Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Kondisi Pak Dirja


__ADS_3

Keyla sejak pertama kali melihat kondisi Pak Dirja, wajahnya nampak paling cemas dan takut.


Sudah beberapa hari lamanya dia menginap di rumah Dio, namun pulang-pulang malah drop.


Pak Dirja langsung di larikan ruang UGD dan langsung ditangani oleh beberapa tim dokter.


Keyla dan Ken, juga Bu Lilis menunggu di ruang UGD dengan wajah yang kelihatan cemas dan khawatir mengenai kondisi Pak Dirja yaitu.


"Bu, Ibu kan tahu kalau ayah itu punya penyakit, dan selama beberapa hari ini ayah bersama ibu kan? Tapi kenapa ayah bisa sampai seperti ini? memangnya sebagai istri Ibu tidak pernah mengingatkan Ayah untuk teratur meminum obatnya, atau setidaknya memperhatikan kesehatannya?" tanya Keyla sambil menatap tajam kearah Bu Lilis.


"Maafkan Ibu Nak, Ibu seringkali sudah mengingatkan ayahmu untuk baik-baik menjaga kesehatannya dan jangan terlalu lelah, namun kamu tau sendiri ayahmu bagaimana, dia begitu keras kepala dan di rumah keluarga Dio juga pada saat itu sedang ada masalah besar, sekali lagi Ibu minta maaf, mungkin Ibu memang salah!" jawab Bu Lilis menunduk.


"Sudah lah Mbak Keyla, Jangan Kau terlalu menyalakan Ibu Lilis, mungkin Ayah memang kurang istirahat, sehingga tubuhnya menjadi drop, setelah ini dia juga akan segera pulih kembali kok!" sergah Ken yang ada di samping keyla.


Keyla diam saja tanpa melanjutkan lagi pertanyaannya. Dia sadar bahwa saat ini wanita yang kini bersamanya itu adalah istri dari ayahnya.


Seorang dokter keluar dari ruangan itu, buru-buru kalau bangkit dan mendekati dokter itu untuk menanyakan kondisi ayahnya.


"Bagaimana keadaan Ayah saya dokter?" tanya Keyla.


"Tensi Pak Dirja tinggi, tekanan darah tiba-tiba naik dan asam lambungnya juga kumat, untung saja Dia segera dibawa ke rumah sakit, kalau tidak itu akan sangat membahayakan jiwanya!" jawab dokter itu.


"Tapi, Ayah saya tidak apa-apa kan?"


"Tidak, sebentar lagi dia akan di pindahkan ke ruang perawatan, selama beberapa hari ini Pak Dirja harus di rawat intensif untuk pemulihannya!" lanjut Dokter.


Kemudian tak lama dua orang perawat nampak sedang mendorong ranjang Pak Dirja untuk dipindahkan ke ruangan perawatan.


Keyla, Ken dan Bu Lilis kemudian mengikuti mereka hingga sampai di salah satu ruang perawatan yang besar.


Pak Dirja sudah dipindahkan di ruangan perawatan, wajahnya kelihatan lelah dia memejamkan matanya.

__ADS_1


Setelah membetulkan posisi dan memeriksa sebentar kondisi Pak Dirja, kedua orang perawat itu kemudian bergegas pergi meninggalkannya di ruangan itu.


Pak Dirja kelihatan mulai mengerjapkan matanya, sepertinya dia mulai sadar. Buru-buru Kelya, Ken dan Bu Lilis, berjalan mendekatinya.


"Ayah!" panggil Keyla sambil menggenggam tangan Ayahnya itu


"Nak, kenapa kalian semua di sini? Ayah tidak apa-apa, hanya butuh istirahat!" ucap Pak Dirja.


"Ayah tadi pingsan, masih bilang tidak apa-apa!" sungut Keyla.


"Ken, bawa istrimu pulang, dia lebih butuh menjaga dirinya dari pada Ayah, lagipula Ayah sudah ada Ibu yang menemani Ayah, kalian jaga cucu Ayah saja!" kata Pak Dirja.


"Tapi Ayah ..."


"Jangan membantah lagi, kalian pulang sekarang, biarkan Ayah istirahat di temani Ibu!" sergah Pak Dirja.


Akhirnya mau tidak mau, Ken kemudian menggandeng tangan Keyla untuk segera keluar dari ruangan itu, dan kembali pulang ke rumah mereka.


Lagipula di situ sudah ada Bu Lilis, istri ayahnya yang selalu menemaninya, itu sudah lebih dari cukup, bisa melihat ayahnya bahagia saja Keyla sudah senang.


****


Sementara itu, Dinda yang sedang menemani Chika bermain di ruang keluarga, nampak sedang memainkan ponselnya, berselancar di dunia maya, dan menjelajahi tentang seputar kehamilan, sambil menunggu Dio pulang ke rumah.


Banyak hal yang Dinda pelajari melalui internet, terutama tentang tumbuh kembang janin sejak dari usia 0 sampai 9 bulan, Dinda juga banyak belajar tentang bagaimana cara merawat janin sejak dalam kandungan, dan makanan apa saja yang perlu dikonsumsi oleh ibu hamil.


Dari arah depan tiba-tiba Mbak Yuyun datang mendekati mereka.


"Bu Dinda, ini surat dari bang Jarwo, katanya ada kurir yang menyampaikan surat ini untuk Bu Dinda!" kata Mbak Yuyun sambil meyodorkan sepucuk surat pada Dinda.


Dinda kemudian mengambil surat itu dari tangan Mbak Yuyun, dan perlahan mulai membuka dan membacanya dalam hati.

__ADS_1


"Dinda, kalau kamu membaca surat ini, sekali lagi aku minta maaf padamu, Walaupun mungkin kamu tidak akan pernah bisa memaafkan aku, dan tidak lagi menganggap aku sebagai sahabat!


" Aku benar-benar menyesal dan merasa sangat bersalah padamu, aku tidak pantas kamu anggap sebagai sahabat, kamu boleh membenci aku bahkan Seumur Hidupmu! Tapi jujur, dalam hidup ku Kamulah satu-satunya sahabat terbaik, Maafkan aku Dinda! Maafkan Aku!" - Asti -


Tiba-tiba ada yang mengalir di pelupuk mata Dinda dan membasahi pipinya.


Meskipun pada saat itu hati Dinda begitu sakit dan perih, karena dia telah dikhianati oleh sahabatnya sendiri, bahkan ditikam nya dari belakang.


Sahabat yang dia sudah anggap sebagai saudara tapi justru menjadi musuh dalam selimut.


Sesungguhnya dalam hati Dinda, dia tidak pernah bersungguh-sungguh membenci Asti.


"Mama kenapa menangis?" tanya Chika yang tiba-tiba sudah ada ada di hadapan Dinda.


"Tidak apa-apa Chika, Chika sudah selesai belum bermainnya? Kalau sudah selesai, kita tunggu papa di teras depan yuk! Sebentar lagi papa pasti akan pulang!" jawab Dinda.


"Sudah kok! Yuk Ma!" sahut Chika.


Dinda tersenyum, kemudian dia berdiri dan menuntun Chika berjalan ke arah teras depan rumah mereka.


Mereka kemudian duduk di bangku teras itu, menunggu kepulangan Dio dari kantornya.


"Mama, kata Papa aku masih punya Nenek di Papua, dan aku sangat ingin bertemu dengan nenekku dan saudara-saudaraku dari mama dulu, dari mama Ranti!" kata Chika tiba-tiba.


Dinda terhenyak mendengar ucapan dari Chika, dia sadar bahwa Chika sepenuhnya bukanlah milik Dio dan dirinya.


Chika adalah anak Ranti, anak mama kandungnya, dan semua saudara-saudaranya dari pihak Mamanya itu juga berhak menjalin hubungan dengan Chika.


Kemudian pintu gerbang nampak dibuka oleh Bang Jarwo, dan mobil Dio mulai masuk dan berhenti di garasi depan rumahnya itu.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2