
Pagi-pagi Dio, Dinda dan Chika sudah bersiap untuk sarapan di meja makan besar itu.
Suasana terasa sepi, karena sejak subuh tadi Pak Frans dan Bu Lian berangkat kembali ke Singapura.
Dio sedikit memicngkan matanya saat melihat menu yang tersaji di meja makan itu.
"Mbak Yuyun!! Ini kenapa menunya nasi goreng tauge, dan sandwich isi kacang hijau??" tanya Dio.
"Anu Pak, tadi Nyonya pesan katanya setiap menu masakan harus di sisipkan tauge dan sayuran yang lain, di larang membuat susu kacang atau membeli buah nanas atau nangka!" jawab Mbak Yuyun.
"Aturan dari mana ini?? Sejak kapan makan saja banyak aturan begini!" sungut Dio.
"Sudahlah Mas, turuti saja apa kata Bunda, ini kan buat kebaikan kita juga, Ayo makan, nanti kita malah kesiangan!" ujar Dinda.
Mereka kemudian mulai menikmati sarapan mereka.
"Siang ini aku ada meeting penting dengan investor besar, mungkin aku tidak bisa menjemput kalian di sekolah, nanti Ujang yang akan menjemput kalian ya!" kata Dio sambil mulai membuka ponselnya.
"Iya Mas!" sahut Dinda.
"Oh My God!!" seru Dio tiba-tiba saat dia membuka ponselnya.
"Ada apa Mas?" tanya Dinda bingung.
"Din, coba kamu lihat deh, ini beneran undangan nikah online?" tanya Dio sambil menyodorkan ponselnya ke arah Dinda.
Dinda lalu melihat ponsel Dio itu, dan dia juga melotot karena kaget.
"Apa? Undangan pernikahan Ken dan Mbak Keyla? Secepat ini kah?" gumam Dinda.
"Benar-benar gila itu Ken, selalu saja membuat sensasi dan kericuhan!" cetus Dio.
Dinda terdiam, Ken ternyata lebih gentle dari yang di bayangkan, dia bisa mengambil keputusan secepat itu.
Dalam hati Dinda bersyukur, paling tidak Keyla dapat perlindungan untuk menutupi rasa malu nya karena hamil di luar pernikahan.
"Hei, kenapa kamu bengong?Sedang pikirin apa sih?" tanya Dio mengejutkan Dinda.
"Eh, Mas, nanti pulang mengajar aku ijin mampir ya ke rumah Ayah Dirja, aku ingin mengobrol sedikit dengan Mbak Keyla!" sahut Dinda.
__ADS_1
"Apa yang mau kamu obrolkan lagi? Bukannya waktu itu kamu sudah mengobrol lama dengan dia? Jangan terlalu lama mengobrol, nanti kamu bisa terpengaruh!" ujar Dio.
"Mas, walau bagaimana Mbak Keyla itu adalah Kakakku lho, Mas Dio jangan lupa!" sergah Dinda.
"Bukannya aku lupa, aku hanya tidak mau ..."
"Aku janji hanya sebentar, apalagi ini menyangkut pernikahannya, sebagai saudara, aku harus membantu dia, juga Ayah Dirja!" potong Dinda cepat.
"Baiklah sayang, nanti siang di antar Ujang ya, maaf aku belum bisa menemani kamu!" ucap Dio melembut.
"Tidak apa-apa Mas, yang penting aku sudah di ijinkan!" sahut Dinda.
Setelah sarapan, mereka kemudian langsung berangkat menuju ke sekolah.
Sepanjang perjalanan, Dinda terus saja berpikir, apakah Keyla benar-benar akan menikah dengan Ken, yang Dinda tau, mereka itu sejak lama bersahabat, bahkan sudah seperti kakak adik, apakah mungkin pernikahan bisa menyatukan mereka, hanya karena sebuah kecelakaan.
Apalagi Ken, walau bagaimana, Dinda mengenal Ken sudah cukup lama, sejak Ken masih kuliah di Jepang, dan dia masih berhubungan jarak jauh.
Walaupun pada akhirnya hubungan mereka harus kandas di tengah jalan, mungkin karena pada dasarnya mereka tidak berjodoh.
****
Dinda yang sedang mengerjakan angket untuk para murid di kejutan segan suara getaran dari ponselnya.
"Halo Bu!"
"Din, gimana kabarmu? Ibu kangen Nak, kalau ada waktu, pulang lah ke Bandung!" kata Bu Lilis.
"Iya Bu, nanti aku akan cari waktu mengajak Mas Dio dan Chika, menunggu mereka libur di akhir pekan!" jawab Dinda.
"Gimana Din? Sudah ada calon cucu Ibu belum di perutmu? Rasanya Ibu sudah tidak sabar menimang cucu!" tanya Bu Lilis.
"Belum Bu, doakan saja ya!" jawab Dinda sedikit sedih, karena mertuanya juga mengharapkan cucu, sekarang Ibu kandungnya, Bu Lilis.
"Ya sudah, kamu jangan terlalu capek makanya, ya sudah deh, Ibu tunggu ya kalau liburan!" kata Bu Lilis.
"Bu, kenapa Ibu tidak tinggal di Jakarta saja biar dekat? Apa Ibu masih belum mau bertemu Ayah?" tanya Dinda.
"Ibu lebih suka tinggal di sini Din, di kampung halaman Ibu, dan Ibu juga ingin menjaga jarak dulu dengan Ayahmu!" jawab Bu Lilis.
__ADS_1
"Baiklah Bu, jaga diri Ibu baik-baik ya, jangan lupa sering-sering menghubungi aku!" ucap Dinda.
"Kamu juga ya Nak, sampaikan salam Ibu buat suamimu dan Chika!" kata Bu Lilis sebelum mengakhiri pembicaraannya.
Dinda menarik nafas panjang setelah menerima telepon dari Ibunya itu, sebenarnya hatinya sangat rindu, namun apa daya, jarak dan aktifitas yang membatasi mereka, apalagi Bu Lilis kini terlihat menghindari Pak Dirja, entah karena alasan apa.
Dinda melirik sekilas jam yang ada di dinding ruangannya, sebentar lagi pasti bel pulang sekolah akan berbunyi.
Ceklek!
Tiba-tiba Mr. Sam datang dan langsung masuk ke ruangan Dinda, wajahnya terlihat tegang.
"Ada apa Mr. Sam? Kenapa tidak mengetuk pintu dulu? Mengagetkan aku saja!" tanya Dinda yang langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Maaf Bu Dinda, kata seorang murid, Bu Dinda memanggil saya? Katanya ada hal yang penting, apa itu Bu?" tanya Mr. Sam.
Dinda mengerutkan keningnya bingung.
"Hal penting? Hal penting apa? Saya tidak pernah menyuruh orang untuk memanggil Mr. Sam!" kata Dinda.
"Benarkah? Aneh ... apa maksudnya ini?" gumam Mr. Sam.
Tiba-tiba Mr. Sam berjalan cepat ke arah pintu, kemudian mencoba untuk membukanya.
"Bu Dinda, pintu ruangan ini terkunci dari luar!" seru Mr. Sam.
"Apa?? Benarkah?" tanya Dinda tak percaya.
Dia lalu mencoba untuk membukanya, tapi tidak berhasil, pintu itu sudah terkunci.
Teeeeet .... Teeeet
Terdengar suara bel tanda pulang sekolah.
"Gawat Bu Dinda! Ada yang mencoba menjebak kita!" kata Mr. Sam.
"Ya Tuhan, bagaimana ini Mr?" tanya Dinda cemas.
"Tenang Bu Dinda, kita berpikir jernih, jangan panik!" sahut Mr. Sam mencoba menenangkan Dinda.
__ADS_1
Bersambung ...
****