
Di Papua, Dio menyewa sebuah mobil untuk digunakan mengunjungi orang tua dan keluarga almarhumah Ranti, istrinya nya.
Dulu pada saat Ranti sakit dan dirawat di rumah sakit di Papua, Dio tidak sempat untuk mengunjungi orang tua dan keluarga dari pihak mendiang istrinya itu.
Apalagi dia terus menerus menjaga Ranti di rumah sakit, ditambah lagi dia juga harus menjaga Chika satu-satunya anaknya yang masih butuh perhatiannya saat itu.
Dio terus melajukan mobilnya itu sesuai dengan map yang ada di aplikasi ponselnya itu, dia terus mengikuti kemana arah sesuai dengan alamat yang dituju.
"Papa aku mah apa kita masih lama sampai di rumah Oma?" tanya Chika.
"Entahlah sayang, menurut peta jarak yang ditempuh sekitar satu setengah jam perjalanan, tapi kenapa dari tadi kita hanya berputar-putar di sini saja? papa jadi bingung deh!" jawab Dio.
"Kenapa Papa tidak bertanya pada orang? kata ibu guru, Malu bertanya sesat di jalan, kalau tidak tahu alamat lebih baik tanya saja sama orang yang tahu!" usul Chika.
"Papa mau bertanya pada siapa Chika? Sedangkan kamu lihat sendiri sejak tadi kita hanya melewati, Padang belantara tanpa ada orang satupun yang bisa ditanyain!" sahut Dio.
Chika mengedarkan pandangannya, di sekeliling memang nampak Padang belantara yang luas yang mereka lalui, tidak ada satu orang pun yang bisa mereka tanyain saat itu.
Cuaca terasa begitu panas karena hari sudah menjelang siang. Dio terus melajukan mobilnya untuk mencari daerah pemukiman, di mana dia bisa mengajak Chika untuk makan siang, karena perut mereka sudah terasa lapar.
Sekitar 30 menit kemudian mereka sampai di daerah yang agak lebih ramai dari sebelumnya ada beberapa rumah penduduk.
Dio kemudian melipir ke sebuah rumah makan yang paling dekat yang dia jumpai, karena dia sudah tidak bisa mencari lagi, rasa lapar sudah menyerang mereka, karena perjalanan yang terasa begitu panjang dan melelahkan.
Mereka kemudian duduk di sebuah rumah makan yang terbilang lumayan besar itu, menyajikan berbagai macam makanan.
Setelah dia memesan makanan untuk dirinya dan Chika, Dio kemudian mulai mengambil ponselnya, berniat akan menelepon Dinda, Karena di Padang belantara tadi tidak ada sinyal yang bisa untuk menelepon.
Dio tersenyum senang saat panggilan vodeonya tersambung ke ponsel Dinda.
"Halo Papa Dio, Chika!" Dinda nampak melambaikan tangannya.
"Sayang, maafkan aku baru menghubungimu, tadi sangat susah sekali sinyal, sekarang baru dapat sinyal!" kata Dio.
"Tidak apa Mas, yang penting aku tenang, sekarang bisa bicara dengan kalian, kalian belum sampai ya, jauh ternyata ya!" tanya Dinda.
"Iya Ma, masa tadi kita lewat Padang yang tidak ada orangnya, serem deh Ma, untung siang-siang!" celetuk Chika.
"Oya, waah seru dong!" sahut Dinda.
__ADS_1
"Banget!"
"Mama Dinda sudah makan belum? Kami sedang makan sate kelinci nih, Chika suka sekali sate kelinci!" kata Dio.
"Aku baru selesai makan, tadi di antar ke kamar hotel!" jawab Dinda.
"Bagus sayang, lebih baik kamu makan dj kamar saja, jangan keluar kamar!" ujar Dio.
"Oke Mas, kalian teruskan makannya, nanti kabarin aku jikalau sudah sampai!" ucap Dinda.
"Baiklah sayang, jaga dirimu dan calon bayi kita!"
"Daaah Mama!" seru Chika sambil melambaikan tangannya.
Setelah itu panggilan video pun di matikan.
Setelah selesai makan siang, Dio hendak melanjutkan perjalanannya, namun sebelum itu dia terlebih dahulu bertanya pada orang sekitar mengenai alamat yang akan di tujunya.
Menurut orang yang Dio tanya, hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke alamat tersebut, Dio pun menarik nafas lega.
****
"Bi Titi!" panggil Keyla.
Bi Titi yang sedang menyetrika baju nampak datang mendekati Keyla.
"Ada apa Mbak Keyla?" tanya Bi Titi.
"Bi, sibuk tidak? Antarkan aku ke minimarket yuk, beli susu hamil, sekalian aku mau belanja, refreshing!" ajak Keyla.
"Yah Mbak, tapi gosokan Bibi lagi numpuk nih, gimana ya, Bapak pesan semua kemeja nya di gosok!" sahut Bi Titi.
Keyla menarik nafas kecewa, padahal dia sangat ingin sekedar refreshing sebentar ke luar rumah.
"Biar Ibu yang menemani kamu Keyla!" kata Bu Lilis yang tiba-tiba datang menghampiri mereka itu.
Keyla sedikit terkejut dengan tawaran Ibu tirinya itu.
Sebenarnya dia agak sedikit canggung dengan Bu Lilis, hubungan mereka juga tidak terlalu dekat dan akrab.
__ADS_1
Selama ini Keyla baik-baik saja demi menjaga perasaan Ayahnya yang sangat dia cintai itu.
"Lho, kok malah bengong?" tanya Bu Lilis membuyarkan lamunan Keyla.
"Eh, i-iya Bu, Ibu mau pergi denganku??" tanya Keyla balik sedikit gugup.
"Kalau kamu butuh teman, itu juga kalau kamu tidak keberatan!" sahut Bu Lilis.
"Tidak Bu, ayo kita jalan sekarang!" ajak Keyla akhirnya.
Mereka kemudian berjalan ke arah garasi, Keyla mengendarai mobilnya sementara Bu Lilis duduk di sampingnya.
Mereka menuju ke sebuah minimarket yang lumayan besar yang tidak telah jauh dari rumah.
"Ibu apakah ada yang mau di beli? Katakan saja biar sekalian!" tawar Keyla sambil memasukan beberapa dus susu ibu hamil ke dalam troly belanjaan.
"Ah tidak Key, Ibu hanya ingin menanimu saja!" jawab Bu Lilis.
"Jangan sungkan Bu, kalau ada yang Ibu mau beli, katakan saja, sesekali aku yang akan membayarnya!" ujar keyla.
"Tidak nak, ibu tidak ada sesuatu yang dibutuhkan, semua sudah terpenuhi oleh ayahmu! Ibu hanya ingin menemanimu saja, lagi pula kan kamu sedang hamil Jadi wajar dong kalau ibu menemanimu saat suamimu tidak berada di sampingmu!" ucap Bu Lilis.
Keyla tersenyum kemudian dia mulai membayar semua belanjaannya.
Setelah selesai Keyla mengajak Bu Lilis untuk makan di sebuah Cafe, yang terletak tepat di depan minimarket itu, sebuah cafe yang lumayan besar dan menu makanannya juga komplit.
"Sekarang ibu Pilihlah menu makanan apa yang Ibu inginkan, di cafe ini semua makanannya enak-enak, kebetulan cafe ini juga banyak sekali pelanggan, karena memang rasanya beda dengan yang lain!" kata Keyla.
Bu Lilis kemudian mulai memilih menu makanan untuk makan siang nya. Setelah itu mereka nampak menikmati makan bersama di cafe itu.
Tiba-tiba mata Keyla menangkap seseorang yang ada di sudut cafe dekat pintu keluar, Dia melihat Ken suaminya, nampak baru masuk ke dalam cafe itu bersama dengan seorang wanita.
Keyla langsung lemas seketika, tulang-tulangnya serasa runtuh tak bertenaga, matanya berubah menjadi panas.
"Keyla, ada apa denganmu?" tanya Bu Lilis cemas saat melihat perubahan dalam wajah Keyla.
Bersambung ...
*****
__ADS_1