayah tadi pingsan di bawah meja telepon, sebenarnya apa yang terjadi Ayah?" tanya Keyla balik sambil menatap wajah ayahnya itu.


Wajah Pak Dirja terlihat begitu mendung dan sendu, seperti ada beban berat dan rahasia yang tersembunyi dari anaknya itu selama bertahun-tahun lamanya.


Pak Dirja ingin sekali menceritakan rahasia hidupnya pada Keyla putrinya itu, namun sepertinya Pak Dirja selalu menundanya dan dia terlihat sangat ragu-ragu.


Pak Dirja takut melihat reaksi Keyla kalau dirinya tahu ada rahasia penting dalam hidup Pak Dirja yang dia tidak ketahui.


"Ayah kenapa? Kenapa wajah Ayah terlihat sedih? Padahal dulu apapun selalu Ayah ceritakan padaku!" tanya Keyla sambil bersandar di sisi tempat tidur Ayahnya.


"Key ... Maafkan Ayah!" ucap Pak Dirja lirih.


"Kenapa Ayah harus minta maaf? Ayah tidak salah!" sahut Keyla.


"Ayah salah Nak, maafkan Ayah!" sahut Pak Dirja.


Dia lalu memegang dada kirinya karena terasa nyeri.


"Sudahlah Ayah, Ayah jangan banyak bicara dulu, sebaiknya Ayah istirahat saja!" tukas Keyla sambil menarik selimut dan menutupi tubuh ayahnya itu.


Pak Dirja nampak menarik nafas dan mengatur nafasnya yang tak beraturan.


Ceklek!


Seorang perawat masuk untuk memasang kateter dan memperbaiki selang infus.


"Maaf Mbak, Ayahnya jangan di ajak bicara terlalu serius, kondisinya belum stabil, sewaktu-waktu dia bisa kambuh!" kata Suster itu.


"Baik suster!" jawab Keyla singkat.


Keyla kemudian duduk di sofa yang ada di sudut ruangan itu, sambil menunggu suster yang sedang menangani ayahnya.


Karena kesepian, Keyla mulai merogoh tasnya dan mengambil ponselnya.


Dia berniat akan menelepon Ken, teman terdekatnya.


Karena hanya Ken yang selalu menyediakan waktu untuknya sejak dulu.


"Halo Ken, bisakah kau ke rumah sakit sebentar? Temani aku Ken!" tanya Keyla.


"Di rumah sakit mana Mbak? Siapa yang sakit?"


"Ayahku sakit Ken, ini di rumah sakit sepupumu, ayolah Ken, aku butuh teman!" kata Keyla.


"Baiklah Mbak, aku otw sekarang!"


Tak lama kemudian telepon di tutup.


Malam sudah berganti menjadi dinihari, tidak sedikitpun rasa kantuk yang hinggap di tubuh Keyla, namun matanya menyiratkan kelelahan yang amat sangat.


Pak Dirja nampak masih nyenyak tertidur, karena pengaruh obat yang di berikan oleh Dokter.


Perlahan Keyla bangkit dan berjalan mendekati Pak Dirja yang masih berbaring itu.


"Ayah, Sebenarnya apa yang ingin Ayah bicarakan padaku? Ada hal penting apa yang Ayah ingin sampaikan padaku? Selama ini, Ayah adalah orang yang paling jujur di dunia, tapi kenapa sekarang Ayah seperti menyimpan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu!" gumam Keyla.


Pak Dirja hanya diam saja dalam tidurnya, tidak menjawab atau pun merespon apa yang diucapkan oleh Keyla.


Keyla kemudian beringsut duduk di samping ayahnya, dan kembali menggenggam tangannya itu dengan hangat.


Ceklek!


Ken yang sudah datang, langsung berjalan menghampiri Keyla.


"Ayahmu sakit apa Mbak Key?" tanya Ken yang langsung duduk di samping Keyla.


"Entahlah Ken, aku juga tidak tau, tadi Bi Titi yang menemukan Ayah pingsan di bawah meja telepon!" jawab Keyla.

__ADS_1


"Kau tenang saja Mbak, nanti juga Ayah mu akan sembuh lagi, lebih baik Mbak Keyla istirahat saja di sofa, biar aku di sini yang menunggui Ayahmu!" tawar Ken.


"Trimakasih Ken, kalau kau tak datang aku pasti akan sangat kesepian sekali!" ucap Keyla.


"Kita kan sudah kenal lama Mbak, jangan sungkan begitulah!" sahut Ken.


"Iya Ken, sama-sama tau belang masing-masing!"


"Mungkin karena kita satu server! Jadi ya cocok lah untuk berteman, Oya Mbak, nih tadi aku bawakan nasi goreng, aku tau kau pasti lapar, makanlah!" kata Ken sambil menyodorkan satu bungkus nasi goreng ke arah Keyla.


"Trimakasih Ken!" ucap Keyla.


"Oya Mbak, tadi katanya Om Dirja pingsan di bawah meja telepon, memangnya dia baru mendengar kabar apa yang membuatnya begitu shock sampai pingsan?" tanya Ken.


"Aku juga bingung Ken, tadi Ayah sempat sadar, dan tiba-tiba meminta maaf padaku, seperti ada yang dia sembunyikan, tapi aku tidak tau apa itu!" sahut Keyla.


"Mungkin saja memang ada rahasia yang beliau simpan selama ini!"


"Entahlah Ken, Kepalaku pusing, dan aku tidak mau berpikir apapun atau ini!" cetus Keyla sambil menelungkupkan kepalanya di sisi ranjang Ayahnya.


Ken berinisiatif untuk memijiti punggung Keyla dengan tangannya.


"Kau pasti sangat lelah, semoga pijatan ini dapat membuatmu relax!" ucap Ken.


"Terimakasih!"


"Oya Mbak, sudah dengar kan, kalau minggu depan itu, Dinda dan si duda itu akan menikah?" tanya Ken.


"Sudah Ken, kau jangan bahas itu, hatiku sakit!" sahut Keyla.


"Memangnya Mbak Key saja yang sakit, hatiku juga sakit Mbak, kau tau kan Dinda itu dulu tunanganku!" ujar Ken.


"Dinda akan di nikahi orang, kau diam saja??" tanya Keyla.


"Lalu aku harus bagaimana?? Menculiknya dan memperkosanya, begitu??" sahut Ken.


Keyla terdiam mendengar perkataan dari Ken, saat ini mereka memang tidak dapat melakukan apa-apa, terlebih lagi menggagalkan rencana pernikahan Dio dan Dinda.


Meskipun Keyla begitu sakit hati, karena setiap kali dia menyukai seseorang, namun dia tidak pernah mendapatkan orang yang dia sukai itu.


Tidak ada yang pernah dapat mengerti dan memahami dia selain daripada Ken, yang sudah dia anggap seperti Adiknya sendiri.


"Kok diam Mbak? Mbak Key juga sakit hati kan, duda incaran mu di ambil orang!" ledek Ken.


"Mbak Keyla sih, seleranya ketinggian, ya Dokter lah, pengusaha lah! Sekali-kali dong menyukai laki-laki biasa!" lanjut Ken.


"Sudah Ken, aku sedang tidak ingin membahas itu, lebih baik kau diam saja, atau akan membuat kepalaku tambah pusing!" sungut Keyla.


"Oke oke, sana istirahat dulu, aku akan menunggu di sini!" ujar Ken.


Keyla menganggukan kepalanya dan berjalan ke arah sofa, untuk menyandarkan punggungnya.


****


Sementara itu di apartemennya, Dinda nampak bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.


Walaupun dia kurang tidur semalam, Karena pulang terlalu larut dengan ibunya, namun Dinda berusaha untuk tetap segar bangun pagi-pagi, mandi dan langsung berpakaian.


Bu Lilis juga nampak sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


Wanita itu juga terlihat sangat lelah, apalagi Setelah sejak sore dia pergi untuk mencari alamat mantan majikannya dulu, yang merupakan ayah kandung Dinda, meskipun alamat yang dituju sudah berubah.


"Dinda, kalau Ibu tidak bisa memenuhi permintaanmu untuk bertemu dengan ayahmu, kau tidak marah kan?" tanya Bu Lilis sambil menata meja makan yang ada di hadapannya itu.


"Memangnya alamat yang Ibu cari kemarin itu benar-benar sudah berubah? Ibu tidak nyasar kan? Atau jangan-jangan Ibu lupa?" tanya Dinda balik.


"Tidak nak, kalau untuk alamat ayah kandungmu, Ibu tidak akan pernah lupa seumur hidup, karena ibu bekerja cukup lama di rumah itu, tapi sayang rumah itu Kelihatannya sudah digusur, dan sekarang berubah menjadi gedung pencakar langit yang tinggi!" jawab Bu Lilis.


Dinda menarik nafas panjang, sesungguhnya dia agak sedikit kecewa karena ibunya tidak berhasil menemukan alamat Ayah kandungnya.


Padahal Dinda ingin sekali bertemu dengan ayah kandungnya, yang selama ini tidak pernah disentuh dan bertemu muka langsung, hanya lewat foto dan itu pun tidak terlalu jelas karena sudah dimakan usia.


Dinda tidak tahu lagi Bagaimana caranya supaya dia bisa menemukan Ayah kandungnya itu, sebelum hari pernikahannya.


"Bu ..."


"Iya Din?"


"Beberapa waktu yang lalu, motorku pernah menabrak mobil seseorang, pada saat yang punya mobil itu turun, wajahnya sangat mirip dengan foto ayah, hanya saja yang ini terlihat lebih tua, dan wajahnya sudah terlihat keriput, tapi secara keseluruhan, semuanya sangat mirip!" ungkap Dinda.


"Lalu?"


"Aku berusaha untuk memanggilnya, tapi dia sudah keburu pergi, apakah mungkin dia itu adalah Ayahku Bu?" tanya Dinda.

__ADS_1


"Ibu tidak tahu Din, bisa jadi dia adalah ayahmu, tapi sepertinya ibu menemukan jalan buntu untuk bisa bertemu dengannya lagi!" ucap Bu Lilis, wajahnya menyiratkan kesedihan yang dalam.


"Boleh aku bertanya sesuatu Bu?" tanya Dinda.


"Silahkan Din!"


"Apakah Ibu mencintai Ayah?" tanya Dinda.


Bu Lilis terperangah mendengar pertanyaan dari Putri semata wayangnya itu, dia tidak pernah menyangka sebelumnya kalau Dinda akan bertanya seperti itu padanya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu Dinda?" tanya Bu Lilis.


"Aku hanya ingin tau Bu!"


"Dulu Ibu hanya mengagumi ayahmu, karena dia adalah orang yang hebat, sebagai majikan, dia tidak sombong, dan sikapnya sangat lembut pada setiap bawahannya termasuk ibu, dan entah kenapa, ibu selalu berdebar saat berada dekat dengan ayahmu, dan dia pernah bilang kalau dia nyaman berada bersama dengan ibu, hingga... kami melakukan suatu kesalahan besar!" ungkap Bu Lilis.


Air matanya mulai terlihat menetes membasahi pipinya.


"Cukup Bu, hentikan! Aku sudah tahu kesalahan apa yang ibu lakukan bersama dengan ayah, sebenarnya aku sangat ingin sekali bertemu dengan ayahku, tapi kalau takdir tidak mengizinkannya apa boleh buat?" ucap Dinda.


"Maafkan ibu ya nak!"


Dinda menganggukan kepalanya dan langsung memeluk Ibunya itu.


Ting ... Tong ...


Terdengar suara bel yang berasal dari pintu Apartement, Dinda kemudian melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah pintu lalu membuka pintu itu dengan perlahan.


Si Ujang, supir pribadi Dio sudah berdiri tepat di depan pintu Apartement Dinda.


"Selamat pagi Bu Dinda, Pak Dio menyuruh saya untuk mengantarkan Bu Dinda Berangkat mengajar ke sekolah!" kata Ujang.


"Oh, sebentar ya Jang!"


Dinda masuk untuk mengambil tasnya Karena dia sudah siap untuk berangkat ke sekolah.


"Kau sarapan dulu lah Din, suruh si Ujang itu menunggu sebentar!" kata Bu Lilis.


"Ini aku bawa saja untuk bekal Bu, lagi pula aku tidak terlalu lapar pagi ini, Aku janji aku akan langsung memakannya saat aku tiba di sekolah nanti!" jawab Dinda yang langsung memasukkan beberapa roti ke dalam sebuah kotak makan.


Setelah itu, Dinda Langsung kembali ke depan dan turun ke bawah, berjalan dibelakang Ujang yang sudah terlebih dahulu berjalan di depannya.


Setelah sampai di parkiran, Ujang membukakan pintu mobil untuk Dinda.


Setelah Dinda naik kedalam mobil itu, Ujang segera melajukan mobilnya itu meninggalkan apartemen dan menuju ke sekolah Dinda.


Tidak Berapa lama kemudian, Dinda pun sudah sampai di sekolah, dia langsung berjalan ke arah lobby.


Beberapa murid dan guru yang berpapasan dengan Dinda, kemudian saling bersalaman, Dinda langsung naik ke atas menuju ruang konseling, dia tidak lagi ke ruang guru dan berbaur dengan beberapa guru di sekolah itu, karena Dinda sudah memiliki ruangannya sendiri yang khusus.


Sejak warga sekolah tahu kalau Dinda akan menikah dengan Dio, dan undangannya pun sudah tersebar melalui media sosial, entah mengapa Dinda merasa seperti ada jarak diantara dia dan rekan sesama guru yang lain.


Dulu yang biasanya mereka saling bertegur sapa, kini semua berubah menjadi aneh, seolah-olah Dinda telah melakukan suatu kesalahan yang sangat besar, yang membuat mereka enggan menyapa Dinda atau paling tidak mengobrol dengannya.


Apalagi sekarang Dinda berada di ruang yang tersendiri di lantai tiga, ruang khusus yang hanya dirinya sendiri yang memiliki ruangan itu.


Ceklek!


Bu Dita, salah satu rekan kerja yang paling dekat dengan Dinda, masuk ke ruangan itu, dia langsung duduk di hadapan Dinda yang sedang duduk melamun di kursi kebesarannya itu.


"Bu Dinda, kenapa tidak bergabung di ruang guru? Sebenarnya kita semua kangen lho sama Bu Dinda, tapi sepertinya Bu Dinda menarik diri, apakah karena Bu Dinda hendak menikah dengan Pak Dio?" tanya Bu Dita.


"Oh bukan Bu Dita, jujur saya merasa tidak enak, Sejak saya banyak mengajukan cuti, lalu mengenai undangan pernikahan itu, saya jadi merasa seolah-olah saya ini terlalu banyak sensasi di sekolah ini!" jawab Dinda.


"Siapa bilang Bu? Itu hanya perasaan Bu Dinda saja, sudah ya, aku mau masuk kelas dulu, Pak Roni pasti marah kalau aku terlambat masuk!" ujar Bu Dita yang langsung keluar begitu saja meninggalkan ruangan Dinda.


Selang beberapa menit Bu Dita keluar dari ruangan Dinda, tiba-tiba Mister Sam masuk ke ruangan Dinda.


"Bu Dinda, hati-hati dengan Bu Dita, dia itu musang berburu domba, jangan terlalu percaya pada ucapannya!" kata Mr. Sam.


"Kenapa Mr bilang begitu? Tidak boleh berburuk sangka Mr!" tukas Dinda.


"Siapa yang buruk sangka? Aku ini sudah lama di sekolah ini, jadi tau segalanya, asal kau tau ya, Bu Dita itu dulu pernah mati-matian mengejar Papanya Chika, tapi tidak berhasil!" jelas Mr. Sam.


"Lalu apa untungnya kau membicarakan Dia??"


"Aku hanya memperingatkan mu, hati-hati, itu saja!" sahut Mr. Sam.


"Justru aku yang harusnya berhati-hati padamu Mr. Sam!" cetus Dinda sambil menatap tajam ke arah guru bahasa Inggris itu.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2