Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Senyum Seorang Dio


__ADS_3

Dinda nampak berbaring terlentang dengan mengenakan lingerie berwarna peach.


Semuanya serba transparan, membuat Dio melotot tak berkedip.


Perlahan dia menghampiri istrinya itu dengan dada sedikit berdegup.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dio.


"Kenapa bagaimana? Apakah kau tidak rindu padaku, dan tidak ingin menyentuhku?" tanya Dinda balik.


"Ah, tutupi tubuhmu kembali Sayang, atau aku akan khilaf!" sahut Dio.


"Khilaf? Apa ada khilaf dengan istri sendiri? Mas Dio ini, padahal aku sudah mempersiapkan ini lama, sebel!" sungut Dinda kesal.


Dio langsung memeluk Dinda, aroma harum peach tercium membuat Dio mulai bergairah dia siang bolong hari ini.


"Sayang, aku selalu ingat pesan Dokter untuk berpuasa selama satu bulan untuk tidak menyentuhmu, bukan aku tidak mau, tapi aku lebih sayang dirimu dari pada hasratku!" bisik Dio.


"Tapi Mas Dio pengen kan?" tanya Dinda.


"Iya sih, tapi aku bisa tahan, kamu jangan khawatir!" sahut Dio.


"Jangan di tahan Mas, nanti kepalamu tambah pusing!"


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Dio.


"Mas Dio cumbui aku seperti biasa, cuma nanti aku yang akan memanjakan milik Mas Dio sampai pelepasan!" jawab Dinda.


"Memangnya kamu bisa?"


"Kita coba Mas, ayo mainkan!" ucap Dinda sambil mengedipkan sebelah matanya.


Dio tersenyum sambil mulai menciumi wajah dan leher Dinda berkali-kali, yang tadinya penuh dengan kelembutan kini berubah lebih cepat dengan deru nafas hawa nafsu.


Dio mulai membuka celana jeansnya yang membuatnya sangat sesak.


Dengan cepat Dinda menenangkap milik Dio dan mulai memainkannya, Dio di buat menggelepar bak ikan yang kekurangan air.


"Sejak kapan kau jadi pintar begini? Belajar di mana?" tanya Dio dengan nafasnya yang tersengal-sengal.


"Ada deh, Mas Dio mau tahu saja! Pokoknya siang ini Mas Dio Nikmati saja permainanku, dijamin kamu akan puas dan ketagihan!" jawab Dinda sambil terus memainkan senjata Dio dan kini dia mulai mengecupnya beberapa kali.


Dinda benar-benar mencumbui Dio dengan sepenuh jiwa dan raganya, dia sangat ingin memuaskan hasrat suaminya itu.


Hingga tubuh Dio mulai menegang, sepertinya dia hendak pelepasan, Dinda langsung mengulum milik Dio hingga laki-laki menggigit bibirnya menahan rasa, dan terjadilah pelepasan itu.


Ada sesuatu yang hangat menyembur di mulut Dinda, dia sangat mual dan ingin muntah, namun dengan sekuat tenaga di tahannya.


Hingga akhirnya dengan terpaksa, Dinda harus menelannya, Dio tersenyum puas.

__ADS_1


"Eh, leganya... tidak di sangka kamu doyan juga benihku!" kata Dio senang.


'Siapa juga yang doyan, rasanya bahkan membuat aku selalu ingin muntah dan tidak nafsu makan seminggu!' Batin Dinda.


"Nanti malam begini lagi ya, tapi nanti agak lama durasinya, sekarang terlalu cepat!" ucap Dio.


"Hmm, jadi ketagihan kan!"


"Karena kamu sangat menggairahkan Sayang!" ucap Dio sambil mengecup kening Dinda yang berbaring di sebelahnya.


"Sudah, bersihkan tubuhmu dan pakai kembali pakaianmu Sayang, atau kita akan terlambat makan siang!" tukas Dinda.


"Ehm, gitu dong panggil nya sayang, aku kan jadi semangat!" ucap Dio senang.


Sambil bersiul-siul dan bersenandung Dio beranjak menuju ke kamar mandi.


Dinda tersenyum bahagia melihat keceriaan di wajah suaminya itu, sepanjang mandi Dio menyanyikan sebuah lagu cinta dengan suara yang keras.


****


Chika dan Bu Lilis masih terlihat duduk di meja makan, saat Dinda dan Dio keluar dari kamarnya.


Mereka berdua terlihat habis mandi.


"Mama dan Papa ngapain saja sih?? Lama pake banget tau tidak, aku kan sudah lapar!" cetus Chika.


"Maafkan Mama dan Papa ya, Chika sudah lapar ya, yuk kita makan sekarang?" ajak Dinda mengalihkan pembicaraan, sambil mulai duduk di sebelah Chika.


"Nak Dio, siang ini kok wajahnya cerah sekali, baru menang tender lagi ya?" tanya Bu Lilis.


"Ehm, ini bahkan lebih dari sekedar menang tender, pokoknya sulit di ungkapkan dengan kata-kata deh Bu!" sahut Dio sumringah.


"Mas Dio nih, sudah makan yang bener, cepat habiskan!" tukas Dinda tersipu.


Tiba-tiba Mbak Yuyun datang bersama dengan Pak Dirja, wajah Pak Dirja juga kelihatan senang.


"Eh, Ayah, ayo gabung makan Yah!" ajak Dinda.


Tanpa bertanya lagi, Pak Dirja langsung duduk bergabung dengan mereka di ruang makan itu.


"Ayah ada kabar gembira!" kata Pak Dirja senang.


"Kabar gembira apa Ayah?" tanya Dinda.


"Keyla sudah merestui Ayah untuk menikahi Ibumu Din!" sahut Pak Dirja.


Dio dan Dinda saling berpandangan, Bu Lilis nampak menunduk malu.


"Benarkah Ayah?" tanya Dio.

__ADS_1


"Iya Nak, dan Ayah sangat senang sekali, secepatnya Ayah akan melamar Lilis, dan segera menikahinya!" jawab Pak Dirja.


"Kakek Dirja mau menikah sama Nenek Lilis?? Kok sudah tua menikah?" tanya Chika bingung.


"Chika, memangnya kenapa kalau sudah tua menikah, menikah itu kan supaya bahagia sayang!" jawab Dinda.


"Ayah, kalau Ayah butuh bantuanku, aku siap kapanpun!" ujar Dio.


"Trimakasih Nak!"


"Rencana kapan Ayah akan melamar Ibu?" tanya Dinda.


"Secepatnya Din, Ayah pikir karena Ayah sudah tua, yang penting nikahnya sah, resepsi sih belakangan!" jawab Pak Dirja.


"Bagaiamana Bu? Siap menikah dengan Ayah?" tanya Dinda sambil menoleh pada Bu Lilis yang sejak tadi diam saja.


"Eh, Ibu sih terserah Ayahmu saja Din!" jawab Bu Lilis malu-malu.


"Kalau begitu, Ayah harus secepatnya melamar Ibu, untuk persiapannya nanti kami pasti akan membantu Ayah, kalian tenang saja!" kata Dio sekali lagi.


"Ah, Ayah senang sekali, akhirnya Ayah bisa juga menikah dengan Ibumu Din, setelah bertahun-tahun lamanya menunggu!" ucap Pak Dirja bahagia.


Tak lama mereka selesai makan siang, Mbak Yuyun nampak sibuk membereskan meja makan di bantu oleh Dinda dan Bu Lilis.


Sementara Dio dan Pak Dirja nampak duduk mengobrol di ruang keluarga, Chika juga nampak sibuk bermain dengan puzzle barunya.


Dinda kemudian datang sambil membawakan aneka cemilan di atas sebuah nampan, kemudian Dinda meletakan nampak itu di atas meja.


"Aduh!" seru Dinda sambil meringis dan memegang perutnya.


"Ada apa sayang?" tanya Dio yang langsung berdiri memegangi Dinda.


"Perutku tiba-tiba sakit Mas!" kata Dinda.


"Kita ke rumah sakit sekarang ya!" kata Dio panik.


"Antar aku ke kamar saja Mas, mungkin aku hanya butuh istirahat!" tukas Dinda.


"Lho Din, ada apa? Kenapa perutnya?" tanya Bu Lilis yang langsung datang saat mendengar suara Dinda.


"Tidak apa-apa Bu, sedikit nyeri saja!" jawab Dinda.


Dengan cepat Dio langsung mengangkat Dinda ke dalam gendongannya dan berjalan menuju ke kamarnya.


Setelah sampai di kamar, Dinda kemudian di baringkan di atas tempat tidurnya, wajah Dinda terlihat sangat pucat.


Dio melotot saat melihat sesuatu di pakaian Dinda, ada bercak darah yang menempel di sana.


Bersambung ....

__ADS_1


*****


__ADS_2