Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Mulai Curiga


__ADS_3

Setelah selesai urusan di sekolah, Dio kemudian kembali mengantarkan Dinda pulang ke rumahnya, sementara Dio langsung melanjutkan perjalanannya ke kantornya.


Dinda sudah benar-benar resign dari sekolah, kini dia bukan lagi guru disekolah itu.


Sebenarnya hatinya berat untuk meninggalkan profesinya, tapi dia harus mengorbankan salah satu, demi keutuhan keluarga kecilnya, apalagi saat ini dia sedang mengandung anak Dio suaminya.


Dinda tertegun saat melihat Pak Dirja dan Bu Lilis sedang berjalan mengelilingi taman rumahnya itu.


Tidak biasanya Ayah dan Ibunya itu berjalan seperti orang mengendap-endap, seperti sedang memperhatikan dan menyelidiki sesuatu.


Dinda kemudian berjalan menghampiri kedua orang tuanya itu, yang kini sedang berada di taman belakang rumah dia yang luas itu.


"Bapak ibu, sedang apa di sini?" tanya Dinda.


Pak Dirja dan Bu Lilis nampak terkejut dengan kehadiran Dinda, yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka itu.


"Eh Dinda, kamu sudah pulang nak? bapak dan ibu mau berolahraga pagi saja, supaya badan kita sehat, walaupun umur sudah tua, tapi kan harus tetap fit!" jawab Pak Dirja beralasan.


"Iya Din, kita kan waktunya banyak di sini, daripada bengong bengong, ya kita lihat lihat kebun saja, siapa tahu kita nanti bisa bercocok tanam di sini, iya kan Mas?" timpal Bu Lilis sambil menoleh kearah Pak Dirja, dan Pak Dirja pun menganggukkan kepalanya.


"Oh begitu, ya sudah kalian lanjutkan saja, aku mau kembali ke kamar dulu!" kata Dinda akhirnya. Pak Dirja dan Bu Lilis menganggukkan kepalanya.


Kemudian Dinda pun segera berlalu dari tempat itu, dan dia kembali naik ke atas menuju ke kamarnya.


Dinda hendak sejenak membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya Itu, tadi sejak di sekolah, kepalanya sedikit pusing mungkin karena efek kehamilan yang masih terbilang muda itu.


Entah kenapa tiba-tiba Dinda sangat ingin sekali menelepon Dio.


Padahal dia sudah bersamanya sejak pagi tadi, dan dia juga baru kembali berangkat ke kantornya, tapi entah kenapa tiba-tiba ada rasa rindu yang sangat dalam yang Dinda rasakan, dia tiba-tiba seperti merasa begitu rindu pada suaminya itu.


Dinda kemudian mengambil ponselnya, berniat akan menelepon Dio, untuk mengobati rasa Rindunya yang tiba-tiba datang itu.


Hari baru beranjak menuju siang, namun matahari sudah terlihat meredup, awan gelap menggantung di langit, menghalangi cahaya matahari, hari ini cuaca terlihat begitu mendung, hanya semilir angin yang berhembus melalui jendela balkon kamar itu.


"Halo ..."

__ADS_1


"Halo Mas, kamu sudah sampai kantor belum?" tanya Dinda.


"Aku masih di jalan Sayang, ada apa?" tanya Dio balik.


"Mas, Kok aneh ya, tiba-tiba aku ingin sekali meneleponmu, padahal kan tadi pagi kita baru bersama ya, Aneh deh!" jawab Dinda sedikit tersipu.


Terdengar suara gelak tawa Dio di seberang telepon itu, membuat Dinda semakin keki dan salah tingkah.


"Dinda Dinda, aku tahu bawaan orang hamil memang seperti itu, dia jadi berubah manja pada suaminya! Aku maklum kok sayang, kamu pasti kangen kan sama aku, tidak apa-apa aku paham kok!" ucap Dio.


"Mas, nanti pulangnya jangan lama-lama ya, aku ingin sekali makan rujak buah, mungkin rasanya enak kali ya, aku sudah membayangkan itu pasti enak, tolong nanti belikan ya mas pulangnya!" kata Dinda.


"Siap sayang, aku pasti akan bawakan untukmu, sekarang kamu minum susu hamil, dan makan makanan yang sehat, supaya bayi kita juga sehat, jangan melakukan pekerjaan-pekerjaan berat, ingat, di rumah sudah ada Mbak Yuyun dan suster Anna yang membantu semua pekerjaanmu!" ucap Dio.


"Iya Mas, Mas Dio hati-hati ya, pokoknya nanti aku tunggu Mas Dio pulang!" kata Dinda sambil menutup panggilan teleponnya.


Setelah selesai menelepon suaminya itu, Dinda menghela nafas panjang, rasa rindunya kini telah tersalurkan, dan sekarang dia menjadi sangat lega.


Dinda kemudian kembali membaringkan tubuhnya, sambil memeluk gulingnya, semilir angin dari arah balkon jendela kamarnya, membuat hawa mengantuk, yang menyergap dalam diri Dinda, sehingga wanita itu pun tertidur.


****


Padahal mendung sudah sangat gelap menggantung di langit, tinggal menumpahkan saja air hujannya.


Mereka terus mengamat-amati sekitar, mencari tahu kalau kalau ada hal yang mencurigakan.


Hingga mata Bu Lilis menatap ke sebuah jejak kaki, yang ada di tanah kebun itu.


"Mas Dirja! ini kayak ada jejak sendal deh, Ayo Mas foto, nanti kita cari tahu sendal Siapa yang jejaknya sama dengan yang ada di tanah ini, ini kelihatannya sering lewat sini, jejaknya Kelihatan sekali padahal kan jarang ada orang yang lewat sini ya Mas, mereka pasti lewat jalan dalam kalau mau menuju ke dapur tidak memutar seperti ini!" ungkap Bu Lilis.


"Kamu benar Lis, untung aku bawa ponsel, sini aku foto dulu! Lis, sepertinya ada orang dalam rumah ini, yang berniat jahat pada keluarga ini, aku mulai curiga nih!" kata Pak Dirja.


Dia kemudian mulai mengambil beberapa foto jejak sendal itu.


"Jangan berburuk sangka dulu Mas! Siapa tahu ada orang luar yang memang sengaja memata-matai rumah ini, ya tapi tidak tahu juga sih, pokoknya kita harus tetap waspada, kasihan keluarga anak kita Mas!" sahut Bu Lilis.

__ADS_1


Jedeeeer!


Suara petir tiba-tiba terdengar menggelegar memekakkan telinga.


Spontan Bu Lilis langsung memeluk Pak Dirja, karena kaget dan takut.


Cuaca sudah terlihat semakin mendung dan gelap, sebentar lagi pasti akan turun hujan dengan lebat, karena angin bertiup cukup kencang.


"Mas sudah Mas! kita masuk kedalam yuk Mas, nanti kita akan kehujanan kalau berlama-lama disini!" seru Bu Lilis.


Pak Dirja menganggukkan kepalanya, kemudian dia langsung menggandeng tangan Bu Lilis berjalan masuk ke dalam rumah itu.


Pada saat mereka baru masuk rumah, terdengar suara hujan yang begitu lebat turun dengan derasnya dari atas langit.


"Lis, Sekarang kamu simpan foto-foto ini di ponselmu ya, nanti aku akan kirim, dan kamu harus gerak cepat mencari tahu sendal Siapa yang jejaknya sesuai dengan gambar ini!" kata Pak Dirja.


"Iya Mas, tapi kita jangan terkesan mencurigai sesuatu di rumah ini, nanti bisa-bisa kita akan ketahuan sebelum bertindak, lebih baik kita pura-pura cuek saja, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa!" sahut Bu Lilis.


Mereka kemudian mulai masuk ke dalam kamar mereka, lalu mereka duduk di tepi ranjang mereka, sambil memandang hujan yang turun begitu lebat dari jendela kamar mereka.


"Lis, sepertinya aku mencurigai satu orang yang ada di rumah ini!" kata Pak Dirja tiba-tiba.


"Siapa Mas?" tanya Bu Lilis sambil menatap kearah wajah suaminya itu.


Bersambung ....


*****


Halo guys ...


Bagi yang masih tetap setia mengikuti cerita ini, santai saja ya, kita nikmati saja alurnya, jangan terlalu dibawa tegang karena ini hanya hiburan semata.


Jangan lupa untuk selalu tetap dukung author ...


terima kasih 🥰😍🤗

__ADS_1


__ADS_2