Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Malam Mencekam


__ADS_3

Setelah Dio dan Dinda pulang dari rumah keluarga Ujang untuk melayat, sekalian memberikan keluarga Ujang uang duka.


Mereka kemudian pulang ke rumahnya, karena hari sudah larut malam.


Tin ... Tin ... Tin


Dio membunyikan klakson mobilnya, namun beberapa kali membunyikan, Bang Jarwo tak kunjung membukakan gerbang.


Dengan kesal Dio turun dari mobilnya dan berjalan ke arah pos jaga di samping gerbang.


Bang Jarwo nampak tertidur di bangku dengan wajah yang di telungkupkan di atas meja kerjanya.


"Bang Jarwo!" hardik Dio.


Bang Jarwo nampak terperanjat sambil bangun dari posisinya.


"Eh, Pak Dio! Ma-maaf Pak! Saya ketiduran! Maaf!" sahut Bang Jarwo sambil bergegas membukakan pintu gerbang.


Dio lalu kembali ke mobil dan memasukan mobilnya dan memarkirkanya di garasi.


Setelah Dio dan Dinda turun, sekali lagi Dio mendatangi Bang Jarwo yang terlihat sedang menutup gerbang.


"Bang Jarwo, kondisi rumah ini sedang genting, aku mohon kau berjagalah yang serius, jangan tidur di waktu jaga, bagaiaman jika ada orang lain masuk tanpa kau ketahui?!" kata Dio.


"Baik Pak, sekali lagi saya minta maaf atas kelalaian saya!" jawab Bang Jarwo menunduk.


Dio kemudian kembali menggandeng Dinda masuk ke dalam rumahnya, suasana rumah sudah sepi, para penghuni yang lain sudah nampak tertidur.


"Sayang, apakah kamu ingin makan sesuatu?" tanya Dio.


"Tidak Mas, kita langsung ke kamar saja, tidur dan istirahat!" jawab Dinda.


"Baiklah!"


Mereka segera naik ke atas menuju ke kamar mereka.


Setelah membersihkan dirinya, Dio kemudian mulai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, di susul oleh Dinda.


Mata Dio menerawang menatap langit-langit kamar, pikirannya melayang memikirkan banyak hal.


"Mas ... belum ngantuk?" tanya Dinda.

__ADS_1


"Sebentar lagi!"


"Walaupun kamu tidak cerita padaku Mas, tapi aku tau apa yang saat ini kamu rasakan!" ucap Dinda sambil menggenggam hangat tangan suaminya itu.


Dio diam saja, tanpa mampu bicara apa-apa lagi, dia tidak ingin membuat Dinda cemas dan khawatir.


"Tidurlah Dinda ..."


"Mana bisa Aku tidur, Mas Dio sendiri belum tidur!"


Dio nampak menghela nafas panjang, seperti ada beban berat yang menghimpit dadanya.


"Apa yang bisa aku lakukan, untuk membuatmu tidur nyenyak malam ini?" tanya Dinda.


"Tidak usah melakukan apapun, istirahatlah, itu sudah membuatku senang!" jawab Dio.


Dinda mulai berpikir, Tiba-tiba Dind membalikan tubuhnya menghadap Dio, kemudian mulai membelai pipinya.


Dio sedikit kaget, namun dia membiarkan saja istrinya melakukan apapun padanya.


Bukan hanya pipi dan wajah Dio yang di belai, namun dada dan semakin turun kebawah.


Dio menggigit bibirnya, menahan hasrat yang kini mulai bergejolak di jiwa kelakiannya.


"Ini akan membuatmu rileks Mas, nikmati saja!" bisik Dinda.


Dio memejamkan matanya, pasrah dengan apa yang di lakukan Dinda terhadapnya.


Hingga tanpa sadar, mereka sudah kian jauh bercinta, saling melepaskan rindu, seolah lupa pada masalah yang sedang mereka hadapi saat ini.


Hingga pada saat Dinda memberikan kepuasan, menyentuh setiap bagian dari tubuh Dio, yang kini sudah sangat tegang maksimal.


Perlahan Dinda dan Dio mulai menyatukan tubuh mereka, setelah sekian lama mereka menahan hasrat, karena kesehatan perut Dinda pasca operasi.


Dan kini mereka saling melepaskan kenikmatan cinta mereka. Hingga menjelang subuh baru mereka sama-sama tertidur dengan saling berpelukan dan masih menyatu satu dengan yang lain.


****


Pagi itu di rumah sakit, Keyla nampak menyuapi Ken perlahan demi perlahan.


Ini adalah pertama kalinya Ken makan sesuatu, setelah beberapa waktu lamanya dia tidak sadar.

__ADS_1


Wajah Ken kini sudah nampak merah, tidak lagi pucat seperti sebelumnya, bahkan Kini dia sudah terlihat mulai pulih dan membaik, ternyata luka benturan keras yang ada di kepalanya tidak sampai mencederai otaknya.


"Kamu Harus makan yang banyak Ken! Atau kau masih mau berlama-lama menginap di rumah sakit?" tanya Keyla sambil terus menyuapi Ken perlahan demi perlahan.


"Iya mbak, asal Mbak Keyla yang suapi aku, aku pasti akan cepat sembuh! Kenapa tidak dari dulu saja Mbak Keyla menyuapi aku? Giliran aku kritis baru deh tahu apa itu cinta!" sahut Ken sambil tersenyum menyeringai.


"Jangan geer deh, baru juga aku suapi segini kamu sudah besar kepala! Sudah jangan banyak omong, habiskan saja makanannya!" cetus keyla.


"Sudah mbak, tidak usah Gengsi, kalau cinta ya Bilang saja cinta, begitu saja kok repot!" kata ken. Keyla semakin keki wajahnya memerah seperti kepiting rebus.


"Bisik!"


"Malu tuh, terciduk menunggui suami, sampai tidak mau pulang dan istirahat, yah begitulah cinta!" lanjut Ken.


"Bisa diam tidak??"


"Sudah deh Mbak, aku bahagia kok kalau Mbak Keyla akhirnya bisa menaruh hati Mbak untuk aku, jadi setelah anak kita lahir nanti, kita tidak usah cerai, tapi berikan adik lagi buat si sulung!" seloroh Ken.


"Diam!" seru Keyla.


Tak lama Dokter dan seorang perawat masuk untuk kunjungan pasien dan mengontrol kondisi Ken.


"Wah sepertinya kesehatan Pak Ken sudah mulai membaik, kelihatan perkembangannya begitu pesat! Tidak sia-sia istrinya menunggunya siang dan malam, luar biasa pak, istri anda sangat Setia!" kata dokter sambil tersenyum.


"Iya Dokter terima kasih, saya sudah tahu kalau istri saya selalu ada di sebelah saya, tapi sayang Dok, dia tidak mau mengakuinya!" sahut Ken.


Dokter dan perawat itu pun tertawa melihat pasangan yang ada di hadapan mereka itu. Apalagi setelah melihat wajah merah Keyla yang menahan malu.


"Baiklah kalau begitu rumah kalau memang kesehatan Pak Ken sudah berangsur membaik, besok sudah bisa pulang ke rumah, dengan catatan harus selalu berobat jalan ke rumah sakit, untuk memastikan kondisi kepala Pak Ken baik-baik saja!" ucap sang dokter sebelum meninggalkan ruangan itu.


Tak lama kemudian, Pak Dirja masuk ke ruangan itu sambil membawakan sarapan pagi untuk Keyla.


"Keyla, kau sarapanlah, setelah itu kalau minum susu yang Ayah bawakan ini ya, Kau harus baik-baik menjaga kandunganmu, apalagi sekarang Papanya sudah sadar, Kau harus memperhatikan kesehatannya, demi Ken yang sudah berjuang hidup untukmu!" ucap pak Dirja sambil menyodorkan 1 bungkus makanan dan susu di dalam kemasan.


"Trimakasih Ayah!" kata Keyla yang langsung membuka bungkusan itu dan langsung menyantapnya.


"Kalau akhirnya seperti ini, aku benar-benar tidak pernah menyesal pernah dikeroyok oleh beberapa orang penjahat dan pernah mengalami tidak sadar beberapa lama, kalau bisa mengambil hati istriku untuk berpaling padaku!" ucap Ken sambil menatap hangat wajah Keyla.


Sementara Keyla terus menyantap makanannya dengan wajah yang memerah, tidak tahu harus berkata apa lagi untuk menyanggah semua ucapan Ken yang membuatnya begitu menghangat pagi itu.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2