Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Pengakuan Dio


__ADS_3

Pagi-pagi Dio terperanjat, Dinda sudah tidak ada di sampingnya, padahal Dio tau benar, kalau perut Dinda masih nyeri pasca operasi.


Dengan panik Dio bangun dan mencari Dinda di setiap sudut kamar, namun Dinda tidak ditemukan, Dio semakin panik.


Dia lalu keluar dari kamarnya, dan langsung turun ke bawah.


"Mbak Yuyun!!" teriak Dio.


Mbak Yuyun langsung datang tergopoh-gopoh.


"Ada apa Pak Dio?" tanya Mbak Yuyun.


"Dinda, di mana Dinda Mbak?" tanya Dio cemas.


"Bu Dinda ada di teras, lagi ngobrol sama Bu Lilis!" kata Mbak Yuyun.


Tanpa bertanya lagi, Dio langsung berlari ke arah teras, Dinda nampak duduk mengobrol dengan Bu Lilis Ibunya.


"Dinda!" panggil Dio. Dinda menoleh.


Dio lalu segera datang mendekati mereka.


"Mas Dio sudah bangun? Kalau mau sarapan, semua sudah siap di meja makan!" kata Dinda.


"Din, kenapa kamu tidak membangunkan aku, bukankah turun dari tangga membuat perutmu sakit?" tanya Dio.


"Mas Dio tidur begitu nyenyak, Mana tega aku bangunkan, lagi pula aku juga harus latihan jalan naik turun tangga, supaya terbiasa!" jawab Dinda.


"Dinda, kamu temani suami mu sarapan, dia pasti sudah lapar, ini kan sudah mau siang, Ibu mau ke belakang dulu bantu-bantu Yuyun masak untuk makan siang!" kata Bu Lilis yang langsung beranjak dan masuk ke dalam rumah.


"Mas, aku mau istirahat di kamar, kalau Mas mau sarapan, sarapan saja ya!" ucap Dinda sambil mulai berdiri dan berjalan pelan ke arah pintu.


"Sayang, kamu kenapa? Hari ini kelihatan aneh sekali, apakah tidak mau menemani aku makan?" tanya Dio bingung.


"Mas Dio makan saja sendiri, aku sedang ingin sendiri, please!" ucap Dinda yang langsung melanjutkan langkahnya.


Tiba-tiba Dio langsung memeluk Dinda dari belakang, Dinda terkejut, namun berusaha untuk menguasai dirinya, menguasai hati dan pikirannya, hingga tidak terbawa oleh perasaan dan emosinya.

__ADS_1


Sejak semalam Dinda tidak bisa tidur, sejak mendengar racauan Dio yang menyebut nama Jessi, hati Dinda sedih dan sakit.


Kalau nama itu tidak istimewa dalam hati Dio, mana mungkin dia akan menyebutnya bahkan di dalam tidurnya.


Air mata Dinda kembali meluruh, padahal dia sudah menahannya sejak tadi.


"Kau kenapa sayang?" tanya Dio khawatir, dia belum mengerti apa yang sudah terjadi.


"Mas ... aku mau ke kamar!" kata Dinda sambil mengusap wajahnya.


"Aku gendong ya!"


"Tidak usah Mas!"


"Aku tidak akan membiarkanmu naik sendiri!" Tanpa menunggu jawaban Dinda, Dio langsung mengangkat Dinda ke dalam gendongannya.


Dinda tidak punya pilihan lain selain membiarkan Dio menggendongnya dan membawanya ke kamar.


Setelah sampai di kamar, Dinda langsung berbaring membelakangi Dio.


"Kau kenapa Din?? Hari ini sikap mu aneh sekali! kalau memang aku ada salah, bisa kan kamu bilang padaku, aku bukan dukun yang bisa menebak isi kepalamu!" ujar Dio.


Dinda lalu membalikan tubuhnya dan menatap wajah Dio dengan dalam.


"Mas, kenapa kamu tidak mengatakan kalau dulu kamu pernah punya hubungan dengan Mbak Jessi?!" tanya Dinda.


"Jessi? Punya hubungan?? Siapa yang bilang? Kamu jangan ngarang, bicara tidak sesuai fakta!" sahut Dio.


"Mulutmu sendiri Mas yang mengatakannya! Kamu tau semalam itu kau meracau menyebut-nyebut nama Jessi, aku dengar sendiri Mas!" sengit Dinda yang kini sudah tidak dapat lagi mengontrol emosinya.


Dio terdiam, dia baru sadar sebenarnya apa yang terjadi.


Mata Dinda kembali terlihat merah, selama ini Dinda selalu yakin kalau Dio begitu tulus dan amat mencintainya, namun kini semua itu seolah luntur begitu saja.


"Sayang, maafkan aku, dulu aku memang pernah menyukai Jessi, tapi itu hanya cinta monyet, cinta remaja!" ucap Dio.


"Tapi kenapa kamu bisa menyebut namanya saat tertidur, kalau dia tidak punya tempat spesial dalam hatimu!" lanjut Dinda.

__ADS_1


"Kalau itu, sumpah semuanya ada di luar kendaliku, aku juga tidak tau, mungkin saja karena aku bertemu di rumah sakit waktu itu!" ujar Dio.


"Mas, aku juga melihat dari pacaran mata Mbak Jessi, dia seperti menyimpan kerinduan padamu, dia pasti punya alasan yang kuat kenapa dia memberikan anaknya nama yang sama denganmu!" ucap Dinda.


"Dinda, kau dengar baik-baik, dulu saat SMA aku memang pernah menyukai Jessi, namun semuanya itu aku simpan dalam hati karena dia seperti Bintang yang tidak mungkin aku raih, pada saat itu dia melanjutkan sekolahnya ke luar negeri, dan walaupun namanya tetap tersimpan dalam hatiku tapi toh aku tidak terlalu memikirkannya aku sibuk dengan kuliahku, hingga akhirnya orang tuaku menjodohkan aku dengan Ranti!"


"Setelah aku menikah, aku mulai sibuk dengan keluarga baruku, ditambah lagi tekanan yang aku hadapi Karena istriku sendiri mencintai laki-laki lain, aku berusaha menjadi suami yang baik, namun semuanya sia-sia, hingga pada saat anakku lahir, aku memang sengaja memberikan dia nama Jessica, karena hanya itu nama yang terlintas dalam pikiranku, dan kamu tahu, waktu itu kita belum pernah saling mengenal, Jadi wajar saja kalau saat itu dalam hatiku masih tersimpan namanya!" ungkap Dio.


"Tapi kenapa tadi malam saat Kau tidur, kau meracau nama Jessi? kalau dia tidak ada lagi dalam hatimu, tidak mungkin kalau kau bisa menyebut namaNya begitu saja, Jujur aku sangat kecewa dan sakit hati karena suamiku menyebut nama wanita lain dalam tidurnya!" ucap Dinda sambil menangis.


"Maafkan aku!" ucap Dio.


Dia tidak dapat berkata apa-apa lagi selain minta maaf, ini benar-benar di luar kendalinya.


"Kalau kalian memang pernah saling mencintai, kenapa kalian tidak bersama?" tanya Dinda.


"Din, saling mencintai tapi tidak jodoh buat apa? Cinta sejati akan menemukan jalannya sendiri untuk bertemu dengan orang yang tepat, dan kamulah orang yang tepat, sejak aku mengenal, tidak ada cinta yang lain lagi!" jawab Dio.


"Sudahlah Mas, aku bingung, sekarang Mas Dio turun saja makan, aku mau istirahat!" kata Dinda.


"Din ..."


"Tolong Mas, aku mau sendiri dulu!" potong Dinda cepat.


Akhirnya Dio melangkah gontai keluar dari kamarnya itu, memberikan kesempatan Dinda untuk sendiri.


Mungkin saat ini Dinda memang butuh sendiri tanpa kehadiran dia di sisinya, Dio mencoba memahami dan menyelami isi hati Dinda.


Wajar saja sebagai seorang istri Dinda merasa sangat kecewa mendengar suaminya menyebut nama wanita lain selain dirinya dan dia sama sekali tidak bisa mencegah itu, karena itu bukan keinginannya.


Tapi entah mengapa tiba-tiba Dio seperti itu, dia benar-benar menyesal.


Makanan di meja makan yang menggugah selera sudah tersedia dengan lengkap, namun entah mengapa Dio tidak berselera makan hari ini, dia tidak tahu bagaimana cara mengembalikan kepercayaan Dinda terhadapnya itu, hanya karena sebuah nama yang terucap dengan tidak sengaja, membuat hati istrinya itu terluka.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2