Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Kecemasan Dio


__ADS_3

Dinda masih berbaring di tempat tidurnya, kepalanya pusing, tubuhnya juga demam, bahkan dia belum bisa bangun dari tempat tidurnya.


Padahal Dinda ingin sekali beranjak, pergi ke dapur dan membantu Mbak Yuyun masak untuk makan siang Dio dan Chika nanti.


Namun tubuhnya terlalu lelah untuk bangkit dari tidurnya. Kepalanya benar-benar pusing, dan perutnya sakit.


Ceklek!


Dio masuk sambil membawakan satu gelas jus alpukat, kemudian Dio langsung duduk di sebelah Dinda.


"Sayang, kata Mbak Yuyun kamu belum turun sejak pagi, setelah ini aku antar ke Dokter ya!" kata Dio.


"Tidak usah Mas, paling nanti juga aku sudah pulih lagi, aku cuma kecapean Mas!" tukas Dinda.


"Tapi sayang, aku khawatir melihatmu, wajahmu pucat, badanmu panas, atau aku panggilkan saja Dokter ke rumah ya, aku panggilkan Dokter Dicky, mau ya?" bujuk Dio.


Wajah Dio kelihatan sangat cemas melihat Dinda yang tersenyum lemah dengan wajah pucat.


Tanpa terasa ada butiran yang jatuh dari pelupuk mata coklat Dio. Dia langsung menggenggam tangan Dinda dan mengecupnya.


"Mas, please... aku tidak apa-apa, jangan seperti ini!" ucap Dinda sambil mengusap pipi Dio yang basah.


"Aku takut ..."


"Apa yang Mas Dio takutkan?"


"Entahlah, kamu adalah pelabuhan terakhir dalam hidupku, dan aku sangat ingin kamu terus mendampingi hidupku, sampai tua nanti!" ucap Dio.


"Trimakasih Mas ... trimakasih karena sudah mencintai aku!" bisik Dinda.


Dio kemudian memeluk Dinda dengan erat, seolah dia sangat takut kehilangan wanita yang telah memberikan warna dalam hidupnya itu.


Tok ... Tok ... Tok


Tiba-tiba pintu kamar itu di ketuk dari luar.


Dio lalu melepaskan pelukannya dan beranjak ke arah pintu.


Chika sudah berdiri di depan pintu.


"Chika? Ada apa sayang?" tanya Dio.


"Pa, ayo kita makan sama-sama, aku sudah lapar!" sahut Chika.


"Oh iya, Chika turun duluan ya, nanti Papa sama Mama nyusul!" kata Dio sambil mengelus rambut Chika.

__ADS_1


"Oke, aku tunggu ya!" kata Chika yang langsung berjalan riang menuju ke bawah.


Dio kemudian kembali ke tempat tidurnya, di mana Dinda masih berbaring.


"Mas Dio makan duluan saja, temani Chika, nanti biar Mbak Yuyun yang mengantar makanan buatku ke sini!" kata Dinda.


"Tidak sayang, aku akan menggendong mu turun ke bawah, kita makan sama-sama!" tukas Dio.


"Tapi ...."


Tanpa menunggu lagi, Dio segera mengangkat Dinda dalam gendongannya.


Kemudian Dio segera keluar dari kamar, dan menuruni tangga menuju ke ruang makan.


Dinda hanya bisa melingkarkan tangannya di leher Dio, sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Dio, menghirup aroma masukin suaminya itu, yang membuatnya begitu nyaman.


"Kok Mama di gendong Pa? Kayak bayi saja!" tanya Chika.


"Kan Mama masih sakit, badannya lemas, jadi ya Papa gendong dong!" sahut Dio sambil membantu Dinda duduk di samping Chika.


"Papa Chika terlalu lebay!" kata Dinda.


Mereka kemudian mulai menikmati santap siang bersama.


"Mama makan yang banyak! Biar cepat sembuh!" kata Chika.


Dinda berusaha untuk menghabiskan makanannya, meskipun mulutnya terasa sangat pahit.


Semua makanan enak yang ada di atas meja makan itu semua terasa hambar di mulut Dinda.


****


Hingga hari menjelang malam, Dinda terlihat belum menunjukan tanda-tanda pemulihan.


Dio mondar-mandir di kamar seperti orang bingung, melihat istrinya yang masih terbaring lemah.


"Ayolah Din! Kau benar-benar membuatku gila, aku mengajak mu ke Dokter tapi kamu tidak mau!" sungut Dio.


"Mas ... aku tidak apa-apa, kamu saja yang terlalu khawatir, besok juga aku sembuh!" ujar Dinda.


"Mana bisa aku menunggu besok, pokoknya malam ini, kamu harus menuruti aku, kita ke Dokter sekarang!" tegas Dio.


"Mas ... kita ke Dokternya besok saja ya, ini sudah malam, nanti malah kita kemalaman, apalagi di luar sedang turun hujan!" tukas Dinda.


"Oke, kalau kamu tidak mau, biar aku memanggilkan Dokter ke sini!"

__ADS_1


"Dokter? Dokter siapa yang mau Mas Dio panggil?"


"Dokter Dicky!"


"Apa? Dokter Dicky kan Dokter anak!" sergah Dinda.


"Yah, tapi kan dia juga bisa memeriksa pasien umum, sudahlah sayang, kamu jangan membantah lagi!"


Dio kemudian mulai meraih ponselnya untuk menelepon Dokter Dicky.


"Halo, apa kabar Dio?"


"Dokter, bisakah kau datang ke rumahku sekarang, memeriksa keadaan istriku!" kata Dio.


"Dinda sakit? Sakit apa?" Tanya Dokter Dicky.


"Entahlah, tapi bisakah kau datang sebentar ke sini? Aku tidak bisa melihat istriku berlama-lama sakit!" sahut Dio.


"Baiklah, aku akan datang, kau jangan khawatir!" ujar Dokter Dicky.


"Trimakasih Dokter!" ucap Dio sebelum menutup teleponnya.


Setelah menelepon Dokter Dicky, Dio segera kembali duduk di samping Dinda yang masih terbaring.


"Sebentar lagi Dokter Dicky akan datang!" kata Dio.


"Kamu ini merepotkan orang saja Mas!" sungut Dinda.


"Yang penting kamu cepat sembuh!" sahut Dio.


Sekitar 45 menit kemudian, Dokter Dicky datang dan langsung bergegas menuju ke kamar Dio, di antar oleh Mbak Yuyun.


Dokter Dicky lalu segera memeriksa keadaan Dinda, keningnya berkerut seperti orang yang sedang berpikir.


"Bagaimana Dokter? Sebenarnya istriku ini sakit apa sih?" tanya Dio penasaran.


"Dio, sepertinya besok kalian harus ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut, aku melihat sepertinya ada sesuatu di perut Dinda, tapi aku tidak bisa membuat praduga, sebelum di lakukan tes!" jelas Dokter Dicky.


Wajah Dio terlihat semakin cemas.


"Apakah itu hal yang serius Dokter?" tanya Dio.


"Lebih baik besok kalian ke rumah sakit saja, nanti aku akan hubungi Dokter ahli penyakit dalam, jadi kalian tidak usah mencari lagi!" jawab Dokter Dicky.


Dio hanya terdiam mendengar penjelasan Dokter Dicky. Kemudian dengan perlahan dia menoleh ke arah Dinda yang masih terbaring itu.

__ADS_1


Bersambung...


****


__ADS_2