
Pesawat langsung dari Turki mendarat dengan sempurna di Bandara di Jakarta, setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan.
Ujang, sudah menunggu di depan gate kedatangan sejak setengah jam yang lalu.
Dio dan Dinda yang baru tiba dan bertemu dengan Ujang, langsung berjalan ke arah mobil yang terparkir di parkiran bandara.
"Kenapa kalian tidak bilang padaku sih kalau Bunda di rawat??" tanya Dio pada saat hendak masuk ke dalam mobil.
"Di larang oleh Tuan Pak!" sahut Ujang.
Mobil itu segera bergerak perlahan meninggalkan bandara.
"Sekarang kita langsung ke rumah sakit!" kata Dio.
"Tidak pulang dulu ke rumah Pak?" tanya Ujang.
"Langsung ke rumah sakit, kau dengar kan?!" tegas Dio.
"Baik Pak!" sahut Ujang yang kini melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit, tanpa bertanya lagi.
Sekitar 45 menit perjalanan, mereka akhirnya tiba di rumah sakit.
Ujang menunggu di parkiran, sementara Dio menuntun Dinda berjalan menuju ke ruang di mana Bu Lian di rawat.
Pak Frans dan Bu Lian nampak sangat terkejut melihat kedatangan Dio dan Dinda yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
"Hei, bukanlah kalian masih ada beberapa hari lagi berbulan madu? Kenapa pulang begitu cepat? Dan dari mana kalian tau Ayah dan Bunda ada di sini?" tanya Pak Frans beruntun.
"Kenapa Ayah dan Bunda merahasiakan hal sebesar ini pada kami?" tanya Dio balik.
"Nak, Bunda tidak apa-apa kok, hanya kecelakaan kecil dan Bunda hanya mengalami cedera di kaki dan jahitan kecil saja!" kata Bu Lian.
"Kami tidak ingin mengganggu kalian yang berbulan madu, eh, kalian malah datang ke sini sekarang!" lanjut Pak Frans.
Dinda dan Dio lalu duduk di samping Bu Lian yang masih berbaring dengan perban di kaki dan kepalanya.
"Bunda, maafkan aku, seharusnya kita tau lebih awal, jadi kita bisa pulang sejak kemarin!" ucap Dinda sambil memegangi tangan Bu Lian.
"Bunda tidak apa-apa, paling juga besok Bunda sudah di perbolehkan pulang ke rumah!" kata Bu Lian.
"Chika di mana? Apakah di rumah?" tanya Dio.
"Chika sekolah hari ini, biasanya dia di antar oleh guru kelasnya kalau pulang sekolah!" jawab Pak Frans.
"Guru kelasnya?" tanya Dinda.
__ADS_1
"Iya, wali kelasnya, gurunya di sekolah, apalagi sejak Bunda sakit, dia yang selalu mengantar Chika pulang ke rumah!" jawab Pak Frans.
"Apakah itu Bu Dita?" gumam Dinda.
Selama ini, Bu Dita tidak pernah bilang apapun mengenai Chika di sekolah, juga inisiatifnya untuk mengantar Chika, padahal kan ada Ujang, supir yang siap sedia mengantar jemput kemanapun.
Ceklek!
Seorang Dokter dan seorang perawat masuk untuk memeriksa kondisi Bu Lian.
"Kapan istri saya bisa di ijinkan pulang dok?" tanya Pak Frans.
"Kalau kondisinya stabil, besok juga sudah bisa pulang, nanti bisa di lanjutkan rawat jalan!" jawab Dokter itu.
"Oh, baik!"
"Tapi tetap harus di kontrol kondisinya, terutama tekanan darah nya harus stabil, dan jaga emosinya!" lanjut Dokter.
"Baik Dokter!" jawab Pak Frans.
Dokter dan perawat itu kemudian kembali keluar meninggalkan ruangan itu.
"Dio, bagaimana bulan madu kalian? Kira-kira kapan Bunda akan di beri kejutan hadirnya seorang cucu lagi?" tanya Bu Lian tiba-tiba.
Dio dan Dinda sedikit terhenyak mendengar pertanyaan dari Bu Lian.
"Kalian sudah hampir satu bulan menikah lho, dulu saja waktu Dio baru menikah berapa minggu, Chika sudah nongol di perut Ranti!" kata Bu Lian.
"Sabar Bunda, sebentar lagi juga kita akan dengar kabar baik, sekarang fokus saja dulu pada kesembuhanmu, mana bisa kau menggendong cucu dengan keadaan begini!" sergah Pak Frans.
"Tidak salah kan Bunda punya keinginan begitu Yah? Di masa tua kita, mau apa lagi selain bermain dengan cucu-cucu!" lanjut Bu Lian.
"Bunda tenang saja, aku dan istriku juga sedang dalam proses pembuatan cucu Bunda, pokoknya sebentar lagi, Bunda pasti akan mendengar kabar baik!" ucap Dio sambil menggenggam tangan Bu Lian.
"Janji lho ya!" kata Bu Lian dengan mata penuh harap.
****
Sementara itu, Di tempat kediaman Pak Dirja, seperti biasa, aktifitas pria paruh baya itu adalah menonton televisi di ruang keluarga.
Beberapa kali dia mencoba menghubungi nomor ponsel Bu Lilis, namun nomor itu tidak aktif.
Pak Dirja sedih, karena Bu Lilis terkesan menghindari nya.
Sementara Keyla sudah sejak pagi-pagi belum nampak keluar dari kamarnya, biasanya memang dia suka mengurung diri, namun hari ini Keyla sama sekali tidak keluar dari kamarnya, walaupun hanya untuk makan.
__ADS_1
"Bi Titi!!" Panggil Pak Dirja.
Bi Titi langsung tergopoh-gopoh datang mendekati majikannya itu.
"Ya Pak?"
"Keyla mana? Apa dia tidak merasa lapar dari tadi? Tolong bangunkan dia! Dasar anak itu, kerjaannya tiap hari hanya di kamar saja!" sungut Pak Dirja.
"Baik Pak!" Jawab Bi Titi sambil beranjak meninggalkan Pak Dirja dan berjalan menuju ke kamar Keyla.
Sekitar 10 menit kemudian Bi Titi sudah kembali lagi ke ruang keluarga itu.
"Mana Keyla nya?" tanya Pak Dirja.
"Maaf Pak, Mbak Keyla sepertinya sedang kurang sehat, wajahnya pucat, badannya juga panas!" jawab Bi Titi.
"Apa?? Keyla sakit?" Tanpa bicara lagi Pak Dirja langsung cepat-cepat berjalan menuju ke kamar Keyla.
Di kamar itu, Keyla nampak berbaring dengan lemas di atas tempat tidurnya. Perlahan Pak Dirja melangkah dan duduk di samping Keyla sambil memegangi tangannya.
"Key, kamu kenapa Nak? Makanya makan dulu, supaya kamu ada tenaga!" ucap Pak Dirja.
Keyla diam saja, tanpa menjawab ucapan dari Ayahnya itu.
"Bi Titi, tolong buatkan sereal hangat untuk anakku!" titah Pak Dirja.
"Baik Pak!"
Bi Titi segera keluar kamar dan menuju ke dapur, membuatkan sereal hangat untuk Keyla, seperti apa yang di titah kan Pak Dirja.
"Key, mungkin karena kamu terlalu pulang malam, makanya kamu jadi seperti ini, mulai besok, Ayah tak mengijinkanmu untuk keluar rumah!" ujar Pak Dirja.
Tak lama kemudian, Bi Titi sudah kembali sambil membawa satu mangkuk sereal panas.
Pak Dirja langsung mencoba menyuapi keyla.
Baru beberapa suap, Keyla tiba-tiba menggelengkan kepalanya.
"Cukup Ayah, Perutku mual sekali kalau makan banyak-banyak!" tukas Keyla.
"Barangkali kamu masuk angin Nak, Bi Titi, setelah ini tolong kamu kerokin Keyla, dan beri dia obat masuk angin!" titah Pak Dirja.
"Baik Pak!" sahut Bi Titi yang kembali pergi meninggalkan ruangan itu.
Bersambung....
__ADS_1
****