Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Permintaan Pak Dirja


__ADS_3

Malam itu sehabis mandi dan membersihkan dirinya, Dio bersiul-siul sambil memakai pakaiannya.


Hari ini Dio merasa bahagia, karena tadi dia sudah menjemput Dinda di stasiun, dan dia yakin Dinda mau menerima lamarannya menjadi istrinya.


Entah mengapa malam ini dia begitu bahagia, sejak tadi dia bersenandung dan kadang-kadang menggoyangkan tubuhnya menari-nari untuk mengungkapkan rasa kebahagiaannya itu.


🎵 Bila habis semua cinta ini, tak lagi tersisa untuk dunia, karena tlah ku habiskan, sisa cintaku hanya untukmu 🎵


"Aduuuuh, Papa berisik banget deh! Dari tadi nyanyi terus!!" sungut Chika yang tiba-tiba muncul di dalam kamarnya.


"Ya kan Papa habis bahagia ketemu Bu Dinda!" sahut Dio sambil menyisir rambutnya.


"Terus sekarang Papa mau kemana? Rapi banget, wangi lagi!" tanya Chika sambil mengendus-endus baju Dio.


"Papa mau ajak Bu Dinda dinner dong!" sahut Dio.


"Diner?? Makan malam?"


"Yess!"


"Didn't invite me?"


"Sorry, Papa lagi ingin berdua saja sama Bu Dinda, tapi Papa janji akan mengajak Chika kalau kita jalan-jalan!"


"Tapi aku mau ikut!" cetus Chika.


"Chika please ..."


"Aku janji tidak akan menganggu Papa, kalau mau romantisan sama Bu Dinda, kalau Papa ciuman aku akan tutup mata!" kata Chika sambil menyodorkan kelingkingnya.


"Hmm, oke, kalau begitu siap-siap sana, ganti baju yang cantik ya!" ujar Dio.


"Yess, Oke Papa!"

__ADS_1


Dengan cepat Chika berlari dari kamar Dio menuju ke kamarnya, dan dia langsung berganti pakaian.


Dio langsung keluar dari kamarnya saat sudah rapi dan siap, dua segera turun ke bawah.


Ting ... Tong ...


Tiba-tiba terdengar suara bel dari arah gerbang depan, tak lama kemudian Bang Jarwo, security itu masuk bersama dengan seseorang di sebelahnya.


"Pak Dio, ini ada Pak Dirja yang ingin bertemu dengan anda!" kata Bang Jarwo.


"Oh, silahkan duduk Om!" ucap Dio ramah.


Pak Dirja segera duduk di ruang tamu itu, sementara Bang Jarwo sudah kembali berjaga di gerbang depan.


"Maaf lho Nak Dio, mengganggumu malam-malam!" ucap Pak Dirja.


"Tidak apa-apa Om, kebetulan pas saya ada di rumah, ngomong-ngomong ada apa ya kok tiba-tiba Om Dirja datang ke rumah? Ayah masih di Singapura Om!" tanya Dio.


Pak Dirja nampak menarik nafas panjang, seperti ada suatu beban yang menghimpit dadanya, pandangannya menerawang dan kemudian dia mulai kembali menatap kearah Dio yang masih duduk dihadapannya itu.


"Minta tolong? Minta tolong apa Om? Kalau saya bisa pasti saya bantu Om!" tanya Dio.


"Ini soal Keyla Dio!"


"Keyla??"


"Jujur Om sangat mengkhawatirkan keyla, usianya bahkan sudah hampir kepala tiga, namun dia masih belum di pertemukan dengan jodohnya!" ungkap Pak Dirja.


"Maaf Om, jodoh itu bukan seperti makanan yang bisa kita mau sesuka hati kita, mungkin akan ada waktunya nanti Keyla akan dapat menemukan jodohnya!" ucap Dio.


"Nak Dio, apakah kau tidak bisa membuka hatimu sedikit untuk keyla, kau tau, hanya Keyla yang Om punya saat ini, setelah Mamanya tiada!" ungkap Pak Dirja, wajahnya terlihat sendu.


"Aku minta maaf Om, aku sudah punya pilihan sendiri, dan itu bukan Keyla ..." lirih Dio.

__ADS_1


"Apakah Keyla begitu buruk bagimu Dio? Kau tau dia bukan wanita yang mudah menjatuhkan hatinya, seleranya begitu tinggi, dan karena itu dia tak kunjung mendapat jodohnya!" kata Pak Dirja.


"Bukan begitu Om, kalau aku tidak bisa menerima Keyla, bukan berarti dia buruk, maafkan aku Om, untuk kali ini aku tidak bisa membantu Om!" ungkap Dio.


Tiba-tiba Chika masuk ke dalam ruangan tamu itu dia langsung duduk di samping Dio Papanya.


"Pa katanya kita mau pergi, aku sudah siap dari tadi tau!" sungut Chika.


"Tunggu sebentar Chika, Papa kan lagi ada tamu!" sergah Dio.


"Kalian mau keluar rupanya, kalau begitu, Om pamit dulu ya, permisi selamat malam!" ucap Pak Dirja yang langsung berdiri dari tempatnya.


Setelah itu Pak Dirja keluar dari ruangan itu, dan kembali ke arah mobilnya yang terparkir.


Dio hanya bisa menatapnya dari depan teras rumahnya, dalam hati dia sangat prihatin dengan Pak Dirja.


Selama ini yang dia tahu Pak Dirja hanya tinggal berdua dengan Keyla, Pak Dirja sangat menyayangi Keyla karena hanya Keyla lah anak satu-satunya yang dimiliki oleh Pak Dirja, apalagi kini Mamanya Keyla sudah tiada.


Setelah Pak Dirja pulang, Dio lalu menuntun Chika naik ke dalam mobilnya, mereka kemudian langsung keluar dari rumahnya menuju ke apartemen Dinda.


Dalam perjalanan menuju ke apartemen Dinda, Dio mengambil ponselnya bermaksud untuk menghubungi Dinda supaya dia bersiap-siap karena mereka sudah dalam perjalanan.


"Papa jangan main ponsel waktu nyetir mobil!" seru Chika saat melihat Papanya mengambil ponsel yang ada di dalam laci mobilnya.


"Papa cuma telepon sebentar, lagi pula kan jalanannya aman, tidak macet maupun hujan!" sergah Dio.


Tiba-tiba dari arah berlawanan, Sebuah mobil pick-up melaju dengan kecepatan tinggi ke arah mobil Dio.


Dio terkejut dan hilang kendali, seketika itu dia langsung membanting setirnya ke kiri jalan, dan mobilnya menabrak trotoar.


Sehingga terjadilah tabrakan di jalanan itu, dan tak lama kemudian, jalanan itu sudah penuh dikerumuni orang.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2