Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Di Pernikahan Keyla


__ADS_3

Dinda mematut diri di depan cermin, hari ini adalah hari pernikahan Keyla, Kakaknya.


Sudah sejak pagi Dinda sudah bersiap dengan gaun terbaiknya, walau bagaimana, Pak Dirja dan Keyla itu adalah keluarganya sekarang.


Dio yang baru saja bangun dari tidurnya, nampak mengerjapkan matanya, dia sedikit memicingkan matanya dan melihat ke arah Dinda yang masih berdiri di depan cermin di dalam kamarnya itu.


Dinda sengaja tidak membangunkan Dio, karena Dinda tahu semalam itu dia sangat lelah, setelah bertempur di atas tempat tidur, apalagi tadi malam Dio cukup mengeluarkan tenaga besar, karena dia main sebanyak 3 ronde.


Sebagai seorang istri, Dinda memahami kebutuhan biologis suaminya itu, apalagi selama ini Dio sudah lama menduda, pastinya dia tidak ada lawan untuk menyalurkan hasrat kejantanannya itu.


Maka dari itu, Dinda selalu membiarkan saja Dio melampiaskan keinginannya itu terhadapnya, sekalipun Dinda tidak pernah menolaknya meskipun dalam keadaan lelah sekalipun.


"Sayang, kamu sudah bangun? kamu bahkan sudah sangat rapi dan siap, Kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Dio, sambil beranjak bangun dan duduk di atas tempat tidurnya itu.


"Mas Dio tidur begitu nyenyak, Mana mungkin aku tega membangunkanmu! Kalau sudah bangun, lekaslah mandi dan berganti pakaian, nanti kita akan terlambat datang ke rumah Ayah Dirja!" sahut Dinda.


Dia kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan mulai menyambar handuk nya, kemudian dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri yang semalam itu tidak sempat dilakukan.


Setelah selesai mandi dan berpakaian couple dengan Dinda, mereka kemudian turun di bawah untuk sarapan di ruang makan.


Chika juga nampak sudah rapi dengan pakaian gaun anak-anak, wajahnya terlihat begitu cantik dan manis dengan rambut yang diberi bando dengan warna Senada dengan pakaiannya.


"Chika sudah siap rupanya, hari ini kamu cantik sekali!" ucap Dinda sambil mengelus pipi jika.


"Anaknya Papa Dio! " sahut Dio sambil menepuk dadanya bangga.


Tring ... Tring


Ponsel Dio berbunyi, Pak Frans menelepon dari Singapura.


Dengan cepat Dio lalu mengusap layar ponselnya itu.


"Halo Ayah!"


"Dio, Ayah dengar Keyla anaknya pak Dirja akan menikah hari ini, tolong sampaikan pada mertuamu itu Dio, Ayah tidak bisa datang, karena Ayah mencoba menghubungi ponsel Pak Dirja, namun tidak aktif!" kata Pak Frans.


"Baik Ayah, nanti akan aku sampaikan!" sahut Dio.


"Katakan kalau ayah minta maaf, karena kami juga tidak bisa meninggalkan pekerjaan di sini!" lanjut Pak Frans.


"Iya Ayah!"


"Trimakasih Nak!" ucap Pak Frans sebelum menutup panggilannya.


Dio kemudian kembali melanjutkan sarapan paginya.

__ADS_1


Setelah mereka selesai sarapan pagi, mereka kemudian bersiap untuk berangkat ke rumah Pak Dirja.


Dio kemudian mulai mengendarai mobilnya menuju rumah Pak Dirja, Chika nampak ceria, karena dia sangat suka pergi ke pesta.


"Mas Dio ..."


"Ya sayang?"


"Aku takut Mas, apa yang aku alami dulu, terjadi pada Mbak Keyla!" ujar Dinda.


"Apa maksudmu?" tanya Dio.


"Aku takut, Ken akan meninggalkan Mbak Keyla di hari pernikahannya!" jawab Dinda.


"Tidak mungkin!" cetus Dio.


"Kenapa Mas Dio begitu yakin?" tanya Dinda.


"Bukankah katanya Keyla sudah terlanjur hamil, sebagai seorang laki-laki, pasti ada rasa tanggung jawab, apalagi dia sudah berbuat kesalahan!" jelas Dio.


"Mudah-mudahan Mas, aku juga berharap begitu!" sahut Dinda.


"Mama, katanya kalau sudah menikah, akan bisa punya anak, Papa dan Mama kapan punya anak lagi? Kan aku mau punya adik!" celetuk Chika tiba-tiba.


"Eh, kok Chika tanya itu, itu kan terserah Tuhan kapan kasihnya, Chika sabar saja ya!" kata Dio.


"Iya deh aku sabar, tapi jangan lama-lama ya, teman-temanku pada punya adik, Alex juga punya dua adik, aku kan pengen!" sahut Chika.


"Iya iya!" ucap Dio.


Dinda hanya diam saja, tanpa menanggapi perkataan Chika, Dio terlihat berusaha untuk mengalihkan sebesar mungkin pembicaraan, Dio sangat paham apa yang saat ini istrinya rasakan.


****


Di rumah Pak Dirja, tidak banyak tamu undangan yang berdatangan.


Pak Dirja memang tidak banyak mengundang kerabat atau koleganya, hanya orang-orang penting saja yang dia undang.


Semua itu atas permintaan Keyla, Keyla sangat malu dan tidak ingin orang banyak tau mengenai pernikahannya itu.


Di saat orang sangat ingin memamerkan pernikahan sakral yang terjadi hanya sekali seumur hidup, tapi tidak untuk Keyla.


Bagi Keyla, ini adalah pernikahan terburuknya. Ken sama sekali buka laki-laki idaman Keyla selama ini, baginya, menikah dengan Ken adalah suatu mimpi buruk.


Sepasang pengantin nampak duduk di singgasana pelaminan yang terlihat begitu indah, namun raut wajah sang pengantin nampak mendung.

__ADS_1


Dinda hanya bisa menatap Keyla dan Ken dari kejauhan, takut kalau mendekat Keyla akan marah.


Sementara Chika nampak asyik bermain dengan beberapa teman yang di kenalnya, di antaranya adalah anak-anak Dokter Dicky, yang juga hadir di acara pernikahan itu.


"Sayang, kita makan saja yuk, aku sudah lapar!" kata Dio sedikit mengejutkan Dinda.


Dinda menganggukan kepalanya lalu mereka mulai mengambil makanan yang telah di sediakan prasmanan khusus keluarga di halaman rumah yang luas itu.


"Dinda!" Tiba-tiba ada suara yang memanggil Dinda.


Dinda lalu menoleh ke arah sumber suara yang tak lain adalah Fitri, istri dari Dokter Dicky.


"Wah, apa kabar Mbak Fitri, lama juga tidak bertemu!" kata Dinda.


"Iya nih, kangen juga sama kamu, O iya Din, aku mau bicara sesuatu sama kamu!" ujar Fitri.


"Bicara? Kapan?" tanya Dinda.


"Sekarang lah, ikut aku yuk, Dio, pinjam istrimu sebentar ya!" jawab Fitri sambil mengedipkan sebelah matanya pada Dio.


Dio menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


Fitri kemudian menggandeng Dinda masuk ke ruangan tamu rumah Pak Dirja, mereka kemudian duduk saling berhadapan.


"Ada apa Mbak Fit? Kok kelihatannya penting sekali, aku jadi deg degan nih!" tanya Dinda penasaran.


"Din, kamu belum isi kan?" tanya Fitri.


"Belum Mbak!" sahut Dinda tersipu.


"Ah, kebetulan, aku hanya ingin memberikan ini buat kamu!" kata Fitri sambil mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam tasnya.


"Apa ini Mbak?" tanya Dinda.


"Ini ramuan jamu dari Ibuku, katanya ramuan ini sangat ampuh untuk menyuburkan kandungan, kamu berikan juga pada Dio, dan kamu sendiri, rutin di minum satu kali sehari setiap malam!" jawab Fitri.


"Ah Mbak Fitri, aku jadi malu, aku malah tidak terpilih untuk meminum apapun!" ucap Dinda.


"Sebagai perempuan, aku tau bagaimana rasanya setelah kita menikah, menunggu kehamilan adalah hal yang mendebarkan, dulu aku juga pernah ada di posisimu, kamu cobalah saran dariku ini!" kata Fitri.


"Trimakasih Mbak!" ucap Dinda dengan wajah berbinar.


Bersambung...


*****

__ADS_1


__ADS_2