
Dio berjalan cepat setelah dia memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah Chika.
Setelah dia terburu-buru dari kantornya, di tambah lagi Dinda yang kini sedang terbaring sakit di rumah, membuat Dio kelihatan begitu khawatir sepanjang hari ini.
Padahal waktu pulang sekolah tinggal sepuluh menit lagi, Dio sengaja datang lebih cepat ke sekolah untuk menjemput Chika, supaya dia juga bisa cepat sampai di rumah.
Dio kemudian duduk menunggu di lobby, sambil menunggu Chika keluar dari kelasnya.
"Selamat siang Pak Dio!" sapa Bu Dita yang tiba-tiba datang itu, dan langsung menghampiri Dio yang menoleh ke arahnya.
"Selamat siang!" balas Dio.
"Saya dengar dari Chika, katanya Bu Dinda sakit ya Pak?" tanya Bu Dita.
"Iya Bu!" sahut Dio singkat.
"Kalau begitu, ini saya titip kue buat Bu Dinda ya, semoga lekas sembuh!" ucap Bu Dita sambil menyodorkan satu kotak kue ke arah Dio.
"Eh, trimakasih Bu!" ucap Dio sambil mengambil bungkusan kotak kue itu.
"Kalau Pak Dio merasa kerepotan mengantar jemput Chika, saya tidak apa-apa kok mengantar Chika pulang saat pulang sekolah!" kata Bu Dita.
"Trimakasih Bu, tapi saya rasa, Chika tidak pernah masalah dengan penjemputan, kalau saya berhalangan, ada supir saya yang siap menjemputnya!" tukas Dio.
"Oh, begitu ya Pak, tapi kalau Bapak butuh bantuan, saya bersedia kok Pak, semuanya karena demi Chika!" ucap Bu Dita.
Teeeet .... Teeeet
Terdengar suara bel pulang sekolah, Dio lalu berdiri untuk segera menjemput Chika, rasanya dia risih juga mengobrol dengan Bu Dita, apalagi setelah dia tau, Bu Dita punya maksud terselubung terhadap dia dan Dinda.
"Papa!" panggil Chika dari arah tangga.
Dio tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah putrinya itu.
"Ayo sayang, kita langsung pulang ya, kasihan Mama sendirian di rumah!" ajak Dio sambil menuntun Chika berjalan ke arah parkiran.
Bu Dita hanya bisa memandang mereka dengan tatapan sendu.
Dio langsung mengendarai mobilnya itu menuju ke rumahnya.
"Pa, itu kue dari mana? Pasti dari Bu Dita, tadi Bu Dita nanyain Mama!" tanya Chika sambil menunjuk pada kotak kue yang ada di jok tengah mobil.
__ADS_1
"Iya, tapi nanti kuenya kasih ke Mbak Yuyun saja ya, kita beli kue yang lain buat Mama!" sahut Dio.
"Memangnya kenapa Pa?" tanya Chika.
"Tidak apa-apa, sahabat baik itu, tidak akan menikam dari belakang dan menjadi musang berbulu domba!" jawab Dio.
"Musang berbulu domba? Memangnya ada??"
"Nanti Chika akan mengerti saat dewasa, sudahlah Nak, kita mampir yuk, beli makanan enak buat Mama, biar Mama senang!" kata Dio.
"Asyyiiik, aku juga mau Pa!"
"Tentu saja boleh, kita beli banyak, kasih buat Mbak Yuyun, Bang Jarwo dan Bang ujang ya!" ucap Dio sambil mengelus rambut Chika.
Mereka kemudian berhenti di sebuah toko roti terbesar yang ada di pinggir jalan itu.
Dengan antusias, Chika kemudian memilih roti dan kue yang dia suka, wajahnya terlihat sangat gembira.
"Chika, kenapa kamu memilih rasa coklat semua?" tanya Dio.
Di keranjang Chika, semua kue dan roti bernuansa coklat.
"Ya karena aku kan suka coklat Pa!" sahut Chika.
"Iya Pa!"
Chika kemudian mengambil lagi beberapa dengan varian rasa yang berbeda.
Pada saat Dio akan membayar di kasir, muncullah Keyla dan Ken yang baru masuk ke toko roti itu.
Mereka terkejut saat berpapasan.
"Eh, ada Om jahat dan Tante Kun!" seru Chika spontan.
"Hush! Chika tidak boleh bilang begitu!" sergah Dio sambil menutup mulut Chika.
"Dulu Om memang jahat Chika, sekarang kan sudah berubah!" ucap Ken sambil mencoba berusaha mengelus kepala Chika, namun tangan Chika menepiskannya.
"Dulu Om suka gangguan Mama aku, aku tidak suka!" cetus Chika.
"Itu dulu sayang, sekarang Om sudah punya tante Keyla, jadi tidak akan gangguin Mama Chika lagi!" tukas Ken yang merasa tidak enak karena Chika membencinya.
__ADS_1
Sementara Keyla hanya diam saja, tanpa berkomentar apapun.
"Maafkan Chika Ken, harap maklum dia masih kecil!" ucap Dio.
"Ya, tidak masalah, aku maklum!" sahut Ken.
"Kalau begitu, aku duluan ya!" pamit Dio yang langsung menuntun tangan Chika keluar dari toko roti itu.
"Mbak Keyla, silahkan ambil roti mana yang kamu mau, katanya kamu ngidam roti di sini!" kata Ken setelah Dio dan Chika pergi.
"Kita pulang saja Ken, aku tidak berselera lagi!" sahut Keyla.
"Lho, kok pulang? Kamu kenapa Mbak??" tanya Ken bingung.
"Aku bilang pulang ya pulang! Kamu ngerti tidak sih!" sentak Keyla.
"Oke oke, kita pulang, tapi please ... kecilkan suaramu, walau bagaimana, aku ini suamimu Mbak!" kata Ken.
Tanpa bicara lagi, Keyla segera keluar dari toko roti itu dan langsung menuju ke mobilnya yang terparkir.
Ken menyusul di belakangnya.
"Mbak Keyla kenapa sih? Jangan bilang kalau Mbak Keyla baper gara-gara ketemu sama Pak Dio tadi!" tebak Ken.
"Buka pintunya Ken! Aku mau pulang!" sahut Keyla.
Ken lalu membukakan pintu mobil untuk Keyla, tanpa menunggu Keyla langsung masuk ke dalam mobilnya itu.
Perlahan Ken mulai melajukan mobilnya meninggalkan toko roti itu.
"Aku tau Mbak, Pak Dio itu impian Mbak Keyla, sejak dulu aku tau, selera Mbak Key itu seperti apa!" ujar Ken.
Keyla diam saja, tanpa menjawab ucapan Ken, matanya memandang lurus ke depan.
"Walaupun aku ini bukan laki-laki impian Mbak Keyla, tapi setidaknya aku mau menerima Mbak Keyla apa adanya, dan belajar mencintai Mbak Keyla!" lanjut Ken.
Tiba-tiba ada butiran bening yang jatuh dari pelupuk mata Keyla.
"Trimakasih!" ucapnya lirih.
Bersambung ...
__ADS_1
****