
Pada jam istirahat sekolah, biasanya para guru akan makan di kantin, atau berkumpul di ruang guru untuk makan bersama.
Dinda keluar dari ruangannya dan turun ke bawah, dia tidak ingin terus menyendiri di ruangannya, dia ingin berbaur dengan guru-guru yang lain, melalui makan siang bersama.
Bu Ribka terlihat jalan bersama dengan Bu Dita, mereka nampak menuju ke kantin khusus guru, mungkin hendak makan siang bareng, Dinda lalu mengejar mereka.
"Aku ikutan dong makan siang bareng!" seru Dinda dari arah belakang mereka.
Mereka menoleh dan sedikit terkejut.
"Eh, Bu Dinda, mau makan siang di kantin juga? Kirain sudah bawa bekal makan siang sendiri!" kata Bu Ribka.
"Boleh kan gabung?" tanya Dinda.
"Tentu saja, ayo Bu, lagian kita juga sudah lama tidak mengobrol!" Bu Ribka segera menarik tangan Dinda untuk jalan bareng, namun sejK tadi Bu Dita hanya diam saja, tanpa respon atau komentar apapun.
Mereka kemudian duduk menghadap sebuah meja kotak dan mulai memesan makanan mereka.
"Gimana Bu Dinda, sudah ada tanda-tanda belum?" tanya Bu Ribka.
"Tanda-tanda apa??"
"Ya tanda-tanda hamil lah, sudah mual-mual belum? Atau terlambat datang bulan?" cecar Bu Ribka.
"Belum Bu!" jawab Dinda.
"Baru juga sebulanan kan menikah, masa mau cepat hamil saja!" sela Bu Dita.
"Ya kali saja tokcer, sekali bikin langsung jadi!" sahut Bu Ribka sambil terus menyantap makan siangnya.
"Aku juga berharap bisa cepat hamil, Chika juga sudah sangat ingin punya adik!" gumam Dinda.
"Gimana di Turki Bu Dinda? Enak ya pastinya, bisa bulan madu dengan suami tercinta!" tanya Bu Ribka lagi.
"Yah, begitulah Bu Ribka, tidak beda jauhlah sama Indonesia, hanya saja pengalaman menjelajah negri orang!" jawab Dinda.
"Bu Dinda beruntung banget, bikin kita di sini para guru jadi iri tau tidak, apalagi Pak Dio posting-posting keromantisan kalian, jadi baper tau tidak!" ujar Bu Ribka dengan gaya bicara ceplas ceplos nya.
Tiba-tiba Pak Yoga guru olah raga duduk bergabung dengan mereka sambil membawa sepiring makanannya.
"Gabung ah di sini, nimbrung sama Ibu-ibu yang lagi seru ngobrolnya!" kata Pak Yoga.
"Ya elah Pak, sono gabung sama bapak-bapak napa!" cetus Bu Ribka sambil menunjuk meja pojok yang di tempati oleh Pak Roni dan guru-guru cowok yang lain.
"Bu Dita, kata Chika tugas di buku tematik masih di kumpul ya?" tanya Dinda, berharap Bu Dita bisa seperti dulu, akrab dengannya.
"Oh, tugasnya masih di rumah, biar nanti aku antar saja ke rumah!" jawab Bu Dita.
"Antar ke rumah? Kenapa tidak di titipkan saja padaku?" tanya Dinda.
"Bukunya masih di rumah Bu Dinda, sekalian lewat tidak apa kan mampir sebentar, dari pada di bawa-bawa ke sekolah!" sahut Bu Dita.
__ADS_1
"Oh, iya juga sih, kalau mampir kita juga bisa mengobrol kan!"
"Iya!" singkat Bu Dita.
"Ngobrolin apaan sih?!" kata Pak Yoga tiba-tiba.
"Mau tau aja!!" cetus Bu Dita cemberut.
*****
Saat bel pulang sekolah berbunyi, Dinda cepat-cepat membereskan meja kerjanya, kemudian dia segera keluar dan turun menuju ke lobby.
"Mama!"
Terdengar suara Chika yang memanggilnya, Dinda sedikit tertegun, kini dia di panggil Mama oleh Chika, ya, Dinda kini bukan lagi guru jelas Chika, tapi Mamanya.
Ada yang menghangat dalam diri Dinda, walaupun Chika bukanlah anak kandungnya, namun Dinda merasa telah menjadi seorang Ibu melalui Chika.
"Kok Mama malah bengong, ayo ke bawah Ma, Papa sudah nungguin lho di lobby!" kata Chika.
"Lho, kok Chika tau?"
"Iya dong, aku kan sudah turun duluan tadi, terus Papa suruh aku panggil Mama ke atas!" sahut Chika.
"Oh..."
Dio nampak masih terlihat duduk di bangku lobby, dia tersenyum saat melihat Dinda dan Chika turun dari arah tangga.
"Kita langsung pulang yuk, hari ini Oma masak enak lho untuk kita!" kata Dio sambil menuntun keduanya berjalan keluar dari lobby menuju ke parkiran.
"Memangnya Oma sudah bisa masak? Kan kakinya masih sakit!" tanya Chika.
"Yang sakit kan kakinya, bukan tangannya!" sahut Dio.
"Mas, nanti boleh tidak mampir sebentar ke rumah Ayah?" tanya Dinda sebelum mereka masuk ke dalam mobil.
"Ayah Dirja??"
Dinda menganggukan kepalanya.
"Tentu saja boleh, dia itu kan mertua aku, bawakan sesuatu untuknya, buah atau makanan gitu!" kata Dio.
"Iya Mas, trimakasih ya, aku juga sekalian mau menjenguk mbak Keyla, kata Ayah dia sakit!"
"Sakit? Sakit apa?" tanya Dio.
"Entahlah, aku hanya ingin menjenguknya sebentar!" jawab Dinda.
"Oke deh, kita jalan sekarang!" Dio segera melajukan mobilnya meninggalkan sekolah itu.
"Papa, kata Oma, kalau Papa sudah menikah, Papa bisa kasih aku adik, kapan?" tanya Chika tiba-tiba.
__ADS_1
Dinda dan Dio saling berpandangan mendengar pertanyaan Chika.
"Belum di kasih Tuhan sayang!" jawab Dio.
"Kan Papa sama Mama baru sebentar menikahnya, Chika sabar saja ya!" lanjut Dinda.
Dinda menarik nafas panjang, hari ini banyak yang menanyakan soal kapan hamil, Dinda juga berharap bisa cepat hamil, namun saat diam-diam dia membeli alat tes kehamilan, hasilnya selalu negatif.
Mobil yang Dio kendarai, berhenti di depan sebuah toko roti, mereka kemudian turun untuk membeli roti untuk Pak Dirja dan Keyla.
Chika nampak membeli banyak roti kesukaannya.
"Mas, tadi Bu Ribka juga menanyakan soal kapan aku akan hamil!" kata Dinda pada saat mereka membayar roti di kasir.
"Kamu jangan terlalu mendengarkan pertanyaan orang, nanti kalau sudah waktunya juga hamil kok!" ucap Dio.
"Iya Mas!"
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke rumah Pak Dirja.
Pak Dirja yang memang sudah menunggu, nampak tersenyum menyambut kedatangan mereka.
"Ayo Masuk, Bi Titi sudah menyiapkan banyak makanan untuk kalian!" kata Pak Dirja.
"Trimakasih Ayah!"
Mereka masuk kemudian duduk mengobrol di sebuah ruangan keluarga yang nampak artistik, ada kolam ikan indoor yang suara airnya terdengar gemericik.
"Mbak Keyla di mana Ayah?" tanya Dinda.
"Ada di kamarnya, kamu mau kesana? Datang saja Nak, mana tau dia akan senang melihat kau datang menengoknya!" jawab Pak Dirja.
Dinda menganggukan kepalanya, lalu dia segera beranjak menuju ke kamar Keyla, sementara Dio dan Chika masih duduk mengobrol di ruangan keluarga itu.
Dinda berdiri di depan kamar Keyla yang pintunya sedikit terbuka itu, perlahan dia masuk ke dalam kamar itu, Keyla nampak sedang duduk melamun sambil menatap ke arah jendela kamarnya.
"Mbak Keyla!" sapa Dinda pelan.
"Mau apa lagi kamu datang ke sini? Bukannya kamu sudah bahagia bersama dengan suamimu itu?" tanya Keyla ketus.
"Aku kesini mau menjenguk Mbak Keyla!" jawab Dinda.
"Keluarlah dari kamar ku Dinda, aku tidak ingin di jenguk olehmu!" cetus Keyla, matanya masih menatap ke luar jendela.
Dinda tetap berdiri di tempatnya, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah benda pipih yang ada di atas tempat tidur Keyla.
Matanya membola saat Dinda tau benda apakah itu, dan lebih terkejut lagi saat Dinda melihat ada tanda dua garis merah pada benda itu.
Bersambung..
****
__ADS_1