Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Pengakuan Ken


__ADS_3

Pak Dirja terkejut dan terperangah, saat tiba-tiba Ken datang ke rumahnya langsung membuka pintu, tanpa memencet bel terlebih dahulu.


Wajah Ken nampak tegang dan cemas.


"Kurang ajar Kau Ken! Mengagetkan aku saja! Mau apa kamu datang ke sini? Tidak sopan sekali!" hardik Pak Dirja.


"Om, saya ingin bertemu dengan Mbak Keyla!" jawab Ken.


"Untuk apa kamu ketemu Keyla? Dia sudah tidur! Lebih baik kamu pulang saja!" sergah Pak Dirja.


"Saya mohon Om, saya harus ketemu Mbak Keyla, ada hal penting yang mau saya tanyakan, please!" Ken kemudian berlutut di hadapan Pak Dirja sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Keyla ada di kamarnya, seharian ini dia nyaris tak keluar kamar, aku beri waktu kamu 10 menit untuk bertemu dengannya, setelah itu kamu pulang!" kata Pak Dirja akhirnya.


"Baik Om!"


Ken tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia berjalan cepat menuju ke kamar Keyla, yang letaknya di lantai dua.


Tok ... Tok ... Tok


Ken mengetuk pintu kamar itu, tidak ada jawaban.


Ken mengetuk beberapa kali lagi, hingga akhirnya pintu kamar itu di buka dari dalam.


Keyla muncul sudah dengan mengenakan pakaian tidur, bersiap akan tidur.


"Kamu! Mau apa kamu datang ke sini Ken??" tanya keyla yang hendak menutup pintu, namun tangan Ken menahannya sehingga tangannya itu terjepit pintu, Ken meringis menahan sakit.


"Mbak, beri aku waktu untuk bicara, sebentar saja, please!" ucap Ken.


"Pergilah Ken, aku tidak membutuhkanmu!" seru Keyla.


"Mbak keyla memang tidak membutuhkanku, tapi bayi itu membutuhkan aku Mbak!" ucap Ken.


Keyla tertegun beberapa saat lamanya, hatinya begitu jijik mendengar ucapan Ken.


"Aku tau, Mbak Keyla saat ini sedang hamil, dan aku yakin aku adalah Ayah dari bayi itu!" lanjut Ken.


"Pasti Dinda yang memberitahumu!" gumam Keyla.

__ADS_1


"Aku akan bertanggung jawab Mbak, ijinkan aku melamar dan menikahimu!" ucap Ken.


"Tidak! Aku tidak pernah mencintaimu Ken, bermimpi saja aku tidak pernah untuk menikah dengan pecundang sepertimu!" tukas Keyla.


"Terserah kalau Mbak Keyla memang membenci aku, tapi setidaknya aku berniat untuk berubah, bagiku sudah tidak ada lagi cinta, yang ada hanya rasa tanggung jawab, kasihan bayi kita, dia tidak berdosa!" ucap Ken.


"Dosa? Selama ini kamu juga hidup bergelimang dosa! Sok suci kamu Ken!" sentak Keyla.


"Yah, aku tau sebejat apa diriku, tapi aku tidak mau ada lagi yang menjadi korban, cukup sudah Mbak, aku akan menikahi Mbak Keyla, kalau memang tidak ada rasa cinta di antara kita, setelah bayi itu lahir, aku akan ceraikan Mbak Keyla!" tegas Ken.


"Apa??? Bayi??!"


Tiba-tiba Pak Dirja sudah berdiri di belakang Ken, Keyla dan Ken membulatkan matanya.


Wajah Pak Dirja terlihat tegang dan memerah, tubuhnya tiba-tiba bergetar, dan tangannya memegang dadanya.


"Ayah!"


Keyla langsung mendekati Ayahnya itu, Ken juga menyusul di belakangnya.


"Keyla, benarkah apa yang Ayah dengar? Ken sudah menghamilimu?" tanya Pak Dirja dengan suara terbata-bata.


Ken dengan cepat mengangkat tubuh Pak Dirja ke kamarnya, dan membaringkannya di atas tempat tidur.


Pak Dirja sedikit tenang, saat Keyla membantu meminumkan obat dan air putih. Namun masih ada kekhawatiran di wajahnya.


"Om Dirja, saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena saya telah merusak anak Om, Keyla!" ucap Ken jujur.


"Aku tidak menyangka Ken, selama ini kau bersahabat dengan putriku, kau malah menghancurkan dia!" ujar Pak Dirja sambil menangis.


"Maafkan saya Om, saya memang salah, karena itu saya akan bertanggung jawab, ijinkan saya untuk menikahi Keyla secepatnya, saya janji akan berubah menjadi lebih baik!" ucap Ken tulus.


"Maafkan aku Ayah!" isak Keyla sambil memeluk Ayahnya itu.


"Ayah salah Nak, ini adalah karma yang Ayah terima akibat perbuatan Ayah dulu, Ayah yang salah, Ayah terkutuk!" ujar Pak Dirja merutuki dirinya sendiri.


"Tidak Om, saya yang salah, saat ini, saya hanya minta Om merestui saya untuk menikahi Mbak Keyla, dan memberikan saya kesempatan untuk berubah dan bertanggung jawab!" ucap Ken.


Pak Dirja hanya diam saja, wajahnya menyiratkan rasa penyesalan yang amat dalam.

__ADS_1


****


Sementara itu di dalam kamarnya, Dio nampak senyum-senyum sambil menatap ke layar ponselnya.


"Din, kamu tau tidak, aku menang tender lagi, saat ini sedang ada proyek besar yang akan aku garap, doakan bisnis suamimu ini semakin berkembang, sejak kamu jadi istriku, entah kenapa usahakan jadi semakin maju!" ucap Dio senang.


Dinda tidak merespon ucapan suaminya itu, sejak tadi banyak hal yang di pikirannya.


Masalah Keyla yang hamil di luar nikah, di tambah lagi dengan tekanan Bu Lian yang selalu mengharapkan Dinda agar bisa segera hamil.


"Sayang?" Dio mendekati Dinda sambil mengusap rambutnya.


"Eh, kenapa Mas?" tanya Dinda yang tiba-tiba tersadar kalau Dio sedang berbicara padanya.


"Kamu melamun? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Dio sambil membalikan tubuh Dinda menghadap ke arahnya.


"Aku ... aku ..."


"Pasti kamu tertekan ya sama omongan Bunda, jangan terlalu di masukan ke dalam hati sayang, namanya juga orang tua!" potong Dio cepat.


"Mas ... mengenai saran Bunda, untuk pergi ke Dokter memeriksakan kesuburan kita, bagaimana menurutmu?" tanya Dinda.


"Tidak usah lah, kan kita belum lama menikah juga, lagi pula aku masih mau berdua sama kamu, membahagiakanmu ..."


"Tapi Mas, aku kan juga ingin memberikan Mas Dio anak, aku sangat ingin!" ungkap Dinda.


"Sabar sayang, kita masih punya banyak kesempatan, jangan khawatir, biar saja orang lain mau bilang apa, hanya kita sendiri yang bisa menentukan kebahagiaan kita sayang!" ucap Dio yang langsung memeluk Dinda.


Dinda merebahkan kepalanya di dada Dio, mendengar kabar kalau Keyla hamil, terbersit sedikit rasa iri dalam diri Dinda, dia juga sangat ingin segera hamil, dan memberikan Dio seorang bayi mungil.


Bersambung...


****


Maafkan guys...


Belakangan author suka buru-buru menulisnya, jadi mungkin ada beberapa kata typo ..


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, supaya author tetap semangat sampai tamat ...

__ADS_1


Trimakasih...


__ADS_2