
Setelah menjenguk Keyla di rumah sakit, di rumah sakit yang sama biodata Dinda kemudian pergi ke dokter kandungan untuk mengontrol kandungan Dinda.
Dio dan Dinda kemudian mulai duduk mengantri di depan poli kandungan.
Sementara Chika ada bersama dengan Bu Lian dan Pak Frans, masih di ruangan Keyla, karena Chika masih ingin berada dekat dengan bayi Kirana.
Chika terlihat sangat antusias sekali dengan kehadiran bayi Kirana, selama ini Chika memang sangat menginginkan seorang adik, sehingga dia bisa bermain bersama-sama seperti impiannya.
"Ibu Dinda!"
Terdengar suara Seorang perawat yang memanggil Dinda, rupanya gilirannya sudah tiba, Dio langsung menuntun Dinda masuk ke dalam poli kandungan itu untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan.
Seperti biasa, Dinda berbaring di ranjang pasien untuk dilihat kondisi bayinya melalui alat USG.
"Kondisi bayinya sehat dan normal, beratnya sesuai dengan usia kandungan, tapi sepertinya panggul Bu Dinda terlalu sempit, mudah-mudahan saja bayi yang keluar tidak melebihi dari 3,5 kg!" kata dokter.
"Lalu apa yang harus saya lakukan Dokter? untuk mencegah bayi ini bertambah besar, kan tidak mungkin saya harus mengurangi nutrisi yang selama ini saya makan!" tanya Dinda.
"Tidak apa-apa, nanti akan tetap dikontrol dan saya akan pantau, hanya Saran saya kurangi makanan yang banyak mengandung garam juga lemak, perbanyak makan buah dan susu, juga jenis makanan yang mengandung asam folat! "jawab sang dokter.
"Baik Dokter!"
Setelah diperiksa kandungan Dinda, sang dokter kemudian mulai menulis resep vitamin untuk Dinda konsumsi, dan setelah itu mereka keluar dari ruangan itu, untuk menebus vitamin di apotek yang ada di rumah sakit itu.
"Mas, aku kepikiran deh dengan perkataan dokter tadi, katanya panggulku sempit, apakah itu berarti Kemungkinan aku untuk melahirkan secara normal sulit?" tanya Dinda.
"Sudahlah sayang, dokter kan tidak bilang sulit, Dokter bilang tetap jaga pola makan dan Usahakan kalau bayinya itu normal berat badannya tidak melebihi 3,5 kg, itu sangat bisa sayang! "jawab Dio.
"Iya, tapi tetap saja aku takut Mas, aku sangat ingin melahirkan secara normal, wanita manapun pasti sangat menginginkan melahirkan normal, tapi kalau memang nasibku harus dioperasi, apa boleh buat!" ucap Dinda sedih.
__ADS_1
"sayang, mau melahirkan normal atau tidak, kamu Tetaplah seorang ibu, sekarang yang penting adalah kesehatan dan keselamatan bayi kita, kamu sudah tidak usah memikirkan Bagaimana cara dan proses melahirkannya!" kata Dio sambil menggenggam hangat tangan Dinda.
Dio menyadari bahwa istrinya itu begitu khawatir dan kepikiran dengan ucapan dokter, yang secara tidak langsung mengatakan kalau kemungkinan Dinda untuk melahirkan secara normal itu kecil, karena masalah panggul yang sempit.
Sebagai seorang suami, Dio hanya bisa berusaha untuk menghibur istrinya itu, sehingga tidak ada lagi kecemasan dan kekhawatiran di atas diri Dinda.
****
Setelah selesai menebus vitamin Dinda, Mereka kemudian mulai kembali ke ruangan Keyla.
Keyla nampak istirahat, dia tertidur karena lelah, begitu juga Ken yang sedang tertidur di sebelah Keyla.
Bu Lilis dan Pak Dirja masih menemani mereka di ruangan itu, Sementara Pak Frans dan Bu Lian sudah nampak keluar untuk bersiap-siap akan pulang, karena hari sudah menjelang siang.
Kemudian mereka pun bersama-sama menuju ke parkiran, untuk naik ke mobil dan pulang ke rumah mereka.
"kok kita cepat-cepat pulang? Aku kan masih mau melihat Dede Kirana! Aku suka melihat Dede bayi, dia lucu dan menggemaskan, sama seperti boneka aku!" kata Chika ketika dalam perjalanan pulang menuju ke rumahnya.
"Beneran Ma? Yaaaeyy!" seru Chika senang.
"Nanti juga Sebentar lagi Chika akan punya adik beneran loh, adik bayi yang ada di dalam perut Mama kan sebentar lagi juga mau lahir!" Kata Dio.
"Tapi kapan lahirnya Pa? Sudah lama aku tunggu-tunggu tapi belum lahir-lahir juga, malah tante Keyla yang lahir duluan!" sahut Chika.
"Ya jelas aja dedek bayinya Tante Keyla lahir duluan Chika, tante Keyla kan Hamil Duluan daripada Mama!" ujar Dinda.
"Sudah-sudah, jangan meributkan sesuatu yang belum lahir, lebih baik siang ini kita mampir yuk ke restoran, Kita kan semua pada lapar nih, sekalian saja sebelum pulang ke rumah kita makan dulu sama-sama di restoran!" ajak Pak Frans tiba-tiba.
"Horeee! Yeaaay! Aku suka makan di restoran!" seru Chika antusias.
__ADS_1
"Wah, boleh juga nih usul Opa Frans, ya sudah kita langsung meluncur ke restoran sekarang ya, kita makan siang di restoran seafood, di restoran ini ikan bakarnya enak sekali!" Kata Dio yang langsung melajukan mobilnya itu menuju ke sebuah restoran yang besar, yang ada di pinggir jalan protokol yang mereka lalui itu.
Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di restoran besar itu, setelah Dio memarkirkan Mobilnya di parkiran depan restoran itu, mereka turun sama-sama dan langsung masuk ke dalam restoran itu, dan duduk melingkar di sebuah meja besar yang sengaja dipesan oleh Dio.
Dan merekapun mulai memilih menu kesukaan mereka masing-masing.
"Dinda, kamu makan ikan yang banyak, terutama ikan laut, karena ikan laut itu mengandung protein tinggi juga DHA yang bagus, supaya bayimu nanti jadi pintar otaknya!" kata Bu Lian.
"Iya Bunda!" sahut Dinda.
"Dan kamu Dio, kurangi makan udang dan cumi, karena itu mengandung kolesterol yang tinggi, kalau makan seperlunya, lebih baik makan ikan, karena ikan tidak mengandung kolesterol tinggi, dan juga lebih menyehatkan, dan lebih baik diimbangi dengan makan sayur yang banyak!" lanjut Bu Lian.
"Iya Bunda!" sahut Dio.
"Ah, Oma cerewet! Mau makan saja pakai ada aturannya segala!" celetuk Chika.
"Hush! Chika tidak boleh ngomong begitu sama Oma!" sergah Dinda.
"Habisnya Oma sih, kita kan semua sudah lapar, eh pakai ceramah segala, kalau orang sudah lapar itu, semua makanan dimakan!" sahut Chika dengan sedikit memonyongkan bibirnya.
Semua yang ada di meja itu kemudian tertawa melihat ucapan polos dari Chika, Chika Kelihatan sekali kalau dia memang sudah lapar, dan ingin cepat-cepat menyantap makanannya.
"Sudah sudah, ini semua makanannya sudah di pesan, langsung saja ya panggil pelayan, kita sudah pada lapar ini!" kata Dio.
Dio kemudian melambaikan tangannya pada seorang pelayan yang berseragam di restoran itu, yang sedang berdiri mematung di sudut restoran.
Dengan sedikit ragu, pelayan restoran itu pun datang menghampiri meja mereka, Dinda dan Dio terperanjat, pada saat melihat pelayan restoran itu, yang sudah sangat familiar bagi mereka.
Bersambung...
__ADS_1
*****