
Wanita yang dilihat oleh Chika itu tersenyum, lalu dia melambaikan tangannya.
Seperti terhipnotis, Chika kemudian keluar dari kamarnya melalui jendela yang terbuka itu, dan berjalan kearah wanita yang yang dia panggil mama itu.
Baru sekitar 3 langkah, tiba-tiba Chika menghentikan langkahnya, dia seperti tersadar akan sesuatu.
"Kamu bukan Mamaku! Mamaku sudah meninggal!" seru Chika.
Wanita itu tetap tersenyum dan kembali melambaikan tangannya ke arah Chika, seolah memanggilnya untuk datang menghampirimu.
Chika yang nampak ragu-ragu, seperti orang berpikir, anak itu sadar bahwa Mama nya telah tiada.
Tiba-tiba Chika membalikkan tubuhnya, dia langsung kembali masuk ke kamarnya dan mengunci rapat jendela kamarnya itu, juga menutup tirainya, setelah itu dia langsung kembali naik ke atas tempat tidurnya, dan memeluk gulingnya sambil menangis.
****
Menjelang pagi hari, di ruang makan, Chika nampak berbeda dari biasanya, wajah gadis kecil itu terlihat sedikit murung, tidak seceria seperti hari-hari sebelumnya.
"Chika, pagi ini Papa dan Mama akan mengantar Chika ke sekolah, setelah itu Papa akan mengantar Mama ke rumah sakit, nanti Chika Pulangnya sama suster Anna ya, karena Papa harus mengerjakan pekerjaan Papa di kantor, dan tidak sempat menjemput Chika sekolah!" Kata Dio.
"Iya Pa!" sahut Chika.
"Chika, kamu kenapa kelihatan murung? sejak tadi Mama perhatikan Chika diam saja, padahal kan biasanya Chika selalu kelihatan senang dan gembira setiap hari!" tanya Dinda.
"Papa, Mama, semalam aku melihat Mama! Mama Ranti!" jawab Chika.
Dio dan Dinda terhenyak dan saling berpandangan.
"Apa?? Chika, kamu jangan bercanda! Ini tidak lucu!" hardik Dio.
"Benar kok Pa, Mama Ranti ada di balik jendela kamar aku, dia panggil aku, tapi aku takut, kan Mama Ranti sudah meninggal!" jawab Chika.
Dio dan Dinda terdiam dan nampak berpikir, bisa jadi apa yang dialami Chika itu adalah mimpi, atau dia seperti berhalusinasi, tapi mengapa Chika bisa berhalusinasi sedemikian?
__ADS_1
Selama bertahun-tahun dia kehilangan Mama kandung nya, baru kali ini Chika mengatakan kalau dia bertemu langsung dengan Ranti, mama kandungnya yang sudah meninggal itu.
"Sudahlah Chika, sekarang habiskan makananmu, Setelah itu kita langsung berangkat ke sekolah ya, atau nanti Chika akan terlambat!" kata Dinda mencoba mengalihkan pembicaraan.
Chika menganggukkan kepalanya, kemudian dia langsung dengan cepat menghabiskan sarapannya, dan mengambil tas punggungnya, setelah itu Dinda dan Dio menggandeng tangan Chika menuju ke garasi depan, di mana mobilnya terparkir.
Dan mereka pun langsung segera meninggalkan rumah itu menuju ke sekolah Chika.
Tak lama kemudian, sekitar 30 menit perjalanan, mereka sudah sampai di sekolah Chika, Dio memarkirkan Mobilnya di parkiran sekolah, kemudian Chika berpamitan dan menyalami Mama dan Papanya, sebelum dia turun dari mobilnya itu.
Seorang security wanita menyambut Chika dan menggandeng nya masuk ke dalam lobby sekolah.
Dio nampak termenung sebelum kembali melajukan mobilnya ke rumah sakit untuk mengantar Dinda ke Dokter.
"Mas, kepalaku sudah tidak terlalu pusing lagi, dan aku juga sudah tidak demam, sepertinya kita tidak usah pergi ke rumah sakit, lebih baik kau cepat-cepat ke kantor, dan selesaikan pekerjaanmu!" kata Dinda.
"Tidak sayang, kita ke dokter dulu sebentar, hanya memastikan kesehatan mu saja! Aku hanya sedikit berpikir, apakah mungkin Chika berhalusinasi bertemu dengan mamanya?" tanya Dio wajahnya Masih kelihatan bingung mendengar ucapan Chika pagi tadi.
"Aku juga tidak tahu Mas, bisa jadi Chika itu kangen dengan Mamanya, kau ajaklah berkunjung ke makam mamanya Chika, siapa tahu Chika memang sedang kangen Mas!" jawab Dinda.
Dio kemudian mulai kembali melajukan mobilnya itu menuju ke rumah sakit yang tidak jauh letaknya dari sekolah Chika.
****
Setelah tiba di rumah sakit, Dio kemudian memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit itu.
Kemudian dia langsung menggandeng Dinda menuju ke poli dokter umum.
Kebetulan pasien pagi itu tidak terlalu mengantri, jadi mereka bisa langsung masuk untuk berkonsultasi.
Seorang dokter kemudian mulai memeriksa kondisi kesehatan Dinda. Setelah menjalani beberapa pemeriksaan, kemudian mereka kembali ke ruang konsultasi.
"Bagaimana keadaan istri saya dok? Apakah sakitnya ini serius? Atau hanya sekedar kelelahan biasa?" tanya Dio.
__ADS_1
"Tadi saya sudah memeriksa kondisi ibu Dinda, tidak ada ada sesuatu yang berarti, mungkin benar hanya kelelahan biasa, tapi saya sarankan coba konsultasi ke dokter kandungan, siapa tahu ini adalah gejala awal kehamilan!" jawab sang dokter.
Dinda dan Dio terkesiap dan saling berpandangan.
"Apa dokter? Hamil? Apakah itu mungkin dokter? Karena saat itu, istri saya baru mengalami operasi pengangkatan kista, dan beberapa waktu lamanya kami tidak berhubungan, terakhir kami berhubungan sekitar dua minggu yang lalu, masa iya sudah hamil?" tanya dia nyaris tak percaya.
"Ya itu bisa saja terjadi, kalau melakukannya dalam masa subur, untuk lebih jelasnya coba konsultasi ke Dokter kandungan, kan bisa di lihat melalui USG!" saran Dokter itu.
"Baik Dokter!" sahut Dio bersemangat.
Setelah selesai berkonsultasi dengan dokter umum itu, dengan sangat semangat dan antusias Dio menggandeng Dinda menuju ke poli kandungan, di sana sudah ada beberapa orang yang mengantri. Mereka pun mulai mengambil nomor antrian.
"Sayang, Entah kenapa pagi ini Aku merasa bahagia sekali, akhirnya Penantian kita tidak sia-sia selama ini! Aku sudah tidak sabar rasanya memiliki bayi yang lucu dari rahimmu!" ucap Dio sambil terus menggenggam hangat tangan Dinda.
"Iya Mas, aku juga bahagia, tapi di sisi lain, aku juga takut kalau ternyata aku tidak benar-benar hamil, aku takut Ini semua hanya mimpi yang sebentar lagi akan hilang begitu saja!" kata Dinda.
"Jangan bicara seperti itu sayang, ini semua bukan mimpi Kau harus yakin, Percayalah pada dirimu sendiri!" ucap Dio sambil mengelus bahu Dinda dengan lembut.
"Ibu Dinda!"
Seorang perawat kemudian Memanggil nama Dinda, dengan sedikit gemetar Dinda berdiri di gandeng oleh Dio, menuju ke ruang konsultasi Dokter itu.
Seorang Dokter dengan ramah duduk dan tersenyum ke arah Dinda dan Dio yang baru masuk ke ruangan konsultasi itu.
"Ada keluhan apa Pak, Bu?" tanyanya ramah.
"Ini Dok, mau memeriksakan kandungan istri saya, saya di rekomendasikan oleh dokter umum, katanya istrinya saya ada kemungkinan hamil!" jawab Dio.
"Baiklah, sekarang berbaring dulu ya Bu, kita mau melihatnya di layar USG, mudah-mudahan saja memang benar adanya kehamilan!" kata sang Dokter wanita tersebut.
Dinda kemudian mulai berbaring di ranjang yang terletak tidak jauh dari meja konsultasi itu, terus didampingi oleh Dio yang tak sedikit pun melepas genggaman tangannya.
Sang dokter pun langsung memeriksa perut Dinda dengan sebuah alat yang terasa dingin di perut Dinda.
__ADS_1
Bersambung ...
****