
Setelah Dinda di rawat selama lima hari di rumah sakit, akhirnya hari ini dia di perbolehkan pulang ke rumah.
"Jangan lupa ya Bu Dinda, selalu kontrol ke rumah sakit setidaknya satu minggu sekali!" kata Dokter Aryo.
"Baik Dokter, trimakasih!" ucap Dinda.
Dokter Aryo lalu segera meninggalkan ruangan itu.
Sementara Dio sibuk membereskan beberapa barang bawaan, sebagian sudah di bawa Mbak Yuyun tadi pagi.
"Sudah siap sayang?" tanya Dio.
"Iya Mas, yuk, aku tidak sabar pulang ke rumah, sudah kangen sama semuanya!" kata Dinda antusias.
"Kamu bisa jalan sendiri tidak? Mau di gendong ya!" tawar Dio.
"Jangan! Aku bisa jalan sendiri kok!" sergah Dinda.
"Hmm, Oke deh, gandeng tangan Mas ya!"
Mereka akhirnya berjalan perlahan keluar dari ruangan itu.
Hingga mereka sampai di lobby rumah sakit.
"Tunggu sebentar ya sayang, Mas mau ambil mobil dulu, duduk dulu ya!" kata Dio.
"Mas, lihat itu Mas!" seru Dinda sambil menunjuk ke arah bangku lobby bagian pojok.
Di bangku itu, nampak Jessica sedang duduk sambil memangku seorang anak balita.
"Itu kan Mbak Jessi Mas, teman sekolah kamu kan?"
"Sudahlah Dinda, katanya tidak sabar mau pulang, Jessi memang hampir setiap hari datang ke rumah sakit, karena dia terapi anaknya itu!" kata Dio.
"Terapi? Sakit apa anaknya Mas?" tanya Dinda.
"Keterlambatan dalam bicara, sudah tiga tahun tapi masih belum bisa berkata apapun!" jelas Dio.
"Kita sapa sebentar lah Mas, masa ada teman bersikap seolah tidak kenal!" ujar Dinda.
"Baiklah!"
Akhirnya Dio menuruti Dinda untuk datang mendekati Jessica, Jessica sedikit kaget saat melihat kedatangan mereka itu.
"Eh, Dio? Sudah pulang hari ini ya?" tanya Jessica.
"Iya Jess!"
"Siapa nama anaknya? Lucu sekali!" tanya Dinda sambil mengelus kepala anak Jessica.
"Namanya ... Dio!" ucap Jessica.
"Oh, kok bisa sama ya sama Mas Dio!" gumam Dinda.
__ADS_1
"Apalah arti sebuah nama sayang, sudahlah, kita pulang ya, kamu kan butuh istirahat!" tukas Dio.
"Yah, suamimu benar, kamu pasti butuh istirahat, aku sudah biasa di rumah sakit, jadi jangan heran kalau aku selalu ada di sini!" timpal Jessica.
Akhirnya Dinda menuruti Dio untuk segera pulang ke rumah, lagi pula, semakin lama dia bersama Jessica, suasana akan semakin tidak nyaman.
Sepanjang perjalanan pulang, mereka saling diam dengan pikirannya masing-masing.
"Mas ..."
"Ya sayang?"
"Anaknya Mbak Jessi kenapa namanya Dio ya? Dan nama Chika itu juga Jessica kan, ini kebetulan atau apa?" tanya Dinda.
"Entahlah!"
"Di antara begitu banyak nama di dunia ini, kenapa dia memilih nama Dio? Apakah dulu kalian pernah..." Dinda menghentikan ucapannya.
"Sayang, please ... jangan membicarakan masa lalu, Kepalaku pusing!" sergah Dio.
"Oke, maaf!"
Mereka kembali saling diam dalam keheningan perjalanan siang itu.
****
Mbak Yuyun datang tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Dio dan Dinda.
Dengan cekatan dia membawakan beberapa barang dari rumah sakit.
"Baik Mbak, trimakasih!" ucap Dio.
Dia segera menggandeng Dinda berjalan masuk ke dalam rumah, dan mereka langsung menuju ke ruang makan.
"Akhirnya, kalian datang juga, Ayo duduklah, hari ini Bunda masak masakan spesial untuk menyambut kedatangan kalian!" sambut Pak Frans.
"Trimakasih Ayah!" sahut Dio dan Dinda bersamaan.
"Papa! Pokonya mulai besok aku mau di antar Papa sekolah, kalau sama Bang Ujang tidak enak, bau rokok!" cetus Chika.
"Iya Chika, besok Papa siap antar Chika sekolah lagi!" sahut Dio.
Mereka mulai menikmati santap siang mereka.
"Nanti setelah Dinda pulih, Bunda harap Dinda bisa segera hamil, Bunda sangat tak sabar memiliki cucu lagi!" kata Bu Lian.
"Bunda tenang saja, Dinda kan baru keluar dari rumah sakit!" sahut Dio.
"Oya Dio, karena Dinda sudah pulang, besok pagi Ayah dan Bunda rencana akan kembali ke Singapura, kalian jaga diri baik-baik ya!" kata Pak Frans.
"Iya Ayah!" sahut Dio.
Mbak Yuyun nampak datang menghampiri mereka.
__ADS_1
"Anu, Bu Dinda, di depan ada Ibunya Bu Dinda datang!" kata Mbak Yuyun.
"Ya suruh masuk dong Mbak!" sahut Dio.
"Sudah pak, sekarang dia sedang duduk di ruang tamu!" kata Mbak Yuyun.
"Dio, Dinda, cepat selesaikan makan kalian, lalu temui Bu Lilis, ajak dia makan sekalian!" ujar Bu Lian.
"Baik Bunda!"
Setelah Dio dan Dinda menyelesaikan makannya, mereka segera menghampiri Bu Lilis yang masih duduk di ruang tamu, di susul oleh Pak Frans dan Bu Lian.
Dinda langsung bwrhambir ke pelukan Ibunya.
"Dasar anak nakal! Kenapa kamu tidak bilang pada Ibu kalau kamu di rawat di rumah sakit dan di operasi! Ibu benar-benar Kecewa!" sungut Bu Lilis.
"Maafkan aku Bu, aku hanya tidak ingin Ibu cemas, maafkan aku!" ucap Dinda sambil terus memeluk Ibunya itu.
"Sudahlah, Ibu datang hanya ingin memelihara keadaanmu!" kata Bu Lilis.
"Ngomong-ngomong Ibu tau dari mana kalau aku di rawat?" tanya Dinda.
"Pagi-pagi Asti telepon Ibu, langsung tadi Ibu berangkat naik kereta, lain kali, jangan pernah menyembunyikan apapun dari Ibu!" jawab Bu Lilis.
"Iya Bu!" kata Dinda.
"Bu Lilis, Bu Lilis tinggal saja di sini menemani Dio dan Dinda, di sini kan banyak kamar kosong!" ucap Bu Lian.
"Trimakasih Lho Bu Lian, saya tidak apa-apa kok tinggal di apartemen sendiri!" tukas Bu Lilis sungkan.
"Ngapain tinggal sendirian, di sini lebih enak dekat dengan anak cucu dan mantu, kami pulang ke Singapura karena memang usaha kami di sana!" kata Bu Lian.
"Aduh, trimakasih sekali, saya jadi tidak enak!" ucap Bu Lilis sungkan.
"Bunda benar Bu, tinggalkan di sini menemani kami, kami akan sangat senang, supaya Ibu juga tidak kesepian!" lanjut Dio.
Akhirnya Bu Lilis pun menganggukan kepalanya.
****
Malam itu di atas tempat tidurnya, Dio nampak membaringkan tubuhnya yang lelah, setelah berhari-hari, dia baru merasakan lagi nikmatnya tidur di kasur yang empuk.
Dinda juga mulai membaringkan tubuhnya dan mulai mencoba memejamkan matanya, suasana dingin membuat mereka nampak begitu nyaman.
Dio sudah nampak tertidur pulas, Dinda melirik suaminya itu lalu membelai pipinya penuh rasa cinta.
"I Love you Mas Dio!" bisik Dinda.
"Jessi ... Jessi ... Jessi!" Tiba-tiba Dio meracau.
Dinda membulatkan matanya saat mendengar racauan Dio, selama menikah, baru kali ini Dio menyebut nama Jessi.
Ada yang bergemuruh dalam dada Dinda.
__ADS_1
Bersambung...
*****