Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Ulang Tahun Chika


__ADS_3

Hari ini Chika berulang tahun, bertepatan dengan hari pernikahan Papanya, Ferdio, dan ibu gurunya, Dinda.


Wajah Chika nampak berbinar, terlebih banyak teman-teman sekolahnya yang datang.


Selain datang ke ulang tahun Chika, sekalian menghadiri pernikahan Guru mereka, yang di adakan di rumah kediaman Dio, yang kini sudah di dekorasi sedemikian rupa, berubah menjadi istana kerajaan dengan nuansa modern.


"Chika, sekarang Bu Dinda sudah jadi Mama kamu ya?" tanya Putri, teman sekelas Chika.


"Iya dong, sekarang kan aku punya Mama! Jadi kalian jangan ada yang ngatain aku lagi!" sahut Chika bangga.


"Enak ya jadi Chika, sekarang dia sudah punya Mama baru!" celetuk Evan, teman Chika yang lain.


"Iya, rumahnya Chika besar lagi, pasti sekarang Chika senang, punya Papa ganteng dan Mama yang cantik kayak Bu Dinda!" timpal Edo.


Chika tertawa lebar, dulu dia sering menjadi bahan bulian teman-temannya, sehingga timbul sifat pemarah dan pemberontak dalam dirinya.


Sekarang semua teman-temannya bahkan mengaguminya.


Chika dengan gembira mengajak teman-temannya bermain di area permainan anak-anak yang memang telah Di sediakan di taman rumah Dio yang luas itu.


Sementara Dio dan Dinda nampak duduk di pelaminan, pelaminan maha indah yang di dekorasi oleh pendekor handal, mereka bagaikan raja dan ratu yang pada hari ini menjadi pusat perhatian semua orang.


Acara pernikahan yang hari ini berlangsung begitu Agung dan elegan, beberapa kali Dinda meneteskan air matanya.


Dia masih tidak percaya, akhirnya hari ini dia sah menjadi istri dari Dio, laki-laki menawan yang sempat memikat hatinya, dan otomatis menjadi Ibu dari Chika, seorang anak yang dulu nakal dan sangat merindukan Ibu.


Kini Dio sudah menepati janjinya pada Chika, memberikan seorang Mama tepat di hari ulang tahunnya.


"Trimakasih ya sayang!" bisik Dio di telinga Dinda.


"Kenapa kau berterimakasih padaku Mas?"


"Coba kau lihat Chika, betapa bahagianya wajahnya, padahal dulu dia sering kesulitan bersosialisasi, sering berbuat ulah, nakal, dan ..."


"Sekarang Mas Dio tidak usah khawatir lagi, Chika sudah berubah, di sekolah juga dia jadi anak yang baik dan penurut, sopan lagi!" potong Dinda cepat.


"Ya ya, kau benar, semua ini adalah berkat guru yang baik hati sepertimu sayang, dan aku sangat bahagia, akhirnya aku bisa memilikimu!" ucap Dio sambil mengecup jemari Dinda.


Namun ada satu hal yang membuat kedua mempelai sedikit bersedih, Bu Lian tidak nampak hadir mendampingi mereka duduk di pelaminan, sejak pagi tadi beliau hanya mengurung diri di kamar saja.


Dari raut wajahnya, nampak Bu Lian kurang merestui pernikahan Dio dan Dinda, sejak dia datang dari Singapura, wajahnya nampak mendung dan tidak ada senyum.


"Apakah bunda masih di kamar Yah?" tanya Dio pada Pak Frans yang baru duduk setelah dari dalam kamarnya.


"Iya, sudahlah, kau jangan terlalu pikirkan Bunda mu, dia hanya kaget saja dan belum siap, karena pernikahanmu ini cukup mendadak dan minim persiapan!" jawab Pak Frans.


"Semua itu aku lakukan demi Chika Ayah, aku sudah berjanji, akan memberikan hadiah istimewa pada saat ulang tahunnya!" ucap Dio.


Pak Frans manggut-manggut sambil menepuk bahu Dio.

__ADS_1


Hari beranjak sore, dan tamu undangan pun semakin banyak berdatangan.


Hingga rekan-rekan guru dari sekolah juga datang ke acara pernikahan Dinda di rumah Dio.


"Selamat ya Bu Dinda, akhirnya kali ini kau tidak gagal menikah lagi!" ucap Bu Ribka sambil menyalami dan memeluk Dinda.


"Trimakasih Bu Ribka!"


"Selamat Bu Dinda, dan aku tidak yakin kau akan terus datang ke sekolah saat sudah menjadi istri seorang donatur tetap sekolah!" kata Pak Roni yang berdiri di belakang Bu Ribka.


"Ah, Pak Roni bisa saja!" sahut Dinda.


"Pasti Chika akan sangat senang dan memamerkan Mama barunya ini se jagat raya!" celetuk Bu Dita.


"Betul itu!" timpal Bu Ribka.


"Kalian silahkan menikmati sajian yang telah di sediakan, pokoknya kalian pasti kenyang sebelum pulang!" potong Dio cepat.


"Oh iya Pak Dio, sekali lagi kami ucapkan selamat ya!" kata Pak Roni.


Setelah gerombolan para guru itu turun dan mulai menikmati hidangan pesta, Mr. Sam nampak naik ke pelaminan dan menyalami kedua mempelai.


"Selamat ya, semoga kalian langgeng dan bahagia!" ucap Mr. Sam.


"Trimakasih Mr!" sahut Dinda.


Tidak banyak bicara lagi, Mr. Sam kemudian langsung turun dan berbaur dengan para guru yang lain.


"Guru bahasa Inggris Mas!"


"Oh, kok aku tidak suka ya melihat tatapannya ke kamu, seperti menyimpan sesuatu!" kata Dio.


"Hush! Mas Dio apaan sih? Sudah menikah masih saja curiga!" cetus Dinda.


"Sejak awal aku melihatnya, dia itu aneh, ah sudahlah, untuk apa membicarakan dia!" sahut Dio.


****


Sementara itu, Pak Dirja masih berbaring di rumah sakit, dia masih harus di rawat inap selama beberapa hari ke depan, wajahnya terlihat sedih, karena dia tidak bisa datang ke acara pernikahan anaknya, Dinda.


Pak Dirja menyesal, dia belum minta maaf dan memeluk anaknya itu, Dinda sudah keburu menikah.


Pak Dirja sedang berpikir, bagaimana cara dia menyampaikan kisah masa lalunya pada Keyla putrinya.


Pak Dirja menoleh ke arah Keyla yang tertidur di sofa ruangannya itu, wajahnya terlihat sangat lelah.


Pak Dirja juga memahami, kalau saat ini Keyla sedang bersedih, pasalnya Dio, laki-laki yang pernah akan di jodohkan dengan Keyla, pada hari ini telah melangsungkan pernikahannya.


Dan yang lebih miris lagi, Dio menikah dengan Dinda, yang notabene adalah adik tirinya sendiri.

__ADS_1


"Key!" panggil Pak Dirja.


Keyla mengerjapkan matanya, menguceknya sebentar, dan langsung mendekati Ayahnya.


"Ada apa Ayah? Apakah Ayah butuh sesuatu?" tanya Keyla.


"Duduklah di sini Nak, di samping Ayah!" jawab Pak Dirja.


Keyla beringsut duduk di samping ayahnya sambil menggenggam tangannya.


"Kapan Ayah di perbolehkan pulang oleh Dokter?" tanya Keyla.


"Entahlah Nak, mungkin beberapa hari lagi, sambil menunggu observasi!" jawab Pak Dirja.


Setelah itu mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing.


"Ken di mana Key?" tanya Pak Dirja memecah kesunyian.


"Ken baru akan datang setelah dari kantornya Ayah!" jawab Keyla.


"Key, sebelumnya Ayah minta maaf, mungkin terlambat cerita padamu..."


"Cerita soal apa? Kenapa Ayah minta maaf padaku?" tanya Keyla.


"Key, apakah kau ingat, saat kau kecil, ada seorang pengasuh yang mengasuhmu?" tanya Pak Dirja lagi.


Keyla nampak mengerutkan keningnya.


"Aku ingat aku punya pengasuh, tapi aku lupa siapa orangnya, memangnya kenapa Ayah?"


Pak Dirja menarik nafas panjang.


"Kau tau kan key, dulu saat Ibumu masih hidup, hampir setiap hari ayah bertengkar dengan ibu, karena Ibu terlalu sibuk menjadi wanita karir dan jarang ada di rumah, padahal Ayah sangat menginginkan seorang istri yang hanya di rumah melayani Ayah dan putri Ayah!" ungkap Pak Dirja.


"Iya Ayah, dulu aku sering menangis menyaksikan pertengkaran Ayah dan ibu!" sahut Keyla.


"Karena Ayah stres dan tertekan, di rumah hanya ada seorang wanita yang mengasuhmu itu, dia begitu lembut, teladan dan perhatian, Ayah mulai jatuh cinta padanya!" lanjut Pak Dirja.


"Oya? Pantas saja dulu Ibu selalu marah-marah dan mengusir pengasuh itu, karena Ayah berselingkuh!" cetus Keyla.


"Ayah punya alasan yang kuat, dan kau tau, Ibumu tidak pernah memahami itu!" jawab Pak Dirja.


"Lalu, apa maksud Ayah menceritakan masa lalu itu sekarang?" tanya Keyla.


"Kau tau Key, pengasuh itu adalah Bu Lilis, Ibunya Dinda!" jawab Pak Dirja dengan suara bergetar.


Tiba-tiba wajah Keyla berubah pias, matanya melotot dan dia kini menatap tajam ke arah Pak Dirja.


Bersambung....

__ADS_1


****


__ADS_2