
Dinda mulai mengerjapkan matanya, menggerakkan sedikit jemari tangannya.
Dio tersenyum saat melihat Dinda yang mulai sadar itu.
"Sayang ... Syukurlah kamu mulai sadar!" ucap Dio sambil mengecupi tangan Dinda.
"Mas ... sakit Mas ... perutku sakit!" keluh Dinda lirih.
"Ssst, jangan banyak bergerak dulu, mungkin obat biusnya sudah mulai habis, aku ada di sini sayang!" bisik Dio.
"Mas, haus!"
"Aku tanya Dokter dulu ya, apakah kamu sudah boleh minum!" kata Dio yang mulai beranjak dari ranjang Dinda.
Baru saja Dio berdiri, seorang Dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan itu.
"Selamat sore Dokter, kebetulan sekali, ada yang mau saya tanya, istri saya baru sadar dan dia haus ingin minum, apakah boleh?" tanya Dio.
"Oh, Syukurlah sudah cepat sadar, sebenarnya belum boleh karena batu saja menjalani operasi, tapi tidak apa-apa di berikan setetes demi setetes di mulutnya!" jawab Dokter Aryo.
"Baiklah Dokter, saya akan berikan setetes demi setetes saja!" ujar Dio.
"Pak Dio, bisa ikut ke ruangan saya sebentar? Ada yang mau saya bicarakan dengan Pak Dio!" kata Dokter Aryo.
"Baik Dokter, sayang, sebentar ya!" Dio mengecup kening Dinda sebelum melangkah mengikuti Dokter keluar dari ruangan itu.
Dio kemudian masuk ke dalam ruangan praktek Dokter Aryo. Mereka kemudian duduk dan saling berhadapan.
"Bagaimana Dokter?" tanya Dio.
"Pak Dio, Bu Dinda baru saja menjalani operasi besar, rahimnya masih terdapat luka dan butuh waktu untuk pulih seperti sedia kala, karena itu saya himbau, Pak Dio untuk tidak melakukan hubungan suami istri selama sejangka waktu!" jawab Dokter Aryo.
"Sampai berapa lama Dokter?" tanya Dio.
"Mungkin sekitar satu bulanan, sampai kondisinya benar-benar pulih!" sahut Dokter Aryo.
"Ooh, Baiklah!"
"Saya harap Pak Dio bisa memahami ini, ini demi istri anda juga kok!" ucap Dokter Aryo.
__ADS_1
"Baiklah Dokter, trimakasih atas informasinya!"
"Kalau begitu, Pak Dio bisa kembali ke ruangan istri anda!"
Dio kemudian mulai bangkit dan melangkah keluar dari ruangan Dokter dan kembali ke ruang perawatan Dinda.
"Mas ... haus!"
Dio buru-buru mengambilkan segelas air putih, lalu meneteskan ke mulut Dinda menggunakan sedotan, setetes demi setetes.
"Sayang, masih sakit?"
"Iya Mas!"
"Sabar ya, nanti aku minta perawat agar memberikanmu obat pereda nyeri!" kata Dio.
Setelah memberikan air putih, Dio kemudian mengusap-usap bahu Dinda, untuk mengurangi rasa nyerinya.
Ceklek!
Pintu ruangan itu terbuka, Ken dan Keyla nampak datang dan masuk ke ruangan itu.
Keyla lalu menyodorkan bungkusan buah dan kue ke arah Dio.
"Tidak masalah, kalian sudah datang kami juga sangat senang kok!" sahut Dio.
Hening...
Ada rasa canggung di antara mereka berempat, mereka saling diam, tidak tau memulai pembicaraan dari mana.
"Ehm, bagaimana keadaannya Dinda?" tanya Keyla.
"Seperti yang kalian lihat, Dinda baru sadar dari operasinya, kondisinya masih lemah, belum bisa makan dan minum, masih menunggu beberapa jam lagi!" jelas Dio.
"Tapi kau juga harus memperhatikan kesehatanmu sendiri Dio, ini aku bawakan roti dan buah buat kamu, di makan ya!" kata Keyla.
"Trimakasih!" ucap Dio.
"Eh, sepertinya kami tidak bisa lama-lama, Mbak Key, kita pulang yuk!" ajak Ken tiba-tiba.
__ADS_1
"Kenapa sih? Kau cepat-cepat sekali, baru juga kita sampai!" sungut Keyla.
"Menjenguk orang sakit itu tidak boleh lama-lama, akan mengganggu waktu istirahat pasien!" kata Ken.
"Sok tau!" cetus Keyla.
"Ayolah Mbak Key sayang!" Ken langsung merangkul Keyla untuk keluar dari ruangan itu.
"Jangan sok romantis! Norak tau tidak!" cetus Keyla sambil menepiskan tangan Ken.
Dinda dan Dio hanya bisa saling berpandangan sambil tersenyum melihat mereka berdua.
Setelah Ken dan Keyla berada di luar ruangan, Keyla langsung berjalan cepat meninggalkan Ken. Ken lalu mengejarnya.
"Mbak Key! Jangan marah! Kamu kenapa sih??" tanya Ken sambil mengejar Keyla dari belakang.
"Kamu tuh norak tau! Di depan orang sok sok an romantis! Muak aku!" sungut Keyla.
"Memangnya kita tidak boleh romantis Mbak? Wajar dong, kan kita suami istri!" sahut Ken.
"Ingat Ken, suami istri itu hanya hitam di atas putih, setelah bayi ini lahir, kita bukan siapa-siapa!" cetus Keyla.
"Oke!! Soal nanti itu urusan nanti! Jangan kira aku tidak bisa tegas sama kamu Mbak, mulutmu manis di depan Dio, tapi di depanku??" Ken memegang kedua bahu Keyla sambil menatapnya tajam.
"Kamu kenapa?? Cemburu waktu aku baik dan nawarin Dio makan?? Kamu tidak suka??" tanya Keyla.
"Ya jelas lah! Memangnya aku tidak boleh cemburu, suami mana coba yang senang melihat istrinya manis di depan orang lain tapi ketus terhadap suaminya sendiri!" sengit Ken.
Keyla terdiam, dia tau saat ini statusnya bukan seperti yang dulu, apalagi kini ada bayi dalam kandungannya, mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus menerima kenyataan ini.
Tiba-tiba Ken memeluk Keyla dengan sangat erat.
"Dokter mengatakan, tumbuh kembang bayi dalam kandungan tergantung hubungan Ayah dan Ibunya, please selama bayi belum lahir, buatlah seolah-olah kita bahagia atas kehadirannya!" ucap Ken.
Tanpa sadar Ken meneteskan air matanya.
Selama ini Ken tidak pernah sekalipun menangis, kini hanya karena seorang bayi yang masih belum lahir, dia bisa meneteskan air matanya.
Seketika jiwa kebapakannya langsung muncul.
__ADS_1
Bersambung....
****