
Dinda dan Dio sedikit terkejut, melihat seorang wanita yang datang untuk menengok Dinda dan bayinya itu, yang kini sudah berdiri di hadapan mereka, wajah yang sudah tidak asing lagi bagi mereka.
"Bu Dita?!" pekik Dinda nyaris tak percaya.
"Selamat malam Bu Dinda, Pak Dio, Maafkan aku ya baru bisa menjenguk kalian sekarang, Aku sangat ingin sekali melihat bayi kalian tapi aku baru tutup toko jam 8 malam tadi, dan aku langsung buru-buru ke sini!" ucap Bu Dita sambil menyodorkan sebuah bungkusan besar pada Dinda.
Kemudian Bu Dita nampak menengok bayi Arjuna yang kini sedang tertidur di box kaca di samping Dinda.
"Saya jadi tidak enak merepotkan Bu Dita, pakai bawa hadiah segala lagi untuk Arjuna!" kata Dinda.
"Tidak apa-apa Bu Dinda, Selamat ya atas lahirnya bayi Arjuna yang tampan ini, dan aku juga minta maaf atas kejadian masa lalu yang kurang menyenangkan, yang mungkin aku pernah perbuat pada kalian!" ucap Bu Dita.
"Sudahlah Bu Dita, aku sudah melupakan yang lalu lalu, yang penting sekarang kan hubungan kita baik!" sahut Dinda.
Dio yang merasa sedikit sungkan dan tidak enak karena Dinda dan Bu Dita mengobrol, akhirnya duduk di sofa yang ada di pojok ruangan itu.
"Bu Dinda, aku dengar-dengar sekolah kita itu kasihan sekali, Bu Dinda dan aku keluar dari sekolah terus Mr. Sam juga keluar, Pak Roni benar-benar kasihan, karena guru yang sekarang katanya tidak sebagus guru yang dulu!" ujar Bu Dita.
"Benar Bu Dita, tapi bagaimana lagi, roda kan berputar mungkin tidak selamanya kita menjadi guru, mudah-mudahan saja sekolah kita dulu itu makin hari makin maju ya Bu!" sahut Dinda.
"Iya Bu Dinda, sekarang ini kalau ada kegiatan di sekolah, pasti pada beli ke tokoku, sekarang aku nyaman walau pun hanya menjaga toko setiap hari!" kata Bu Dita.
"Wah bagus dong Bu Dita, jadi pelanggannya bukan orang jauh, apalagi Bu Dita kasih diskon pasti mereka akan balik lagi deh, Aku juga kalau misalnya kebutuhan dapur udah menipis, aku pasti balik ke toko Bu Dita!" ujaran Dinda.
Bu Dita nampak tersenyum senang, Entah mengapa kini Bu Dita kelihatan berbeda dari yang dulu, pada saat dia masih menjadi guru.
Kini Bu Dita nampak lebih tulus, juga lebih terbuka pada Dinda, sehingga mereka bisa saling memahami satu dengan yang lain dan mulai dekat, tidak ada lagi jarak di antara mereka seperti dulu.
"Kalau begitu aku pamit pulang dulu ya Bu Dinda, Kalian kan juga butuh istirahat, nanti lain waktu aku akan mengunjungi kalian di rumah! Mari Pak Dio!" ucap Bu Dita yang kemudian segera membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar ruangan itu.
__ADS_1
Setelah Bu Dita pergi, Dio kemudian kembali mendekati Dinda dan bayinya.
"Hmm, akhirnya pergi juga tuh si Ibu genit!" ujar Dio.
"Mas, jangan begitu, sekarang Bu Dita sudah berubah, dia tidak seperti dulu lagi Mas!" tukas Dinda.
"Yah, semoga saja, sejak dulu wanita itu selalu mencari celah untuk mengambil hatiku, untung saja aku tidak terjerumus dalam rayuan mautnya!" lanjut Dio.
"Sudah Mas, jangan bahas itu lagi, tiap orang itu ada sisi buruk dan baiknya, walau dia dulu punya kesalahan, tapi dia pasti bisa berubah, Mas Dio ingat kan kasus Asti?" tanya Dinda sambil menatap ke arah dio.
"Ya!"
"Dulu aku sangat percaya padanya bahkan lebih dari siapapun, tapi Mas tau apa akhirnya, dia merusak kepercayaan itu, orang yang selama ini kita anggap baik, tidak selamanya akan selalu baik!" ucap Dinda.
"Oke, aku paham, maafkan aku!" Dio lalu memeluk Dinda sambil mengelus-elus rambutnya.
Tiba-tiba terdengar suara bayi Arjuna menangis, Dio cepat-cepat melepaskan pelukannya, lalu dengan perlahan dia mengambil bayi mungil itu dari kotak kaca yang ada di sebelah Dinda.
"Sepertinya Juna haus, susui Din!" kata Dio.
"Sini Mas berikan padaku!"
Dinda dengan cepat langsung membuka kancing bajunya, lalu mengeluarkan susunya, karena di situ tidak ada orang lain lagi, Dio kemudian mulai membantu Dinda untuk mencari posisi yang nyaman untuk menyusui Arjuna.
Meskipun kelihatannya begitu sulit, namun setelah beberapa kali mencoba, Dinda berhasil juga, dan Dio membantu memegangi bayinya itu, karena Dinda tidak bisa banyak bergerak karena perutnya yang masih terasa nyeri itu sehabis operasi Caesar.
"Din, kenapa dada mu jadi besar begini?" tanya Dio saat memandangi Juna yang sedang menyusu itu.
"Ya bengkak Mas, ada ASI yang sedang berproduksi!" jawab Dinda.
__ADS_1
"Hmm, jadi pengen!" gumam Dio.
"Pengen? Jangan modus deh Mas, bukan waktunya!" cetus Dinda.
"Duh, dah berdiri lagi!" sungut Dio.
"Sudah sana Mas, lebih baik kamu tiduran saja di sofa, lama-lama bahaya, biar aku menyusui Juna sendiri, tuh dia juga sudah mulai tidur!" ujar Dinda.
Dio pun akhirnya berjalan gontai ke arah sofa, sudah ada yang membukit di bagian kelelakiannya.
Dinda hanya geleng-geleng kepala melihat Dio, padahal beberapa hari yang lalu mereka sudah bercinta yang mengakibatkan air ketuban Dinda pecah, bagaimana Dio bisa berpuasa, tidak berhubungan selama hampir sebulan ke depan.
Sebenarnya tidak tega juga melihat keadaan suaminya seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, Dinda juga baru melahirkan.
Dio kemudian merebahkan tubuhnya di sofa, gelisah tidak tenang tidur, Dinda melihatnya dari ranjangnya.
"Mas, sini deh, aku bantu kamu untuk menuntaskan hasratmu!" panggil Dinda.
"Tidak usah!" sahut Dio.
"Sini Mas Dio sayang, kamu lupa aku masih punya tangan dan mulut!" ujar Dinda.
Dio tersenyum, dia langsung kembali bangun dan berjalan ke arah Dinda.
Bayi Arjuna nampak sudah tertidur, Dio mengangkatnya perlahan dan memindahkannya ke box kaca.
Bersambung ....
****
__ADS_1