
Dinda dirawat di rumah sakit itu selama 5 hari, dan selama 5 hari itu dia senantiasa menunggu dan menemani Dinda bersama dengan buah hati mereka, Arjuna.
Hari ini Dinda diperbolehkan pulang ke rumah oleh dokter, setelah sebelumnya Dia belajar berjalan dan bangun sendiri dari tempat tidurnya, tanpa dibantu. Meskipun perutnya masih terasa nyeri akibat operasi sesar.
Bu Lian nampak menggendong Arjuna cucu kesayangannya itu, dia bersama segan Dinda dan Dio berjalan ke arah lobby, menunggu Pak Frans yang sedang membawa mobil untuk mengantar Dinda dan Dio pulang ke rumah.
Bu Lian nampak senang dan bahagia, karena memiliki cucu yang tampan, seorang anak laki-laki yang selama ini selalu diidam-idamkannya.
Pak Frans juga begitu bangga terhadap cucunya, Arjuna, karena dia akhirnya memiliki keturunan laki-laki, yang akan menjadi sang pewaris yang akan mewarisi perusahaan keluarga mereka.
"Dinda, Dio, pokoknya Juna itu harus diperlakukan dengan spesial, berhubung dia adalah anak laki-laki, maka dia harus diberikan kebutuhan khusus, sehingga dia memiliki otak yang cerdas, juga bisa menjadi pemimpin kelak, Dinda harus banyak makan makanan yang sehat dan bergizi, supaya anaknya nanti bisa sehat dan pintar!" ucap Bu Lian ketika dalam perjalanan pulang ke rumah.
"Iya Bunda!" jawab Dinda.
"Bagus! Pokoknya selama kamu menyusui Juna, kamu jangan makan yang aneh-aneh, kamu tidak boleh minum kopi, tidak boleh makan sambel, tidak boleh makan yang terlalu banyak mengandung lemak, kamu harus makan yang bergizi tinggi, supaya ASI mu itu berkualitas!" lanjut Bu Lian.
"Iya Bunda!" jawab Dinda lagi.
"Bunda boleh menyarankan apapun pada Dinda, tapi tetap saja Dinda adalah ibu kandung dari Juna, jadi Dinda yang sepenuhnya bertanggung jawab atas diri Juna!" kata Pak Frans.
"Iya Bunda tahu Ayah, namanya orang tua itu kan pasti mau yang terbaik buat anak dan cucunya! Mana ada ada seorang nenek menjerumuskan cucunya sendiri!" sahut Bu Lian.
"Iya, Ayah tahu Bunda! Tapi bukan berarti Bunda selalu mengatur-atur hidup Dinda! Biarkan Dinda bebas bagaimana mengatur bayinya sendiri, Kita sebagai orang tua jangan ikut campur rumah tangga anak-anak kita!" tugas pak Frans.
"Sudahlah Ayah, Bunda, kalian jangan berdebat hanya karena masalah Juna, Juna itu anak aku dan Dinda, Jadi Biarkanlah kami yang mengurus Juna dengan sepenuh hati kami, bukan berarti Ayah dan Bunda tidak berhak mengatur Juna, tapi supaya kedepannya sama-sama enak!" sergah Dio.
__ADS_1
Dinda terdiam Mendengar pembicaraan kedua mertuanya itu dengan suaminya.
Entah mengapa ada perasaan tidak enak di dalam diri Dinda, bayi yang kini masih merah itu memang menjadi kebanggaan keluarga ini, tapi bukan berarti peran Dinda sebagai seorang ibu tersingkir.
Entah mengapa, ada yang sedih di dalam hati Dinda. Dia merasa tidak bebas mengurus buah hatinya sendiri, Bu Lian seperti hakim yang memata-matai dalam setiap gerak-geriknya, sehingga hal itu membuat Dinda kurang merasa nyaman, meskipun apa yang di lakukan oleh Bu Lian itu semata-mata demi sang cucu tercinta, Arjuna.
****
Ketika mereka sampai di rumah, ternyata sudah ada Pak Dirja dan Bu Lilis, beserta dengan Keyla dan juga Ken dan bayi mungil mereka yang cantik Kirana.
Mereka sudah menunggu kepulangan Dinda dan bayinya dari rumah sakit, karena Pak Dirja dan Bu Lilis mempersiapkan acara syukuran kecil-kecilan di rumah itu untuk menyambut kepulangan bayi Arjuna.
"Wah akhirnya pulang juga pangeran tampan ini, Kebetulan di meja makan sudah ada hidangan yang siap di santap, tadi Mbak Yuyun dan Mbak Sri sengaja masak untuk menyambut kepulangan kalian!" kata Bu Lilis.
"Tante Lian, Aku mau dong menggendong Juna! Aku bahkan belum pernah merasakan gendong Arjuna, sekarang Kirana sudah agak besar, tak terasa dia sudah mau 3 bulan saja!" kata keyla.
Sementara bayi Kirana nampak sedang digendong oleh Ken, mereka duduk menunggu di ruang keluarga.
"Sudah, dia sedang anteng bersama denganku, kamu gendong sajalah bayimu sendiri, sama saja kan, lagi pula Juna tidak boleh terlalu banyak orang yang menggendongnya, nanti dia jadi bau tangan kebiasaan!" sahut Bu Lian.
Setelah itu Bu Lian langsung membawa Arjuna ke atas menuju ke kamar bayi, yang sebelumnya sudah didekorasi oleh Dio dan Chika.
Chika juga sangat antusias mengikuti kemanapun adiknya itu, sampai ke dalam kamarnya.
"Oma, Aku boleh nggak memangku Adik Juna? Aku kan pengen pangku adik sebentar saja deh!" tanya Chika pada saat Bu Lian meletakkan bayi Arjuna di atas boks bayi yang berukuran besar itu, yang sudah disiapkan di dalam kamar bayi itu.
__ADS_1
"Sudah Chika, jangan ganggu adik Juna dulu, dia kan capek baru datang! Lebih baik Chika makan di bawah, nanti setelah Adik sudah bangun tidur, baru Chika boleh main, tapi jangan dipangku ya, Adik Juna kan masih kecil nanti kalau kepleset bisa sakit adik Juna nya!" sahut Bu Lian.
Dengan wajah kecewa Chika kemudian keluar dari kamar Juna, dan berjalan turun ke bawah duduk bergabung dengan mereka semua yang sudah duduk di ruang makan, untuk menikmati santap siang bersama.
"Mas Dio, aku naik ke atas ya, mau menemani Juna, Aku tidak terlalu lapar!" kata Dinda.
"Juna kan sedang bersama Bunda di atas di kamarnya, lebih baik kamu makan saja dulu Din, Setelah itu kamu gantian sama Bunda!" saran Dio.
Dinda menganggukkan kepalanya, kemudian dia mulai dengan cepat menyantap makanannya itu untuk segera naik ke atas bergantian dengan Bu Lian.
Dio juga dengan cepat menyantap makanannya, karena dia harus menuntun Dinda untuk naik ke atas, Karena perut Dinda yang masih nyeri sehabis operasi caesar itu, Dinda juga masih belum bisa berjalan dengan cepat.
Setelah mereka selesai makan, Dinda dan Dio kemudian pamit kepada mereka semua yang masih menikmati santap siang, dan mereka langsung berjalan menuju ke atas, ke kamar Juna yang ada disebelah kamar Dio dan Dinda.
Bu Lian nampak sedang memandangi bayi Arjuna yang pada saat itu sedang tertidur, dari raut wajahnya jelas terlihat kalau Bu Lian sangat menyayangi cucunya itu.
"Bunda, Bunda sudah ditunggu Ayah juga Ayah Dirja dan Bu Lilis di bawah, biar Dinda dan aku saja menjaga Juna, Bunda makan saja dulu di bawah gantian!" Kata Dio.
"Kalian ini cepat sekali sih makannya, baru juga Bunda bersama Juna! Ya sudah lah kalian tolong jaga cucu Bunda, nanti setelah makan, bunda naik lagi ke sini biar nanti bunda yang akan menjaga Juna, kecuali kalau dia mau menyusu!" kata Bu Lian yang kemudian berlalu dan keluar dari kamar Arjuna.
Dio dan Dinda hanya bisa saling berpandangan.
bersambung...
****
__ADS_1