Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Sikap Dio


__ADS_3

Setelah Bu Dita pergi dari rumah Dio, Dinda langsung menuntun tangan Chika masuk ke dalam rumahnya, kemudian mendudukan Chika di sofa ruang keluarga rumah itu, mata Dinda menatap tajam ke arah Chika.


"Chika, apa yang kamu lakukan terhadap Bu Dita? Kenapa kamu minta pizza sebanyak ini, juga minuman ini??" tanya Dinda sambil menunjuk tumpukan kotak pizza dan aneka jus.


"Ma, aku cuma mau ngerjain Bu Dita saja, soalnya aku kesal dia sudah ngerjain Mama!" sahut Chika menunduk.


"Oke, mungkin Bu Dita memang salah, tapi itu urusan Mama dengan Bu Dita, Chika tau Bu Dita siapa??" tanya Dinda.


"Guru kelas aku ..." Jawab Chika menunduk.


"Bagus, apakah pantas seorang guru kelas di kerjain seperti itu? Kamu tau berapa gaji guru di sekolah? Sepersepuluhnya dari omset Papa kamu juga tidak ada!" tegas Dinda.


"Maafkan aku Ma!" ucap Chika.


Dinda menarik nafas panjang, lalu menghempaskan tubuhnya di sofa, di samping Chika.


"Kalau seperti ini, hubungan Mama dengan Bu Dita pasti akan semakin renggang!" gumam Dinda.


"Mama, waktu itu Bu Dita pernah bilang, kalau Bu Dita suka sama Papa!" kata Chika.


"Kapan Bu Dita bilang begitu?" tanya Dinda.


"Dulu, sebelum Mama ngajar di SD!" sahut Chika.


"Apa?? Kok Chika baru bilang sekarang?"


"Dulu aku juga pernah di antar pas pulang sekolah, dulu Bu Dita suka datang dan sering bawain Papa makanan, tapi Papa malah cuek!" ungkap Chika.


Dinda terdiam, rupanya Bu Dita memang sejak lama mengincar Dio dan menyukainya, selama ini Bu Dita selalu menutupinya dari Dinda.


"Tapi aku dulu kesal Ma, masa Bu Dita cuma suka sama Papa, tapi tidak sayang aku, Bu Dita palsu! Cuma pura-pura perhatian sama aku!" lanjut Chika.


"Sudahlah Chika, sekarang kamu makan siang dulu, pasti sudah lapar kan, setelah itu, kamu istitahat di kamar ya!" ucap Dinda.


"Iya Ma!"


Chika segera beranjak menuju ke meja makan, Mbak Yuyun dengan sigap membantu Chika dan menyiapkan keperluannya.


"Ya Tuhan!" pekik Dinda sambil menepuk jidatnya.


Dia hampir lupa kalau hari ini dia harus bertemu dengan Keyla, terkait rencananya yang akan menikah dengan Ken, Dinda harus bicara dari hati ke hati dengan Keyla, walau bagaimana, Dinda tidak ingin Keyla menderita karena menikah dengan orang yang sama sekali bukan tipenya.


Dengan cepat Dinda kemudian kembali menyambar tasnya, hendak berangkat ke rumah Pak Dirja.

__ADS_1


"Mama mau kemana?" tanya Chika yang melihat Dinda akan pergi.


"Sayang, Mama mau ke rumah kakek Dirja, Chika di rumah ya sama Mbak Yuyun, istirahat bobo siang!" jawab Dinda sambil melangkah mendekati Chika dan mengecup keningnya.


"Memangnya aku bayi, pakai Bobo siang segala!" cetus Chika.


"Tapi kan harus istirahat, capek kan dari pagi belajar di sekolah!" kata Dinda.


"Kok Mama tidak ajak aku ke rumah Kakek Dirja?" tanya Chika.


"Soalnya Mama mau ngomong penting, nanti Chika malah bosan di sana!" sahut Dinda.


"Iya juga sih, mendingan di rumah, ajak Mbak Yuyun main tembak-tembakan, pasti seru tuh!" gumam Chika.


Setelah pamit, Dinda kemudian berjalan ke arah depan, ingin minta tolong Ujang untuk mengantarnya.


Namun tiba-tiba Bang Jarwo nampak sedang membukakan pintu depan, mobil Dio nampak masuk memasuki halaman rumah.


Tanpa menunggu Dinda kemudian jalan dan langsung masuk ke dalam mobil Dio.


"Syukurlah Mas Dio sudah pulang, tolong antarkan aku sebentar ke rumah Ayah Dirja Mas!" kata Dinda.


"Oke!"


"Tumben pulang cepat Mas, katanya mau ada meeting penting?" tanya Dinda.


"Sudah selesai, Oya Din, bisa kamu jelaskan, apa maksudnya ini?" tanya Dio sambil menyodorkan ponselnya ke arah Dinda.


Dinda melotot saat di lihatnya foto dan video Dinda yang berada di ruangannya bersama dengan Mr. Sam.


"Dapat foto ini dari mana Mas?" tanya Dinda.


"Tidak tau, tiba-tiba masuk begitu saja!" sahut Dio.


"Mas Dio ... tidak marah?" tanya Dinda sedikit ragu.


"Aku tau kamu sedang di jebak, bodoh sekali orang yang menjebakmu, dia kurang bermain cantik, coba kamu lihat, di video itu kalian terlihat panik, tidak ada kedekatan sama sekali!" jawab Dio.


"Ya, memang aku sedang di jebak Mas! Trimakasih ya, Mas Dio sudah percaya padaku dan tidak cemburu!" sahut Dinda.


"Walaupun aku cemburuan tapi aku pakai otak untuk berpikir, secara logis, bukan dengan perasaan, ku pastikan besok akan aku beri pelajaran pada orang yang menjebakmu itu!" ujar Dio.


"Jangan Mas!" sergah Dinda.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Dia sudah mendapatkan ganjaran, Chika sudah mengerjainya tadi, dia pasti sangat malu padaku, aku mohon, Mas Dio lupakan saja kejadian itu!" jawab Dinda.


"Enak saja!" sungut Dio.


"Mas, kenapa harus memperpanjang masalah? Lagi pula sekeras apapun Bu Dita mengejarmu, toh Mas Dio kan sudah jadi miliku!" ungkap Dinda.


"Apa? Coba bilang sekali lagi?" kata Dio.


"Mas Dio sudah jadi milik aku!" ulang Dinda.


Ada senyuman lebar di wajah Dio.


"Aku senang, kamu dengan bangga dan jelas mengakui aku sebagai milikmu!" ucap Dio sambil menciumi tangan Dinda.


"Nyetir yang bener Mas, ini di jalan raya!" sergah Dinda sambil menarik tangannya.


Tak lama merekapun sudah tiba di rumah Pak Dirja.


Saat turun dari mobil, Dinda segera masuk ke dalam rumah itu, Di susul oleh Dio, Pak Dirja nampak sedang makan siang di meja makan bersama dengan Keyla.


"Dinda? Kau datang Nak, ayo sini kita makan sama-sama!" kata Pak Dirja yang terlihat antusias melihat kedatangan Dinda dan Dio.


Keyla yang melihat kehadiran Dio dan Dinda, langsung menyudahi makannya dan beranjak meninggalkan meja makan, lalu naik ke atas menuju ke kamarnya.


Dinda segera menuyusulnya dari belakang, sementara Dio kini yang menemani Pak Dirja di bawah.


"Mbak Keyla!" panggil Dinda.


Keyla menoleh sebelum masuk ke kamarnya.


"Mau apa kamu datang ke sini?? Mau memamerkan kemesraanmu dengan suamimu itu?? Membuat aku panas dan hidup dalam penyesalan seumur hidup??" sengit Keyla.


"Aku tidak bermaksud begitu Mbak, aku hanya ingin bicara empat mata sama Mbak Keyla, jujur aku kaget saat mendengar kabar, Ken mengumumkan undangan pernikahannya dengan Mbak Keyla!" jelas Dinda.


"Lalu, kamu puas? Akhirnya kamu bisa bersanding dengan Dio dan aku mendapatkan sisa bekasmu??" tanya Keyla.


"Maafkan aku Mbak, aku tau ini sangat berat buat Mbak Keyla, tapi paling tidak, ada satu nyawa yang harus di perhatikan masa depannya!" jawab Dinda sambil memandang ke arah perut Keyla.


Ada yang perih di sudut hati Dinda, Keyla bisa hamil secepat itu, sementara dia selalu menantikan siang malam, kapan benih Dio akan tumbuh di dalam rahimnya.


Bersambung ...

__ADS_1


*****


__ADS_2