
Di ruang makan, keluarga besar Dio sedang menikmati sarapan pagi mereka, mengelilingi sebuah meja makan besar dengan aneka hidangan di atasnya.
Wajah Chika terlihat sangat berbinar, hari ini dia merasakan kebahagiaan yang seutuhnya, dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Dio bahagia, akhirnya bisa melihat keceriaan di wajah Chika putrinya, keceriaan yang sempat pernah hilang dan kini sudah kembali lagi.
Dinda pun mulai belajar untuk melayani suaminya, mulai dari menyiapkan piring makan dan mengambilkan makanan untuk Dio suaminya, juga Chika anak sambungnya.
Tiba-tiba Pak Frans menyodorkan sebuah amplop kearah Dio dan Dinda.
Dio dan Dinda saling berpandangan, tidak mengerti Amplop apa yang diberikan oleh Pak Frans itu.
"Apa ini Yah?" tanya Dio.
"Ini hadiah tiket bulan madu ke Turki dari Ayah dan Bunda!" jawab Pak Frans.
"Apa? Bulan madu?" tanya Dio nyaris tak percaya.
"Asyyiiik!! Papa dan Mama dapat hadiah jalan-jalan, aku ikut aahhh!!" seru Chika senang.
"Chika, nanti Chika Opa dan Oma ajak jalan-jalan saja kemana yang Chika mau, asal jangan ikut Papa dan Mama!" kata Pak Frans.
"Memangnya kenapa??" tanya Chika sedih.
"Karena Papa dan Mama kan baru menikah, jadi ini adalah hadiah untuk orang yang baru menikah!" jelas Pak Frans.
"Tapi aku kan juga ulang tahun, aku juga dapat hadiah dong!" sahut Chika.
"Sudahlah Ayah, bicara sama Chika hanya akan membuat Ayah capek, dia tidak akan mau kalah, tidak akan berhenti bicara sebelum menang!" kata Dio.
"Yah, pokoknya kalian terima saja pemberian dari kami, anggap saja ini hadiah pernikahan kalian dari kami, sebagai orang tuamu Dio!" ucap Pak Frans sekali lagi.
"Trimakasih Ayah, Bunda!" Dio langsung berdiri dan memeluk kedua orang tuanya itu.
"Dinda, nanti setelah selesai sarapan, temui Bunda di taman samping dekat kolam renang, ada yang ingin Bunda sampaikan padamu!" ucap Bu Lian Tiba-tiba.
Sejak tadi Bu Lian diam saja, tidak banyak bicara atau berkomentar apapun.
"Baik Bunda!" jawab Dinda.
__ADS_1
"Apakah aku boleh ikut?" tanya Dio.
"Tidak, ini antara sesama wanita, kau jangan ikut campur!" sahut Bu Lian.
"Tapi Bunda janji ya, jangan bicara yang membuat istriku sedih!" kata Dio dengan wajah cemas.
"Kau tenang saja Nak, mana mungkin Bunda membuatmu sedih, kau putra Bunda satu-satunya!" jawab Bu Lian.
Akhirnya setelah selesai sarapan pagi, Dinda menemui Bu Lian yang terlebih dahulu pergi ke taman samping rumah Dio, di samping kolam renang, di sebuah bangku yang menghadap ke arah kolam, dengan suara gemericik air mancur yang terdengar begitu estetik.
"Apa yang ingin Bunda sampaikan padaku?" tanya Dinda yang kemudian duduk di sebelah Bu Lian, di batasi dengan sebuah meja bundar kaca.
"Dinda, sekarang statusmu adalah istri Dio, anakku, mau tidak mau, suka tidak suka, Dio sudah terlanjur memilih mu, jadi aku sebagai Bundanya hanya bisa berharap, kalau putraku bisa mendapatkan kebahagiaannya!" ucap Bu Lian.
"Trimakasih Bunda, saya akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk anak Bunda, juga Ibu untuk Chika, cucu Bunda!" jawab Dinda.
"Bagus! Dan aku harap kau tidak membuat Dio kecewa, apalagi kau juga tau kan masa lalu Dio, dia merasa tidak pernah di cintai oleh istrinya bahkan sampai akhir hayatnya, itu sangat menyakitkan!" lanjut Bu Lian.
"Iya Bunda, saya akan mencintai Mas Dio dengan sepenuh hati saya!" jawab Dinda.
"Dio sudah memperlakukanmu sebagai ratu di rumah ini, layani dia dengan sepenuh hatimu, berikanlah Dio keturunan agar rumah ini semakin ramai, Chika sudah cukup besar untuk memiliki seorang adik!" ucap Bu Lian.
"Baik Bunda!"
Dinda kemudian menganggukkan kepalanya, setelah itu dia segera berjalan meninggalkan Bu Lian yang masih duduk di bangku taman itu.
****
Di apartemen, Bu Lilis duduk seorang diri di sofa, sambil menatap foto pernikahan Dinda yang ada di ponselnya.
Matanya berkaca-kaca, ada raut kebahagiaan di wajahnya, akhirnya Dinda kini telah menikah dengan seorang laki-laki yang tepat.
Namun, juga ada sedikit mendung di wajahnya, karena Bu Lilis menyadari, Dinda kini bukanlah miliknya sepenuhnya, dia sudah menjadi milik suaminya.
Ting... Tong
Tiba-tiba terdengar suara bel dari pintu apartemen itu, perlahan Bu Lilis bangkit dan melangkah mendekati pintu, lalu dia membuka pintu apartemen itu.
Matanya terbelalak, saat dia melihat Pak Dirja sudah berdiri di depan pintu apartemen itu.
__ADS_1
"Pak Dirja??"
"Maaf Lis, boleh aku masuk?" tanya Pak Dirja.
Bu Lilis tidak dapat mejawab pertanyaan Pak Dirja, dia hanya menganggukan kepalanya.
Pak Dirja dengan langkah terlatih akhirnya masuk dan duduk di sofa ruangan itu.
"Bukankah kau masih di rawat di rumah sakit?" tanya Bu Lilis.
"Aku minta Dokter agar di ijinkan pulang, lagi pula suasana rumah sakit malah membuatku semakin sakit!" jawab Pak Dirja.
"Oh, lalu, mau apa kau datang ke sini? Sepertinya kita sudah tidak ada urusan lagi, Dinda juga sudah menikah, sepertinya juga tidak lagi membutuhkanmu!" ujar Bu Lilis.
"Yah, kau benar Lis, Dinda memang sudah menikah, Keyla juga sudah dewasa dan mandiri, di masa tua kita, aku merasa kalau kita saling membutuhkan!" ucap Pak Dirja.
"Apa maksudmu??"
"Lis, kau pasti kesepian, aku pun juga begitu, aku menduda sekian lama, hidup seorang diri tanpa ada wanita, berusaha untuk mencarimu tapi tidak ketemu, mungkin saat ini takdir mempertemukan kita, untuk bisa saling melengkapi dan mengisi kekosongan kita!" ungkap Pak Dirja.
"Kita sudah tua Pak, malu bicara seperti itu, biarlah dosa masa laku kita kita terima dan tanggung masing-masing, toh aku juga sudah ikhlas!" ucap Bu Lilis.
"Lis, selama kau pergi dari rumahku waktu itu, kau tidak pernah menikahi laki-laki lain kan? Sebenarnya di dalam hatimu yang terdalam, kau mencintai aku bukan?" tanya Pak Dirja sambil menatap wajah Bu Lilis.
"Sudahlah Pak, kita sudah tua, tidak pantas bicara cinta, bagiku sudah tidak ada cinta lagi dalam hidupku, bisa menyaksikan anakku bahagia, bagiku itu sudah cukup!" tukas Bu Lilis.
"Belum terlambat kalau kita bersatu saat ini Lis, kita sama-sama sendiri, siapa lagi yang akan menghalangi kebahagiaan kita?" ucap Pak Dirja.
"Tapi Pak, aku ..."
"Ijinkan cinta itu terwujud dalam ikatan pernikahan, aku akan menikahimu, sebagai istri sah, bukan pengasuh atau selingkuhan! Aku akan menebus kesalahanku yang dulu, beri aku kesempatan!" ucap Pak Dirja sambil mulai menggenggam hangat tangan Bu Lilis.
Bersambung ....
****
Halo guys...
Yuk tetap dukung Author ... jangan lupa tinggalkan jejak kalian ...
__ADS_1
Trimakasih...🥰🙏