
Kandungan Dinda sudah semakin besar, kini perutnya semakin membuncit, kaki Dinda juga terlihat semakin bengkak.
Sekarang Dinda lebih sering memeriksakan kandungannya ke dokter kandungan, karena kelahiran bayinya semakin mendekat.
Menurut dokter, banyak pantangan yang harus dilakukan oleh Dinda, terutama mengenai makanan, karena berat bayinya menurut prediksi sudah mencapai batas normal, dan kalau bertambah besar lagi, dikawatirkan Dinda tidak akan bisa melahirkan normal, karena masalah panggul yang sempit itu.
"Memangnya benar apa yang dikatakan dokter kalau panggul Dinda itu kecil, sehingga sulit untuk melahirkan normal?" tanya Bu Lian pada saat mereka sedang mengobrol bersama di ruang keluarga, setelah mereka selesai makan malam.
"Benar Bunda, makanya itu dokter menyarankan supaya Dinda jangan mengkonsumsi makanan yang terlalu banyak mengandung gula, juga terlalu banyak mengandung garam, dan mengurangi makanan dengan kadar protein yang tinggi!" jawab Dio.
"Hmm, aneh dokter zaman sekarang, Semuanya serba diatur-atur! Padahal waktu zaman dulu, orang hamil itu disarankan memakan apa saja yang sehat, sehingga bayinya yang lahir juga sehat dan otaknya pintar, Kalau mengurangi makanan yang tinggi protein bagaimana Bayinya bisa pintar!" kata Bu Lian.
Dio dan Dinda hanya terdiam mendengar ucapan dari Bu Lian, memang apa yang dikatakan dokter itu bertentangan dengan pikiran Bu Lian.
Dokter menganjurkan berdasarkan fakta, sementara Bu Lian mengucapkan perkataan itu berdasarkan pengalamannya.
Ini adalah dua hal yang berbeda, di mana Dinda dan Dio juga tidak dapat membantahnya dengan pengetahuan mereka.
Semakin banyak bicara, maka perdebatan akan semakin muncul, sehingga Dinda dan Dio memilih diam saja, seolah menuruti Apa yang diucapkan oleh Bu Lian itu demi menghormati sang Bunda, yang memang benar-benar sangat mendambakan cucu yang sempurna.
Setelah mereka mengobrol dan berbincang di ruang keluarga itu, Bulian nampak masuk ke dalam kamarnya disusul oleh Pak Frans, karena memang hari sudah malam.
"Chika, Sekarang sudah jam sembilan, sebaiknya Chika masuk ke dalam kamar dan segera tidur, besok kamu harus segera sekolah kan!" titah Dio.
"Yah papa, kan aku lagi nonton film itu, aku suka nonton itu! Ceritanya lagi seru Mama Papa payah nih Tidak gaul!" kata Chika yang sejak tadi asyik menonton sebuah sinetron yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi.
__ADS_1
Dio melotot menatap Chika, karena tidak biasanya Chika suka menonton sinetron.
"Itu bukan tontonan anak-anak sayang! kalau sudah diatas Jam 9 malam, itu hanya orang dewasa yang menontonnya dan Chika tidak boleh menonton itu!" ujar Dio.
"Ya sudah deh, 15 menit lagi Pa, Soalnya tanggung tuh lagi seru ceritanya, masak Papanya tidak pulang-pulang, anaknya ditinggal sama mamanya!" tawar Chika sambil matanya terus menatap ke arah layar televisi. Dio dan Dinda saling berpandangan.
"Chika, kamu tahu sinetron ini dari mana sih? Sepertinya papa dan mama jarang nonton film itu, Opa dan Oma juga jarang nonton televisi di sini, Mereka pasti sudah masuk kamar kalau jam segini!" tanya Dinda penasaran.
"Kalau malam Kalau aku belum ngantuk, aku suka lihat Mbak Yuyun dan mbak Sri nonton film itu, terus aku lihat saja, ternyata ceritanya seru juga!" jawab Chika.
"Chika, pokoknya Chika masuk ke kamar sekarang dan segeralah tidur! Papa akan matikan televisinya, itu tidak baik untuk Chika!" ujar Dio tegas.
Dengan wajah cemberut Chika kemudian bangun dan langsung berlari masuk kedalam kamarnya. Dio langsung mematikan televisi nya itu.
"Sabar Mas, kita juga sih salah, seharusnya kita taruh televisi di kamar mereka, sehingga kalau mereka nonton Mereka nonton di kamar, bukan di sini!" ujar Dinda sambil mengelus dada suaminya yang terlihat emosi itu.
"Baiklah, mulai besok aku akan belikan televisi untuk mereka yang ukuran kecil, menonton tayangan seperti itu membuat tingkat kehaluan anak-anak semakin meningkat, apalagi Chika punya daya imajinasi tinggi, Bagaimana kalau dia mencontoh adegan yang ada di sinetron itu? Sangat mengerikan!" ungkap Dio.
"Sudah lama, kita kan sudah menemukan solusinya, sekarang lebih baik kita naik keatas yuk, ke kamar sudah malam!" kata Dinda sambil menarik tangan suaminya itu untuk segera naik ke atas menuju ke kamar mereka.
Pada saat mereka melewati ruang makan Mbak Yuyun dan Mbak Sri nampak sedang mengelap meja berdua, sepertinya mereka akan bersiap-siap untuk menonton sinetron itu. Dio kemudian menghentikan langkahnya.
"Mbak Yuyun! Mbak Sri! Malam ini kalian jangan menonton sinetron, gara-gara kalian menonton sinetron di malam hari Chika jadi ikut-ikutan menonton, mulai besok aku akan taruh televisi di kamar kalian, supaya kalian bisa nonton di kamar masing-masing!" ujar Dio sambil menatap kearah Mbak Yuyun dan Mbak Sri yang menunduk itu.
"Iya Pak, maafkan kami Pak, Terima kasih Pak Dio sudah mau memberikan kami televisi di kamar, sehingga kami tidak menonton televisi di ruangan itu lagi!" ucap Mbak Yuyun sambil menunduk.
__ADS_1
"Mbak, kami bukannya melarang Mbak Yuyun dan Mbak Sri menonton sinetron kesukaan kalian, tapi Chika kan masih anak-anak, tidak baik juga kalau Chika ikut menonton tayangan itu!" lanjut Dinda.
"Iya Bu Dinda, Sekali lagi kami minta maaf ya Bu Dinda, Pak Dio, gara-gara kami menonton sinetron malam-malam, Non Chika jadi ikut-ikutan deh!" ucap Mbak Yuyun, Mbak Sri hanya manggut-manggut, menandakan kalau dia juga merasa bersalah dan menyesal.
Kemudian Dio menggandeng Dinda naik ke atas menuju ke kamarnya, untuk segera beristirahat.
Dio kemudian menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya itu sambil mulai membuka-buka ponselnya.
Dinda juga ikut merebahkan tubuhnya di samping suaminya itu.
"sayang, Aku baca lho di artikel, kalau sedang hamil tua, alangkah baiknya kita sering melakukan hubungan suami istri, tak lain adalah untuk memperlancar jalannya lahir, dan katanya cairan suami juga bisa menjadi perangsang untuk kontraksi kehamilan, sehingga mempermudah proses kelahiran!" ucap Dio sambil menunjuk sebuah artikel yang ada di ponselnya itu.
"Tapi kan kita sudah melakukannya setiap hari Mas, Masa kurang sih?" tanya Dinda tersipu.
"Lebih sering lebih baik Sayang! Lagi pula, sepertinya bayi kita sangat merindukan ditengok oleh Papanya setiap hari beberapa kali, Yuk kita mulai sekarang!" jawab Dio sambil mengedipkan sebelah matanya memberikan kode seperti biasanya.
"Sekarang Mas??"
"Ya iya lah, masa tahun depan, karena perutmu makin besar, jadi posisi seperti biasa ya, Kamu di atas!" sahut Dio sambil mulai membuka pakaiannya dan tidur terlentang.
Dinda hanya dapat terpaku menatap tubuh polos suaminya itu, yang kini terlentang, dengan senjatanya yang sudah siap tempur dan tegang sempurna.
Bersambung ...
****
__ADS_1