Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Masih Menjadi Misteri


__ADS_3

Dinda tertegun pada saat melihat berita tentang penemuan mayat di bantaran kali, yang ternyata itu adalah mayat Ujang.


Dia sama sekali tidak menyangka kalau Ujang akan mengalami nasib yang sangat tragis seperti itu.


Ujang yang dia kenal selama ini, adalah seorang supir yang setia, mengantar kemana saja tanpa ada kasus yang macam-macam, tapi Dinda sama sekali tidak menyangka kalau semuanya akan berakhir seperti ini.


Ujang mati sia-sia di usianya yang masih muda, hanya karena sebuah masalah yang entah masalah apa itu, dan ini juga masih menjadi sebuah misteri yang belum terpecahkan sampai saat ini.


"Ya Tuhan, Kasihan sekali sih Ujang, siapa sih pelaku yang sudah membunuh dia? Kejam amat ya!" kata Mbak Yuyun sambil mengusap air matanya yang mengalir karena melihat Ujang yang sudah tewas dalam berita TV tersebut.


"Benar Mbak, aku sama sekali tidak pernah menyangka, bahwa nasib Ujang akan se tragis itu, benar-benar biadab orang yang melakukannya! Semoga saja pelakunya cepat tertangkap dan kita bisa mengetahui modus kejahatan mereka!" ucap Dinda.


"Kalau begitu, saya hubungi keluarganya saja ya Bu, Saya kenal keluarganya! Kasihan dia Bu!" kata Mbak Yuyun.


"Iya mbak, cepat hubungi keluarganya saja! aku juga ingin mengunjungi keluarganya untuk memberikan santunan pada mereka, Walau Bagaimana Ujang itu kan sopir kita!" ujar Dinda.


Mbak Yuyun kemudian Mulai mengambil ponselnya yang terlihat jadul itu, kemudian dia mulai menghubungi keluarga Ujang, supaya jenazah Ujang yang bisa segera cepat ditangani.


****


Sementara Ken sudah sadar dari kondisinya, dan untungnya dia tidak menjadi lupa ingatan, atau mengalami cedera yang cukup serius.


Dia masih mengingat dengan baik orang-orang di sekelilingnya, walaupun di bagian kepalanya masih terasa nyeri dan sakit.


Setelah memastikan keadaan Ken baik-baik saja, dia kemudian berjalan keluar dari rumah sakit ke arah mobil yang terparkir di tempat parkir.


Dio ingin pergi ke kantor polisi, menemui dua orang penjahat yang sudah ditangkap itu.


Drrrt ... Drrt ... Drrrt


Tiba-tiba ponsel Dio bergetar, Dio buru-buru merogoh saku celananya, untuk mengambil ponselnya itu, ada panggilan dari kepolisian, dengan cepat dia mengusap layar ponselnya itu.

__ADS_1


"Halo!"


"Selamat siang Pak Dio, kami hanya ingin menginformqsikan, bahw dua orang penjahat yang kami tangkap kini tewas keracunan, kami masih menyelidiki kasus ini!" kata seorang polisi.


"Apa?? Keracunan? Kok bisa, padahal itu ada di kantor polisi lho, kenapa bisa kebobolan begitu? Apa saja kerja polisi?" tanya Dio beruntun.


"Mohon maaf Pak Dio, kejadiannya itu ketika jam kunjungan di Lapas, mungkin adalah salah seorang pengunjung yang memberikan makanan kepada mereka, sehingga pada saat mereka menyantap makanannya itu, mereka keracunan dan tak lama kemudian mereka tewas di dalam penjara!" jawab sang polisi itu.


"Lalu bagaimana lagi cara menyelidiki kasus keluarga saya ini pak? Sementara saksi kuncinya saja sudah tewas!" tanya Dio sedikit frustasi.


"Pak Dio tenang saja, kami sedang mengerahkan kan anggota kami untuk menangkap pelaku yang sempat kabur, dan juga menyelidiki kasus ini, semoga secepatnya akan mendapat titik terang!" jawab polisi tersebut.


"Baik, saya tunggu kabar baik selanjutnya! Semoga kinerja polisi bisa lebih cepat dari perkiraan!" ujar Dio sambil menutup panggilan teleponnya.


Dio kemudian masuk ke dalam mobilnya, Dia mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantor polisi, karena Percuma saja dia pergi ke kantor polisi, sedangkan penjahat yang ingin dia tanya itu sudah keburu tewas keracunan. Akhirnya Dio memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya.


Sementara itu di rumahnya, Dinda nampak sibuk membantu Mbak Yuyun menyiapkan masakan untuk makan malam nanti, ditemani oleh Bu Lilis ibunya.


Kring ... Kring... Kring


Tiba-tiba terdengar suara telepon berdering, Mbak Yuyun dengan sigap langsung bergegas ke meja telepon, untuk mengangkat telepon itu.


Dan beberapa menit kemudian dia segera kembali ke dapur.


"Bu Lilis, Ada telepon dari Pak Dirja!" kata Mbak Yuyun.


Bu Lilis menganggukan kepalanya, setelah itu dia segera berjalan menuju ke meja telepon, ada telepon yang menunggunya. Kemudian Bu Lilis langsung mengangkat telepon itu.


"Halo!"


"Lis, aku masih di rumah sakit menunggui Keyla, Ken baru sadar dan kini dia masih dalam perawatan, maaf kalau aku belum sempat untuk datang menjengukmu!" kata Pak Dirja.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Pak, mereka lebih prioritas, lagi pula tunggu sampai semuanya pulih, saya tidak apa-apa kok!" sahut Bu Lilis.


"Maaf ya Lis, pernikahan Kita terpaksa ditunda dulu karena Kejadian ini! Mudah-mudahan kita masih diberikan kesempatan untuk bersatu!" ucap pak Dirja.


"Iya Pak, Lebih baik kita tidak usah membicarakan hal ini dulu, saat ini anak-anak kita sedang dalam masalah, mereka adalah prioritas yang utama!" kata Bu Lilis.


"Iya Lis, semoga badai ini cepat berlalu, sehingga kita masih ada kesempatan untuk meraih mimpi-mimpi kita yang pernah hilang dulu!" ucap pak Dirja.


"Iya Pak, ya sudah kalau begitu, saya masih mau menemani Dinda dan Chika, jaga kesehatanmu baik-baik Pak, kita sudah tua, harus baik-baik menjaga kesehatan!" kata Bu Lilis sambil menutup teleponnya.


Setelah selesai menerima telepon dari Pak Dirja, Bu Lilis kemudian kembali berjalan ke dapur, namun semua masakan yang telah diracik nya sudah dimasak oleh Mbak Yuyun dan Dinda.


Setelah itu mereka mulai menata semua makanan itu di atas meja makan.


Dari arah gerbang depan, terdengar suara mobil Dio yang memasuki garasi rumahnya itu, buru-buru Dinda berjalan ke arah depan, untuk menyambut kedatangan suaminya itu.


"Papa sudah pulang? Bagaimana, apakah tadi jadi ke kantor polisi? apakah Mas Dio sudah bertemu dengan penjahat itu?" tanya Dinda.


"Tidak jadi Din, kamu tahu tidak, dua orang penjahat yang berhasil ditangkap itu tewas keracunan di dalam penjara! Ada seseorang yang dengan sengaja meracuni mereka!" jawab Dio.


"Ya Tuhan, Kenapa bisa sampai terjadi seperti itu sih Mas? Kalau begini, kita jadi tidak tahu siapa dalang dibalik semuanya ini!" ucap Dinda.


"kamu tenang saja sayang, kita percayakan saja semuanya pada pihak kepolisian! Mereka juga sedang menyelidiki kasus ini!" Kata Dio sambil mengusap rambut Dinda berusaha untuk menenangkan wanita itu.


"Ya sudah kalau begitu Mas Dio bersihkan dulu tubuhnya, Setelah itu kita makan malam, lalu kita pergi ke rumah keluarganya Ujang ya Mas, karena Ujang juga tewas di bantaran kali, dan kini jenazahnya sudah diambil oleh pihak keluarganya di rumah!" ucap Dinda.


Wajah Dio terlihat semakin frustrasi, setelah mendengar berita yang disampaikan oleh Dinda istrinya itu.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2