
Hari ini telah dilangsungkan acara pernikahan Bu Lilis dan Pak Dirja, di tempat kediaman Pak Dirja.
Acara pernikahan itu dilaksanakan secara sederhana, mengingat usia mereka yang tak lagi muda, ditambah juga dengan masalah-masalah yang sedang mereka hadapi saat ini, sehingga mereka tidak merayakannya secara besar-besaran, yang penting kini keduanya telah resmi menjadi suami-istri.
Mereka kini bersanding di sebuah pelaminan, di rumah Pak Dirja, yang dihadiri oleh beberapa kerabat dan saudara saja.
Mereka sengaja tidak mengundang orang banyak, karena ditakutkan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, mengingat mereka baru saja menghadapi suatu masalah yang besar, dan bahkan sampai saat ini juga belum terpecahkan.
Wajah Pak Dirja dan Bu Lilis nampak sangat bahagia, setelah puluhan tahun mereka saling memendam rasa, kini semuanya ini terwujud dalam suatu pernikahan yang suci, mereka benar-benar bersatu.
Dulu hubungan mereka adalah hubungan yang terlarang, namun sekarang mereka sudah memiliki satu keluarga besar, bahkan anak-anak Mereka pun sudah berkeluarga, mereka merajut kasih mereka dengan kebahagiaan.
Setelah hampir seharian menghadiri acara pernikahan, Dio dan Dinda juga Chika, berniat akan pulang ke rumah Mereka, karena Dinda yang terlihat sangat kelelahan, setelah membantu di acara pernikahan Ibunya.
"Bu, kami pamit ya, selamat berbahagia dengan Ayah!" ucap Dinda sambil memeluk Ibunya itu.
"Iya Nak, kamu juga, jaga keluarga kecilmu, ingat, jaga juga kesehatan di perutmu, supaya kamu bisa segera hamil!" kata Bu Lilis.
"Iya Bu, Mudah-mudahan, aku juga berharap begitu!" ucap Dinda.
Mulai hari ini setelah Bu Lilis menikah dengan Pak Dirja, Bu Lilis tinggal di rumah Pak Dirja menjadi istrinya.
Dia tinggal bersama dengan Keyla dan Ken, sekarang status Bu Lilis adalah menjadi Nyonya Dirja, seorang istri yang sepenuhnya dan seutuhnya.
Hingga malam menjelang, acara pernikahan pun telah usai, Pak Dirja membimbing Bu Lilis masuk ke dalam kamar pengantinnya.
Kamar yang didekorasi dengan sederhana, sesuai dengan umur mereka, namun masih nampak terlihat elegan dan estetik.
Bu Lilis nampak sungkan, sebab ini adalah pertama kalinya Dia tidur bersama dengan Pak Dirja, setelah kejadian kecelakaan puluhan tahun lalu.
Saat mereka pernah berbuat khilaf, berbuat satu kesalahan yang mengakibatkan hadirnya Dinda dalam rahim Bu Lilis.
__ADS_1
Namun kini semua telah berlalu, mereka kini telah sah menjadi suami istri, dan akan kembali melakukan sesuatu yang dulu pernah mereka lakukan.
"Ada apa Lis? Kau nampak gelisah sekali!" tanya Pak Dirja yang melihat Bu Lilis begitu canggung dan salah tingkah.
"Ah, tidak apa-apa Pak!" sahut Bu Lilis tersipu.
"Mulai hari ini, jangan lagi panggil aku Pak, panggil saja Mas Dirja!" ucap Pak Dirja sambil menggenggam hangat tangan Bu Lilis yang terasa dingin dan kaku.
"Ah, tapi Pak ..."
"Lho kok Pak lagi, Mas sayang, Mas Dirja, kita jangan kalah sama anak-anak kita, kita juga bisa romantis dan Hot!" bisik Pak Dirja.
Bulu kuduk Bu Lilis meremang seketika, tatkala kumis Pak Dirja menempel di telinga Bu Lilis.
Bu Lilis hanya bisa memejamkan matanya, merasakan sentuhan Pak Dirja yang kini telah menjadi suaminya itu.
"Ayo Lis, kita mandi bersama ya, abaikan saja kulit kita yang sedikit keriput, tapi kau harus percaya, aku masih gagah, aku masih seperti yang dulu!" ucap Pak Dirja.
*****
Sementara itu di tempat kediaman Dio, setelah membersihkan tubuhnya, Dinda dan Dio kemudian mulai membaringkan tubuh mereka di tempat tidur.
Kegiatan seharian ini sangat melelahkan, Chika juga sudah tertidur sejak di mobil tadi dan suster Anna sudah mengangkatnya ke kamarnya dan membersihkan tubuhnya serta mengganti pakaiannya.
"Mas, Kepalaku pusing!" ucap Dinda.
Dio menoleh, wajah Dinda nampak pucat.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dio cemas.
"Entah Mas, badanku sudah tidak enak sejak di rumah Ayah tadi!" jawab Dinda.
__ADS_1
"Hmm, kita ke Dokter besok pagi!" kata Dio sambil menyelimuti Dinda.
"Cuma kecapean, gak usah ke Dokter lah Mas!" tukas Dinda.
"Pokoknya ke Dokter, besok pagi aku off!" sahut Dio.
"Tuh kan, cuma hal sepele Mas Dio kembali mengabaikan pekerjaan kantor!" sungut Dinda.
"Sepele kamu bilang?? Kesehatan istriku prioritas yang pertama!" sahut Dio.
"Tapi pekerjaanmu juga penting!"
"Sudahlah, besok sehabis ke Dokter, aku langsung ke kantor!" kata Dio.
Dinda diam saja, tak berani lagi membantah ucapan suaminya itu, Dio pasti tidak akan mau kalah, apalagi saat ini Dinda memang benar-benar tidak enak badan.
Karena lelah dan malam semakin mencekam, Dinda dan Dio akhirnya terbuai dalam alam mimpi.
Sementara itu, Chika yang sudah tidur di kamarnya nampak terbangun saat mendengar ada suara dari balik jendela kamarnya.
Anak itu mulai mengerjapkan matanya, dan bangun dari tidurnya, lalu dia berjalan ke arah jendela, dan menyibakkan tirai nya.
Matanya membulat saat melihat ke arah luar jendela, seorang wanita berdiri sambil menatapnya dan tersenyum ke arah Chika.
"Mama!" pekik Chika.
Seperti ada sesuatu yang mendorongnya, Chika bergegas keluar dari kamarnya melalui jendela kamarnya yang terbuka.
Bersambung...
****
__ADS_1