Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Berkunjung Ke Rumah Keyla


__ADS_3

Siang itu sepulang Chika dari sekolah Dio dan Dinda mengajak Chika untuk berkunjung kerumah Keyla, sekalian menjenguk keadaan Ken.


Bu Lilis diajak ikut ke rumah Keyla, niat Dio adalah untuk mempererat tali kekeluargaan.


Walau bagaimana, Dinda dan Keyla itu bersaudara, mereka masih satu ayah, dan Pak Dirja itu adalah mertua Dio.


Meskipun di masa lampau Dio sempat membenci Ken, karena Dulu Ken pernah mengganggu Dinda, namun sekarang perasaan benci itu sudah mulai memudar, apalagi mereka sekarang adalah satu keluarga besar, dan mereka sudah memiliki pasangannya masing-masing.


Pak Dirja menyambut gembira kedatangan Dio sekeluarga, apa lagi Bu Lilis juga ikut serta datang ke rumahnya itu. Mereka kemudian duduk mengobrol di ruang keluarga yang luas itu.


"Bagaimana keadaan Ken ayah? Dia sudah semakin pulih kan keadaannya?" tanya Dio.


"Ya begitulah Dio, keadaan Ken semakin membaik, dan selama ini Keyla juga telah merawatnya, mereka masih di kamar, mungkin sebentar lagi mereka akan turun!" jawab Pak Dirja.


"Oh ya Ayah, Bagaimana dengan rencana Ayah yang ingin menikahi Ibu Lilis? Sepertinya niat Ayah boleh Segera dilaksanakan! Lebih cepat lebih baik ayah!" usul Dio.


"Kalau Ayah sih sangat tidak keberatan untuk menikahi ibu, tapi kita semua tahu, bahwa belum lama ini, kita mengalami kejadian yang luar biasa, Chika diculik, dan Ken juga menjadi korban penjahat itu!" ungkap Pak Dirja.


"Benar Ayah, tapi itu bukan berarti, niat Ayah untuk menikahi ibu batal, lagipula sekarang sepertinya situasi sudah aman, meskipun masih menjadi teka-teki siapa otak yang telah merencanakan kejahatan itu!" kata Dinda.


"Dinda benar ayah, bahkan sekarang lebih cepat lebih baik, sebagai anak-anak, kami hanya bisa mendukung niat baik ayah dan ibu saja!" Timpal Dio.


Pak Dirja tersenyum senang melihat anak-anaknya yang mendukungnya untuk mencapai kebahagiaan nya, yang selama ini dinantikan nya.


Sementara Bu Lilis, sejak tadi hanya diam saja menunduk tersipu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, namun terlihat dari pancaran wajahnya, kalau dia juga senang karena anak-anaknya mendukung kebahagiaannya.


Tak lama kemudian, nampaklah Keyla dan Ken turun dari tangga, dan berjalan perlahan mendekati mereka yang sedang duduk di ruang keluarga itu, kemudian mereka pun segera duduk bergabung dengan mereka.


Meskipun berjalan dengan pelan-pelan, namun wajah Ken sudah nampak lebih segar dari sebelumnya, apalagi dia sempat mengalami koma selama beberapa waktu lamanya.

__ADS_1


Bi Titi membawakan beberapa gelas minuman dingin, juga beberapa piring makanan ringan, lalu dia menyajikannya di atas meja ruang keluarga itu.


Mereka mengobrol sambil makan dan minum yang sudah disediakan oleh Bi Titi.


"Keyla, tadi kami habis membicarakan soal rencana Ayah yang akan menikahi ibu, karena rencana mereka sempat tertunda gara-gara kejadian itu, Bagaimana menurutmu?" tanya Dinda.


"Aku sih terserah Ayah saja! Asal ayah senang, apapun yang dia mau lakukan pasti aku dukung!" sahut Keyla sambil mengelus perutnya yang kini mulai terlihat membukit.


Dinda yang melihatnya hanya dapat menggigit bibirnya, entah sampai kapan dia menanti buah hati yang tak kunjung datang padanya.


Menurut pemeriksaan dokter, kesehatan perut Dinda sudah mulai membaik, sudah tidak ada lagi komplikasi yang berarti, dan itu berarti Dinda sudah normal.


Namun Dinda masih belum mengalami gejala-gejala kehamilan, yang selalu di nanti nya siang dan malam.


Dio yang menyadari itu, kemudian perlahan mulai menggenggam hangat tangan Dinda, seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja.


****


Setelah Dio memarkirkan mobilnya Di pelataran rumahnya yang luas itu, suster Anna pengasuh Chika, nampak berjalan dan menuntun Chika untuk membantunya membersihkan diri.


Semua pekerjaan yang harus dilakukan suster Anna sudah diberitahukan oleh Dinda, dan sepertinya suster Anna cepat sekali Menangkap apa yang dia pelajari, suster Anna nampak begitu cerdas, tidak seperti pengasuh pengasuh pada umumnya.


"Suster, setelah ini siapkan air hangat untuk Chika, kemudian bantu dia untuk mandi dan mengganti pakaiannya, setelah itu minta tolong balurkan tubuhnya dengan minyak kayu putih supaya hangat, Kemudian temani dia mengerjakan tugas sekolahnya, kalau ada kesulitan langsung panggil aku ya!" kata Dinda.


"Baik bu Dinda, air hangat sudah saya siapkan sejak tadi, Setelah itu saya akan mengerjakan sesuai dengan apa yang menjadi tugas saya!" jawab suster Anna.


"Bagus, setelah semuanya selesai, kamu boleh membantu pekerjaan Mbak Yuyun, Aku mau naik ke atas dulu!" kata Dinda yang kemudian segera berlalu naik ke atas menuju ke kamarnya.


Sejak kehadiran suster Anna, Dinda merasa sedikit lebih tenang, sudah ada yang menjaga Chika selain Mbak Yuyun di rumah ini, paling tidak ada orang yang mengawasi anaknya itu.

__ADS_1


Di kamarnya, Dio nampak duduk menghadap meja kerjanya dengan laptop yang menyala di hadapannya.


Keningnya berkerut seperti sedang berpikir keras, Dinda mengamati suaminya itu, ada ekspresi yang berubah dari biasanya, entah itu apa, perlahan Dinda kemudian mulai melangkah mendekati suaminya itu.


"Mas Dio, wajahnya tegang sekali, Ada apa mas?" tanya Dinda hati-hati.


"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit heran kenapa semua laporan perusahaan ku ini berbeda jumlahnya dengan kenyataan? Dan ini ada beberapa saham yang anjlok, juga beberapa laporan fiktif!" jawab Dio dengan mata yang masih menatap lurus ke depan.


"Mas Dio, sepertinya kamu harus memperhatikan perusahaanmu deh, belakangan ini pikiranmu banyak bercabang, banyak hal yang kamu pikirkan termasuk masalah penculikan Chika itu!" ucap Dinda.


"Iya Din, makanya belakangan ini aku sering mengontrol kantorku, banyak hal-hal yang terabaikan yang tidak sempat aku perhatikan, dan saat ini Kepalaku benar-benar pusing!" sahut Dio yang kemudian terlihat menjambak rambutnya frustasi.


"Sabar Mas!"


Dinda yang masih berdiri kemudian memeluk kepala suaminya itu, dan membenamkannya di dadanya.


Mendekapnya dengan erat, seolah ingin memberikan kelegaan dan kehangatan pada suaminya itu.


"Trimakasih sayang!" bisik Dio lirih.


"Tunggu di sini sebentar ya, aku mau buatkan minuman hangat untukmu!" kata Dinda.


Dio menganggukan kepalanya, setelah itu Dinda menguraikan pelukannya, dan melangkah menuju ke pintu kamarnya, lalu dia keluar dari kamarnya itu, menuju ke dapur hendak membuatkan minuman hangat untuk suaminya itu.


Di dapur, Mbak Yuyun dan suster Anna nampak sedang mengobrol, mereka kelihatan akrab, padahal belum lama saling mengenal.


"Bu Dinda mau di buatkan apa?" tanya Mbak Yuyun.


"Tidak Mbak, aku buat sendiri, buat bapak, susu hangat!" jawab Dinda yang langsung mengambil gelas dan susu, lalu mulai membuatkan minuman hangat untuk suaminya itu.

__ADS_1


Bersambung ....


*****


__ADS_2