
Dio menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya, matanya menerawang menatap langit-langit kamarnya.
Kamar yang seperti malam-malam sebelumnya, yang begitu dingin, sunyi dan sepi.
Ceklek!
Chika masuk ke dalam kamar itu dan langsung berbaring di samping Papanya itu.
"Chika belum tidur sayang?" tanya Dio sambil membelai rambut putrinya itu.
"Papa sendiri belum tidur?" tanya Chika balik.
"Papa belum bisa tidur sayang!" jawab Dio.
"Pasti lagi mikirin Bu Dinda, iya kan? Ayo ngaku!" tebak Chika.
"Chika tau dari mana? Papa kan tidak pernah bilang!" ujar Dio.
"Dari tadi Papa pulang, Papa kelihatan sedih dan kusut, kayak gosokan Mbak Yuyun!" sahut Chika.
Dio tertawa sambil mencium kening Chika dengan gemas.
"Chika, kalau bulan depan Chika ulang tahun, dan Papa tidak bisa memberikan hadiah yang Chika mau bagaimana?" tanya Dio.
"Kenapa Pa? Bukannya papa sudah janji, akan memberikan hadiah itu untukku, Papa sayang kan sama Bu Dinda?" tanya Chika balik sambil menatap wajah Papanya Itu.
"Yah, walaupun Papa sayang sama Bu Dinda, tapi kalau Bu Dindanya tidak sayang papa bagaimana? Papa tidak bisa memaksa bukan?" jawab Dio sambil terus mengelus rambut putrinya itu.
Chika terdiam, sebenarnya itu bukanlah hadiah untuk Chika di hari ulang tahunnya nanti.
Chika hanya ingin memberikan Papanya itu hadiah, sehingga Papanya tidak sendiri lagi.
Chika kemudian mulai menangis dan mengusap air matanya, karena hatinya sedih melihat kesedihan Papanya Itu.
"Lho, kenapa Chika menangis? Jangan menangis sayang, Papa tidak suka melihat Chika menangis!" ucap dia sambil mengusap air mata Chika.
"Aku kasihan sama papa! Setiap malam Papa selalu tidur sendirian, tidak ada yang menemani papa, tidak ada yang masakin Papa, juga tidak ada yang perhatian sama papa!" isak Chika yang kemudian menyandarkan kepalanya di dada Papanya itu.
"Sssst, Chika dengar, bagi Papa, Chika adalah harta yang Papa punya, melihat Chika tertawa dan bahagia sudah cukup membuat Papa senang!" ucap Dio sambil memeluk Chika.
"I Love you Papa!"
"Love you too Chika, sekarang Chika tidur ya, sudah malam!"
Chika menganggukkan kepalanya, setelah itu dia turun dari tempat tidur itu, dan berjalan keluar dari kamar Papanya.
****
Dinda berdiri di depan lobby sekolah itu, hari ini dia bertugas menjadi guru piket yang menyambut kedatangan anak-anak yang datang ke sekolah.
Chika turun dari mobil Papanya, kemudian berjalan ke arah lobby dengan menggandeng tangan Papanya itu.
Setelah sampai di dekat gerbang lobby, Chika pun Melambaikan tangannya ke arah Papanya, kemudian dia langsung masuk.
Sementara Dio Papanya, langsung berjalan keluar Kembali menuju ke mobilnya yang terparkir.
"Good morning Chika!" sapa Dinda sambil menjabat tangan Chika.
__ADS_1
"Morning!" sahut Chika yang kemudian langsung berlalu begitu saja dari hadapan Dinda.
Dinda tertegun melihat sikap Chika yang dingin dan cuek terhadapnya, berbeda dari sebelumnya.
Pada jam pelajaran di kelas, Chika nampak duduk melamun di bangkunya, sementara teman-temannya yang lain sibuk menyalin tulisan yang ada di papan tulis.
Dinda Kemudian datang menghampiri Chika di bangkunya itu.
"Chika, Kenapa hari ini kau melamun? Apa Chika sedang ada masalah? Ayo cerita sama Bu Dinda!" kata Dinda.
"No!" cetus Chika.
"Why??"
"Bu Dinda sudah buat Papa sedih!" kata Chika.
Dinda terdiam mendengar ucapan Chika, waktu itu memang Dinda bersikap ketus terhadap Dio dan seolah tidak suka dengan perlakuan Dio yang agak berlebihan terhadap nya itu.
Namun Dinda sama sekali tidak menyangka, kalau Apa yang dia lakukan terhadap Dio juga melukai hati Chika.
"Chika, ayo ikut ibu ke depan, Chika duduk di depan meja ibu ya!" ajak Dinda sambil mengelus punggung Chika.
Chika menganggukkan kepalanya, kemudian dia berdiri dan melangkah menuju ke meja guru yang ada di sudut ruangan itu, kemudian Chika mulai duduk menghadap meja itu.
Teng ... Teng ... Teng
Terdengar suara Bel istirahat sekolah, anak-anak nampak bersorak dengan senang karena mereka akan istirahat.
"Anak-anak! Yang sudah selesai tolong letakkan bukunya di meja Bu Dinda! Yang belum selesai nanti setelah istirahat harap segera diselesaikan tugasnya ya!" seru Dinda.
"Iya Bu!" sahut murid-murid serentak.
Dinda kembali menatap wajah Chika yang hari ini terlihat mendung.
"Chika, lalu apa yang harus Bu Dinda lakukan, supaya Chika kembali senang dan bersemangat?" tanya Dinda.
"Bu Dinda minta maaf sama papa!" sahut Chika.
"Minta maaf?"
"Ya, buat Papa kembali senang!"
"Hmm, oke, nanti Bu Dinda akan minta maaf sama Papa! Ada lagi?" tanya Dinda.
Chika nampak berpikir, tak lama kemudian dia menatap Dinda dengan mata beningnya yang terlihat sangat cantik dan lentik, persis seperti mata Papanya.
"Bu Dinda sayang Papa??" tanya Chika.
Kini Dinda yang terdiam, apakah Dinda harus mengatakan perasaannya di depan si kecil Chika.
"Kenapa Bu Dinda diam?" tanya Chika.
"Ehm, Chika, sekarang lebih baik Chika selesaikan dulu tugas menulisnya, nanti ketinggalan!" sahut Dinda mencoba mengalihkan perhatian.
"Bu Dinda payah! Papaku keren lho Bu, kata Mamanya Edo sama Mamanya Putri, Papa ganteng pake banget! Masa Bu Dinda tidak suka??" tanya Chika lagi.
"Oke oke, Bu Dinda suka sama Papa Chika, sudah dengar kan Chika?? Bu Dinda suka sama Papa Chika, juga sayang!" ucap Dinda akhirnya.
__ADS_1
"Nah, itu baru iyess!" seru Chika senang.
"Sekarang Chika mulai kerjain tugasnya ya, Oke??"
"Siap! Dalam sepuluh menit, pasti aku akan selesai!" sahut Chika yang kini kembali bersemangat.
****
Saat pulang sekolah, Dio duduk menunggu Chika di lobby sekolah itu.
Dari arah tangga atas, Chika turun digandeng oleh Dinda, mereka berjalan menuju ke arah Dio yang duduk sambil memainkan ponselnya.
"Papa!"
Chika langsung melompat ke pangkuan Dio.
Sementara Dinda masih berdiri tidak jauh dari tempat mereka duduk.
Suasana berubah menjadi canggung.
"Papa, antar Bu Dinda juga kan sekalian??" tanya Chika.
"Antar kemana ya? Papa bingung Bu Dinda mau tinggal di mana!" sahut Dio cuek.
Chika kemudian beralih kepada Dinda yang masih berdiri itu.
"Bu Dinda, Bu Dinda mau di antar pulang ke mana? Ke apartemen Papa atau ke tempat kos Bu Dinda?" tanya Chika.
"Terserah Papa Chika mau antar kemanapun, Bu Dinda Oke!" jawab Dinda.
"Tuh Pa, Bu Dinda kanan kiri oke katanya! Sudah ya jangan marahan lagi!" kata Chika.
"Chika, coba tanya sama Bu guru mu ini, apakah dia sayang sama Papa atau tidak?" tanya Dio sambil memangku Chika.
"Tadi katanya sih sayang Pa! Kan aku sudah tanya!" sahut Chika.
"Tapi Papa belum dengar tuh!" cetus Dio.
"Bu Dinda, di tanya Papa lagi tuh katanya dia belum dengar!" ujar Chika.
Dinda semakin keki dan salah tingkah, Chika dan Dio benar-benar pandai menjebaknya.
"I-iya, Bu Dinda sayang sama Papa Chika!" ucap Dinda menunduk.
"Apa? Papa belum dengar Chika, Bu Dinda bilang apa sih??" tanya Dio sambil memegang telinganya.
Dengan kesal Dinda maju dan mendekati tempat duduk mereka.
"Pak Dio yang terhormat, apakah anda tidak dengar barusan saya bilang apa??" tanya Dinda gemas.
Dio menggelengkan kepalanya.
"I Love You Pak Dio!!" seru Dinda dengan suara keras.
Di iringi dengan tepuk tangan beberapa murid yang ada di belakang Dinda.
Seketika wajah Dio berubah cerah.
__ADS_1
Bersambung ...
****